Syarhus Sunnah – #17 Memandang Wajah Allah

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah Ahlussunnah seputar Memandang wajah Allah di akhirat nanti bagi seorang mukmin

Imam Al-Muzani mengatakan:

فَهُمْ حِينَئِذٍ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْظُرُونَ ، لَا يُمَارُونَ فِي النَّظَرِ إِلَيْهِ وَلَا يَشْكُونَ ، فَوُجُوهُهُمْ بِكَرَامَتِهِ نَاضِرَةٌ وَأَعْيُنُهُمْ بِفَضْلِهِ إِلَيْهِ نَاظِرَةٌ ، فِي نَعِيْمٍ دَائِمٍ مُقِيْمٍ وَ ﴿لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ﴾ ، ﴿أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِيْنَ النَّارُ ﴾ وَأَهْلُ الْجَحْدِ ﴿عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ﴾ وَفِي النَّارِ يُسْجَرُوْنَ ﴿لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُم أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالدُونَ﴾ و ﴿لَا يُقْضَى عَلَيْهِم فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِك نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ﴾ خَلَا مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الْمُوَحِّدِينَ إِخْرَاجَهُمْ مِنْهَا

Mereka pada hari itu memandang wajah Rabb mereka, tidak bimbang dan ragu dalam memandang-Nya. Wajah-wajah mereka berseri dengan kemulian dari-Nya, mata mereka memandang kepada-Nya dengan fadhilah yang diberikan-Nya. Mereka berada pada kenikmatan yang kekal dan terus-menerus. Dan mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya. ﴿, Makanan dan naungan untuk mereka selalu ada. Itulah balasan bagi orang yang bertakwa sedangkan balasan orang-orang kafir adalah nereka. ﴿Para penentang (perintah Allah) mereka pada hari itu terhalang dari memandang wajah Allah﴿, ﴾Mereka dibakar di dalam api. ﴿ ﴾Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah atas mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan. ﴿dan Mereka tidak dibinasakan sehingga mati dan tidak pula diringan untuk mereka adzab. Demikianlah Kami beri balasan setiap orang yang amat kafir.﴿ Kecuali bagi yang Allah kehendaki dari kalangan orang-orang yang bertauhid, Allah keluarkan mereka dari neraka.

Pelajaran Berharga dan Penjelasan

Dari ucapan Imam Al-Muzani ini ada beberapa faidah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik, yaitu:

Pelajaran Pertama: Memandang wajah Allah adalah puncak kenikmatan surga.

Kenikmatan surga bertingkat-tingkat dan yang paling tinggi yang merupakan puncaknya adalah melihat wajah Allah. Hal ini berdasarkan banyak dalil di antaranya firman Allah:

 لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26)

Dan yang dimaksud dengan tambahan dalam ayat ini puncaknya adalah melihat wajah Allah. [1] Hal ini berdasarkan penjelasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ – قَالَ – يَقُولُ اللهتَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ – قَالَ – فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Apabila penduduk surga telah masuk ke surga, Allah berkata: “Apakah kalian menginginkan tambahan sesuatu dari-Ku?” Mereka menjawab: “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan Engkau selamatkan kami dari neraka?” Lalu Allah membuka hijab (penghalang), maka tidak ada satu pun pemberian yang lebih mereka cintai dari melihat wajah Allah. [2]

Allah berfirman menghikayatkan kebahagiaan orang-orang yang memandang wajah-Nya nanti di akhirat:

 وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. al-Qiyamah: 22-23)

Pelajaran Kedua: Orang mukmin akan memandang wajah Allah sedangkan orang kafir terhalang

Sebagaimana firman Allah:

 كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (QS. Al-Muthaffifin: 15)

Pelajaran Ketiga: Penduduk surga kekal di dalam surga dan orang-orang kafir akan kekal di dalam nereka

Sebagaimana firman Allah:

  إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ  إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al-Bayyinah: 6-8)

Orang kafir tidak akan diringankan adzabnya sedikitpun. Allah berfirman:

 وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُم مِّنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. (QS. Fathir: 36-37)

Pelajaran Keempat: Ahlu Tauhid (orang-orang yang mentauhidkan Allah) yang masuk neraka tidak kekal di dalamnya

Mereka di neraka sementara, Allah akan mengeluarkan mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga. Hal ini menyelisihi akidahnya orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka. Akidah Ahlussunnah ini dibangun di atas banyak dalil, di antara nya hadits dari Anas bin malik dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ

“Ada sekelompok kaum yang wajahnya terlihat kehitam-hitaman keluar dari neraka setelah di lahap api, kemudian mereka masuk surga, penghuni surga menjuluki mereka jahannamiyun (mantan penghuni jahannam).” [3]

Demikian pula hadits dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُدْخِلُ اللهأَهْلَ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ بِرَحْمَتِهِ وَيُدْخِلُ أَهْلَ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ انْظُرُوا مَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا حُمَمًا قَدْ امْتَحَشُوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَاةِ أَوْ الْحَيَا فَيَنْبُتُونَ فِيهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ إِلَى جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَوْهَا كَيْفَ تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً

“Allah memasukkan penduduk surga ke surga, Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki dengan rahmatNya, dan memasukkan penduduk neraka ke neraka. Kemudian Allah berfirman: ‘Lihatlah oleh kalian, siapa yang kalian dapati dari mereka terdapat sebiji sawi keimanan dalam hatinya maka keluarkanlah.’ Lalu mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan hangus terbakar. Mereka telah terbakar, lalu dilemparkan ke sungai kehidupan, atau hidup. Lalu mereka tumbuh sebagaimana benih tumbuh di sisi buih. Tidakkah kalian melihat bagaimana dia keluar kuning bengkok.” [4]

Bantahan terhadap keyakinan Khawarij tanpak jelas dalam kisah terkait hadits berikut. Dari Yazid al-Faqir (seorang Tabi’in) dia berkata:

كُنْتُ قَدْ شَغَفَنِي رَأْيٌ مِنْ رَأْيِ الْخَوَارِجِ فَخَرَجْنَا فِي عِصَابَةٍ ذَوِي عَدَدٍ نُرِيدُ أَنْ نَحُجَّ ثُمَّ نَخْرُجَ عَلَى النَّاسِ قَالَ فَمَرَرْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَإِذَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَالِسٌ إِلَى سَارِيَةٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِذَا هُوَ قَدْ ذَكَرَ الْجَهَنَّمِيِّينَ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِي تُحَدِّثُونَ وَاللهيَقُولُ ﱡﭐ ﲝ ﲞ ﲟ ﲠ ﲡﲢ ﱠ   وَ ﱡﭐ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﱠ    فَمَا هَذَا الَّذِي تَقُولُونَ قَالَ فَقَالَ أَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَام يَعْنِي الَّذِي يَبْعَثُهُ اللهفِيهِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهعَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَحْمُودُ الَّذِي يُخْرِجُ اللهبِهِ مَنْ يُخْرِجُ قَالَ ثُمَّ نَعَتَ وَضْعَ الصِّرَاطِ وَمَرَّ النَّاسِ عَلَيْهِ قَالَ وَأَخَافُ أَنْ لَا أَكُونَ أَحْفَظُ ذَاكَ قَالَ غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ زَعَمَ أَنَّ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا فِيهَا قَالَ يَعْنِي فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ عِيدَانُ السَّمَاسِمِ قَالَ فَيَدْخُلُونَ نَهَرًا مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُونَ فِيهِ فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ الْقَرَاطِيسُ فَرَجَعْنَا قُلْنَا وَيْحَكُمْ أَتُرَوْنَ الشَّيْخَ يَكْذِبُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعْنَا فَلَا وَاللَّهِ مَا خَرَجَ مِنَّا غَيْرُ رَجُلٍ وَاحِدٍ

“Dahulu aku telah terpengaruh dengan pemikiran Khawarij, kemudian kami keluar dalam sebuah rombongan besar untuk melaksanakan haji. Ketika kami keluar dan melewati madinah, ternyata Jabir bin Abdullah sedang menceritakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada suatu kaum sambil bersandar pada sebuah tiang.” Yazid al Faqir berkata lagi, “Tiba-tiba dia menyebutkan al-Jahannamiyyin.” Maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kau ceritakan! Padahal Allah berfirman: ‘(Sesungguhnya barangsiapa yang Kamu masukkan ke dalam neraka, maka sungguh kamu telah menghinakannya) ‘ (Qs. Ali Imran: 192), dan ayat: ‘(Setiap kali mereka berkeinginan untuk keluar darinya, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya) ‘(Qs. As-Sajadah: 20) Apa yang kalian katakan ini? ‘Jabir menjawab, ‘Apakah kalian membaca al-Qur’an?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Jabir bertanya, ‘Apakah kamu mendengar kedudukan Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu memberikan syafa’at yang mana Allah mengutusnya di dalamnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Jabir lalu berkata, ‘Maka itulah kedudukan Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang terpuji, dengannya Allah mengeluarkan orang yang dia keluarkan (dari neraka).’ Yazid berkata, ‘Kemudian Jabir memperagakan peletakan shirath, dan manusia lewat di atasnya.’ Kata Yazid, ‘Dan aku sangat khawatir tidak selamat dari hal tersebut. Hanya saja Jabir tetap berkeyakinan bahwa sekelompok kaum pasti akan keluar dari neraka, setelah mereka tinggal beberapa lama.’ Kata Jabir, ‘Maksudnya mereka keluar seakan-akan tongkat arang yang hitam kelam.’ Kata Jabir meneruskan, ‘Lalu mereka masuk salah satu sungai surga, mereka mandi di dalamnya, mereka keluar dari sungai seakan-akan kertas (putih).’ Dan kami pun pulang. Kami berkata, ‘Celaka kalian, apakah kalian mengira bahwa syaikh ini berdusta atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam!.’ Kami pun kembali (bertaubat). Demi Allah, tidak ada yang keluar dari kami melainkan hanya satu orang. [5]

Baca juga Artikel

Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

_________________________________

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 4/262

[2]  (HR. Muslim: 181)

[3]  HR. Bukhari: 6559

[4]  HR. Muslim: 184

[5]   HR. Muslim: 191

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat