Pertolongan Allah Kepada Umat Islam

Kemuliaan umat ini dan pertolongan Allah untuk mereka terletak pada ketaatan mereka kepada Allah. Karena itulah yang membedakan mereka nantinya dengan musuh-musuh. Di saat musuh mereka melakukan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah mereka justru taat. Sehingga dengan sebab itulah mereka ditolong dan dimenangkan. Said bin Al-Musayyib rahimahullah mengatakan:

وَكَفَى بِالْمُؤْمِنِ نُصْرَةً مِنَ اللهِ أَنْ يَرَى عَدُوَّهُ يَعْمَلُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ

“Cukuplah seorang mukmin mendapat pertolongan dari Allah bila dia melihat musuhnya melakukan kemaksiatan kepada Allah.” (Hilyah Al-Auliya’: 2/164)

Karenanya, jika umat ini telah turut pula dalam maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka, maka jangan harap kemulian, kemenangan, dan pertolongan akan diberikan oleh Allah kepada mereka. Karena mereka dan musuh-musuh mereka tiada berbeda. Bahkan, ketika mereka telah bergelimang dengan maksiat maka Allah akan memberikan kehinaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah, mengekor hewan ternak, terbuai dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan. Ia tidak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud: 3462)

‘Inah adalah salah satu di antara sistem ribawi. Sedang riba adalah dosa besar, maksiat kepada Allah. Dosa dan maksiat yang terkenal dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Maka artinya jika umat ini masih larut dalam sistem riba maka mereka tidak akan bisa keluar dari kehinaan. Karena mereka telah turut pula bermaksiat persis sama dengan musuh-musuh mereka.

Oleh karenanya, mengembalikan kemuliaan umat dan mendapat pertolongan Allah adalah dengan cara mengembalikan umat itu sendiri ke agamanya yang murni. Jangan sampai bermaksiat kepada Allah. Kembali belajar, duduk di majelis taklim, mengkaji akidah yang benar serta hukum halal haram untuk diamalkan. Jika sudah demikian, maka Allah akan angkat kehinaan itu dan memberikan kemuliaan dan pertolongan.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !