Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Sudahkah Orang Tua Mendoakan Anaknya?

Sudahkah Orang Tua Mendoakan Anaknya?

Setiap muslim tentu berharap mempunyai anak yang shalih dan shalihah. Sayangnya, kita terkadang lupa atau tidak mau tahu, bagaimana menjaga anak yang berfitrah suci ini agar tetap suci. Atau bahkan bertambah baik dengan pendidikan islami yang diridhai oleh Allah tabaraka wata’ala.

Dari sisi lain, ketika anak “nakal”, sulit dinasihati dan enggan diarahkan kepada yang benar, orang tua kehilangan akal, bahkan hanya bisa lari pontang-panting disertai kepanikan, tapi lupa kepada Allah yang menciptakan dan yang memberi hidayah. Maka inilah kesalahan yang harus dipahami.

Doa adalah wasilah utama untuk keshalihan anak

Mengapa demikian? Karena hanya Allah azza wajalla yang menciptakan dan yang menentukan baik buruknya anak. Bukankah saat kita dalam shalat, tatkala membaca surat al-Fatihah juga memohon hidayah kepada Allah menuju jalan yang lurus? Lalu, sudahkah kita memohonkan kepada Allah untuk anak- anak kita? Bukankah sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu memberitahukan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga sering berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu.” (HR. Tirmidzi: 8/280, dishahihkan oleh al-Albani)

Sudahkah kita sering berdoa dengan doa ini, dan sudahkah kita mendoakan anak kita agar mendapat hidayah? Sudahkah kita berdoa kepada Allah untuk kebaikan diri kita dengan doa ini?

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Āli ‘Imrān: 8)

Jika kita dianjurkan agar memohon petunjuk dan istiqamah di atas yang haq untuk diri kita, maka bagaimana dengan anak kita yang hidupnya sangat awam dan hidup di tengah penyakit syubhat dan syahwat?

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan yang demikian itu karena doa adalah sebab terkuat untuk menolak sesuatu yang dibenci dan memperoleh yang dicari. Tetapi doa punya pengaruh yang berbeda. Ada kalanya karena lemahnya jiwa, seperti seseorang berdoa dalam hal yang tidak disenangi oleh Allah karena adanya permusuhan, ada kalanya lemah hatinya, tidak serius menghadap kepada Allah. Itu bagaikan busur yang sangat lembek, sehingga anak panak yang meluncur lemah sekali. Atau orang yang berdoa ini tidak dikabulkan karena makan dari hasil yang haram, mendzalimi orang, kotor hatinya, sering melupakan ibadah, gemar main-main, seperti hadits yang dijelaskan oleh Imam al-Hakim,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kamu kepada Allah dengan hati yang penuh keyakinan, bahwa Allah akan mengabulkannya. Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan pelupa.’” (Al-Mustadrak, al-Hakim: 4/364, dishahihkan oleh al-Albani)

Begitulah ulama mengingatkan pentingnya kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, terutama saat kita mendapatkan musibah, seperti anak nakal. Namun kita tidak cukup hanya berdoa, memanggil Allah, tetapi juga harus menjauhi penghalang terkabulnya doa. Di antaranya, hati benar-benar serius memohon kepada Allah, disertai tekun beribadah menjalankan yang wajib dan sunnah, menjauhi yang haram, makan dan minum kita dari hasil yang halal, dan tidak terburu-buru meminta dikabulkan, dan masih banyak persyaratan lain yang menjadi sebab dikabulkan doa.

Doa untuk keshalihan anak

Setelah kita memahami pentingnya doa orang tua untuk keshalihan anaknya, maka doa yang harus kita baca adalah doa yang diperintahkan oleh Allah azza wajalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bukan doa katanya orang atau katanya kita. Oleh karena itu, kita wajib mengetahui kemudian mengamalkan doa yang “ma’tsur” (ada asalnya dari syari’at).

Doa setelah menikah

Orang yang baru menikah hendaknya memohon kebaikan kepada Allah subhanahu wata’ala atas istri yang dinikahinya dan berlindung dari kejelekannya. Karena istri berhubungan kuat dengan buah hati yang akan lahir nanti. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu menikahi seorang perempuan atau membeli budak, hendaklah mengucapkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. (HR. Abu Dawud: 6/380)

Doa saat mau berhubungan dengan istri

Suami istri pada saat akan berhubungan hendaknya berlindung kepada Allah, agar tidak diganggu oleh setan, dan buah hati yang diharapkan tidak diganggu juga. Bacalah doa:

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami.” Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata, “Siapa yang mendatangi istrinya lalu membaca doa ini, dan dikaruniai anak, tidaklah setan membahayakan baginya.” (HR. Bukhari: 1/256)

Memohon perlindungan kepada Allah buat buah hati yang baru lahir

Setan musuh manusia yang nyata, anak kecil pun tidak lepas dari godaannya. Bahkan ketika lahir, anak kecil menangis karena disentuh oleh setan. Karenanya orang tua perlu memohon perlindungan kepada Allah untuk anaknya, agar tidak digoda oleh setan manusia dan jin. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa untuk perlindungan al-Hasan dan al-Husain, beliau berkata:

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ.

“Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setan, binatang yang berbisa, dan ‘ain yang menimpanya.” (HR. Bukhari: 3/1233)

Juga seperti doa ibunda Maryam untuknya dalam QS. Āli ‘Imrān ayat 36.

Orang tua hendaknya berdoa untuk kebaikan diri dan anaknya

Orang tua yang ingin mendapatkan anak yang shalih dan shalihah sering membaca doa semisal Nabi Zakaria alaihissalam berikut:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. (QS. Āli ‘Imrān: 38)

Atau semisal doa Nabi Ibrahim alaihissalam saat memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. (QS. ash-Shāffāt: 100)

Juga doa hamba yang dirahmati oleh Allah (‘Ibadur Rahman):

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqān: 74)

Doa agar anak diberi ilmu dan pemahaman agama

Anak perlu didoakan agar mendapatkan ilmu agama dan mampu memahami syari’at. Karena ilmu bekal utama kebaikan anak di dunia dan di akhiratnya, dan tidak cukup didoakan, tetapi disekolahkan pula di madrasah yang mengajarkan agama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendoakan anak pamannya (Ibnu Abbas) dengan doa yang terkenal:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkan dia kepada agama (Islam) ini dan berilah dia ilmu tafsir.” (HR. Ahmad: 5/465, dishahihkan oleh al-Albani dan sebagian lafalnya diriwayatkan oleh Bukhari)

Berdoa agar diri dan anaknya dijauhkan dari kesyirikan

Syirik adalah dosa yang paling besar. Tidak akan diampuni kecuali pelakunya meminta ampun, dapat menghapus amal shalih, serta dimasukkan dalam neraka selamanya. Agar diri dan anak kita tidak terjerumus kepada syirik, hendaknya kita dan anak kita menuntut ilmu serta berdoa semisal doa Nabi Ibrahim untuk diri dan anaknya:

رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. (QS. Ibrāhīm: 35)

Berdoa agar anaknya mendirikan shalat

Karena shalat adalah kewajiban setiap muslim setelah syahadat. Orang tua hendaknya bedoa kepada Allah agar diri dan anaknya dimudahkan untuk mendirikan shalat, sebagaimana doa Nabi Ibrahim alaihissalam :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

Wahai Rabbku, jadikan aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrāhīm: 40)

Jangan mendoakan kejelekan kepada anak

Saat orang tua dihadapkan kepada kenakalan anaknya, tidak mau menerima nasihat, biasanya muncul emosinya. Bahkan dengan sadar atau tidak, kadang terlontar doa yang jelek buat anaknya. Ini adalah kesalahan fatal. Bukan memperbaiki anak, tetapi bisa jadi merusaknya, bahkan akan datang bala’ (bencana), karena Allah Maha Mengabulkan doa. Karena itu Rasulullah melarang kita mendoakan jelek kepada anak. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian, anak-anak kalian dan harta kalian. Karena boleh jadi (waktu) itu bertepatan dengan saat pemberian Allah, sehingga permohonanmu itu dikabulkan.” (HR. Muslim: 8/232)

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa doanya orang yang sedang marah, boleh jadi dikabulkan apabila bertepatan pada saat dikabulkan doa. Karena itu hendaknya kita tidak mendoakan jelek, kepada diri kita, anak, keluarga, dan harta pada saat kita marah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 17/17)

Semua doa di atas tentu tidak lepas dari adab dan persyaratan terkabulnya doa. Semoga kita dimudahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk memenuhi syarat diterimanya doa, dan menjadi orang yang baik di dunia dan akhirat. Demikian juga anak kita. Aamiin…

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Empat Macam Redaksi Do’a Bangun Tidur

Berdo’a ketika bangun dari tidur adalah sebuah hal yang disyari’atkan. Meski hukumnya tidak sampai wajib, …

Tulis Komentar

WhatsApp chat