Beranda / Ramadhan Mubarak / Salafus Shalih di Ramadhan – Makna Salafus Shalih & Pentingnya Meneladani Mereka

Salafus Shalih di Ramadhan – Makna Salafus Shalih & Pentingnya Meneladani Mereka

Salaf secara bahasa maknanya adalah yang terdahulu (nenek moyang) yang lebih tua dan lebih utama. Salaf berarti pada pendahulu. Semua orang yang telah mendahului kita dalam ke-hidupan ini disebut salaf, baik dia shalih atau pun tidak. Ketika digandengakan dengan kata shalih maka makna yang kita maksudkan adalah para pendahulu kita yang shalih saja.

Adapun secara istilah, salaf adalah sebagai-mana yang dikatakan oleh para ulama. Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql berkata:

السَّلَفُ هُمْ صَدْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الهُدَى فِي القُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ المُفَضَّلَةِ، وَيُطْلَقُ عَلَى كُلِّ مَنِ اقْتَدَى بِهَؤُلَاءِ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ فِي سَائِرِ العُصُوْرِ: سَلَفِيٌّ نِسْبَةٌ إِلَيْهِمْ

Salaf adalah para pemuka (hidup di awal mula) umat (Islam) ini dari kalangan para sahabat Nabi, Tabi’in serta imam-imam yang hidup di tiga za-man yang mulia. Dan kata ini dimutlakkan pula untuk setiap orang di semua zaman yang menela-dani mereka serta berjalan di atas cara beragama mereka. Salafi adalah penisbatan kepada mere-ka.[1]

Sehingga yang kita maksudkan dengan Salafus Shalih adalah Rasulullah, para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti langkah tiga generasi tersebut, karena tiga generasi ini adalah generasi paling terbaik. Manusia-manusia yang hidup di zaman tersebut adalah orang-orang pilihan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah n:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الًّذِينَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di zamanku (para sahabat), kemudian sete-lahnya (Tabi’in) dan kemudian yang setelahnya (Tabi‘ut Tabi’in).”[2]

Para sahabat adalah orang-orang yang wajib dijadikan teladan dalam hidup beragama. Karena mereka adalah generasi pilihan yang hidup berbaur bersama Nabi terakhir. Mereka menyaksikan secara langsung wahyu yang turun dari langit, mendengar langsung wahyu itu dan penjelasannya dari Nabi, sehingga merekalah generasi yang paling paham terhadap agama. Mereka adalah generasi yang dijamin selamat, kaki mereka masih menyentuh tanah dunia akan tetapi nama mereka telah tercatat sebagai penduduk surga.

Ibarat seorang yang mengarungi hutan belantara, jika ia ingin selamat tentu hendaknya ia harus mengikuti dan menempuh jalan orang-orang yang telah pernah mengarunginya dan berhasil selamat. Dunia ini ibarat belantara yang lebat dan menyesatkan, kita yang ditakdirkan mengarunginya hari ini, jika ingin selamat maka titilah jalan para sahabat, generasi yang telah selamat. Oleh sebab itulah, syari’at memerintahkan kita untuk mengikuti mereka dalam beragama, se-bagaimana firman Allah:

 وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Ka-mi biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah tem-pat kembali yang paling buruk. (QS. An-Nisa’: 115)

Jalan orang-orang yang mukmin yang disebutkan dalam ayat itu jelas utamanya adalah para sahabat Nabi karena merekalah orang-orang yang pertama beriman dari umat ini.

Allah juga berfirman:

 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan me-reka pun ridha kepada Allah dan Allah menyedia-kan bagi mereka surga-surga yang mengalir su-ngai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalam-nya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini jelas menunjukkan keutamaan para sahabat baik dari kalangan Muhajirin mau pun Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi Tabi’in, Tabiut Tabi’in dan setelahnya. Mereka adalah generasi yang diridhai oleh Allah.

Meneladani mereka adalah jalan keselama-tan. Oleh karena itulah, Imam Ahmad bin Hanbal salah seorang ulama besar Islam, murid dekat Imam Asy-Syafi’i sekaligus imam salah satu mazhab dari 4 madzhab yang terkenal yaitu mazhab Hanbali, menegaskan:

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ ، وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ

Pokok-pokok akidah menurut kami (Ahlussunnah) adalah: Berpegang teguh pada ajaran sahabat Rasulullah n dan meneladani mereka.

Di pembahasan ini, kita akan menilik sedikit bagaimana potret Salafus Shalih ketika berada di bulan Ramadhan. Mereka adalah manusia pilihan yang paling bersemangat dalam kebaikan. Mudah-mudahan dengan membaca kisah-kisah mereka ini, kita dapat meneladani mereka. Sehingga kita pun menjadi orang-orang yang beruntung seperti mereka.

Baca juga Artikel

Ramadhan Mubarak

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

_____________________________________

[1]     Mujmal Ushul Ahlissunnah Wal Jama’ah fi Al-‘Aqidah: 5

[2]     HR. Bukhari: 2651, Muslim: 2535

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Menyingkap Rahasia Do’a Lailatul Qadar

Di antara do’a yang dianjurkan untuk diperbanyak membacanya di malam-malam yang diharapkan terjadi Lailatul Qadar …

Tulis Komentar

WhatsApp chat