Menolak Kebenaran adalah Kesombongan

Sifat sombong adalah sifat tercela menurut syariat, akal, maupun fitrah. Orang yang sombong tidak akan masuk surga. Karena surga itu mulia tidak layak bagi orang yang hina. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih ada kesombongan walaupun sebesar biji dzarrah.” Seorang sahabat kemudian bertanya: “Sesungguhnya ada orang ada orang yang senang apabila pakaian dan sandalnya bagus.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud dengan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim: 91)

Selama ini mungkin kita mengira bahwa sombong hanyalah jika merendahkan harkat dan martabat orang lain, menepuk dada karena kelebihan yang ada pada diri kita. Padahal, menolak kebenaran itu pun adalah sebuah kesombongan.

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita menolak kebenaran lantaran kebenaran itu terasa asing dan bertolak belakang dari apa yang kita pahami selama ini. Ingat, kebenaran tetaplah kebenaran meski kadang datang dari orang yang kita benci. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

قَالَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ: اقْبَلِ الحَقَّ مِمَّنْ قَالَهُ وَإِنْ كَانَ بَغِيْضًا. وَرُدَّ البَاطِلَ مِمَّنْ قَالَهُ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا

Sebagian sahabat mengatakan: “Terimalah kebenaran dari orang yang mengucapkannya meskipun dia adalah orang yang dibenci. Dan tolaklah kebatilan dari orang yang mengucapkannya meskipun ia adalah orang yang dicintai.” (Madarijus Salikin: 3/482)

Oleh sebab itu, ikutilah kebenaran meski terasa asing dan berat, meski datang dari orang yang dibenci, ambil dan jangan sampai ditolak. Ingat, menolak kebenaran adalah sebuah kesombongan. Dan orang yang sombong tidak akan masuk surga.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke LIPIA Jakarta Jurusan Syariah. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !