Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / PUASA DAN KETENANGAN (RMD Art.004)

PUASA DAN KETENANGAN (RMD Art.004)

Satu hal yang kejar-kejar oleh orang-orang zaman sekarang. Di saat kehidupan semakin membuat penat dan membosankan. Hal itu tidak lain adalah “ketenangan.”
Bahkan, bagi sebagian orang, terlebih mereka yang tinggal di kota-kota besar, “ketenangan” lebih berharga dari apa yang mereka punya. Kehidupan yang penuh dengan situasi yang bermuatan “stressor” apakah dalam bentuk tekanan, frustasi ataukah konflik dan seterusnya membuat mereka lelah. Makanya tidak heran, jika tempat-tempat “meditasi” sekarang kian diminati.
Padahal, dalam Islam tidak perlu jauh-jauh, cukup dengan “Puasa.” Inilah salah satu manfaat puasa yang tidak banyak diketahui orang, yaitu puasa dapat menjernihkan hati dan pikiran.
Dengan meninggalkan berbagai kenikmatan dan keinginan jiwa dengan berpuasa, pikiran dan hati akan menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikiran akan terpusat untuk dzikir dan beribadah. Sebaliknya, banyak makan dan minum akan membuat hati lalai dan sibuk. Bahkan, tidak mustahil membuat hati menjadi keras dan gersang. Ibrahim bin Adham pernah mengatakan:
مَنْ ضَبَطَ بَطْنَهُ ضَبَطَ دِينَهُ، وَمَنْ مَلَكَ جُوعَهُ مَلَكَ الْأَخْلَاقَ الصَّالِحَةَ، وَإِنَّ مَعْصِيَةَ اللَّهِ بَعِيدَةٌ مِنَ الْجَائِعِ، قَرِيبَةٌ مِنَ الشَّبْعَانِ، وَالشِّبَعُ يُمِيتُ الْقَلْبَ، وَمِنْهُ يَكُونُ الْفَرَحُ وَالْمَرَحُ وَالضَّحِكُ
“Barang siapa yang mampu menahan perutnya akan mampu menjaga agamanya. Barang siapa dapat menguasai rasa lapar akan meraih akhlak mulia, karena maksiat kepada Allah sangat jauh bagi orang yang lapar dan sangat dekat bagi yang kenyang. Kenyang dapat mematikan hati karena orang yang kenyang akan banyak senang, gembira, dan tertawa.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 2/473)
Sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْن
“Tidak ada wadah yang paling buruk yang dipenuhi oleh seorang anak Adam selain perutnya.” (HR. Tirmidzi: 2380)
Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita harus mengetahui hikmah yang satu ini. Sehingga dengan begitu, kita tidak butuh lagi terhadap program-program meditasi yang banyak ditawarkan di zaman sekarang. Cukup dengan berpuasa, in syaa Allah kita akan mendapatkan ketenangan jiwa.

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Siapa Pendidik Pertama Buat Balita?

Anak kecil pada umumnya lebih banyak berdiam di rumah bersama ibu dan keluarga daripada dia …

Tulis Komentar