Beranda / Kaba Maribaraja / Maribaraja Dakwah / Maribaraja.Com; Makna, Filosofi dan Sejarah

Maribaraja.Com; Makna, Filosofi dan Sejarah

“Jadilah seperti kelapa, bermanfaat dengan seluruh bagiannya meski terkadang tak dirasakan manusia.”

Makna dan Filosofi Maribaraja.Com

Maribaraja.Com sebenarnya adalah dua suku kata bahasa Minangkabau yang kemudian digabungkan menjadi satu, yaitu Mari artinya kata ajakan mari, ayo dan Baraja artinya belajar. Sehingga arti dari Maribaraja dalam bahasa Indonesia adalah “Mari Belajar.”

Kata ini saya gunakan sebagai prinsip hidup, dimana kita sebagai seorang manusia yang terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa yang kemudian diperintahkan oleh Allah untuk belajar kemudian beramal.

Nama ini pada dasarnya adalah ajakan kepada diri saya pribadi terlebih dahulu, kemudian kepada orang lain agar hidup kita ini dihiasi oleh prinsip “mari belajar”.

Kita sebagai seorang muslim yang masih belum mengenal banyak tentang agama, mari kita belajar.

Belum pandai mengaji, mari kita belajar mengaji. Belum tahu halal haram dan hukum-hukum mari kita belajar fiqih. Tidak tahu apa itu tauhid dan syirik mari kita belajar akidah.

Kita yang masih belum bisa memberikan manfaat buat orang lain, maka mari kita belajar menjadi manusia bermanfaat.

Kita yang masih cuek, egois hanya memikirkan diri sendiri, maka mari kita belajar untuk peduli.

Kita yang masih kikir, bakhil karena terlalu cinta dengan harta maka mari kita belajar untuk meruntuhkan sifat-sifat itu.

Tidak bisa menulis, mari kita belajar menulis. Tidak bisa mengajar, mari kita belajar cara mengajar, dst.

Intinya, hidup kita harus dihiasi dengan prinsip mari belajar sampai nafas terhenti.

Sejarah Maribaraja.Com

Kalau boleh saya cerita sedikit, dulu di tahun terakhir (masa pengabdian) di Ma’had tercinta; Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Gresik pada tahun 2016, saya begitu tertarik dengan ilmu menulis (jurnalistik) padahal saya sendiri sama sekali tidak punya basic menulis sebelumnya dan sama sekali tidak bisa.

Hal itu, setelah kalimat dan nasehat-nasehat penuh hikmah yang saya dapatkan yaitu “Tulisan itu abadi, meski penulisnya telah lama berkalang tanah namun buah pikiran dan hikmah yang ia tulis masih akan tetap bisa dibaca oleh orang-orang di belakang. Betapa banyak manusia yang hidup di masa lampau namun hanya beberapa yang masih terkenang hingga sekarang, dan diantara yang terkenang itu adalah mereka yang memilki peninggalan tulisan (buku). Sehingga meskipun mereka telah meninggal dunia, akan tetapi ilmu yang ia tuliskan masih bermanfat buat manusia, jadilah dia termasuk orang yang beruntung mendapat pahala jariyah.”

Kemudian ucapan Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah, dimana beliau pernah mengatakan:

رَحِمَ الله مَن أَعَانَ عَلَى الإِسْلاَم وَلَوْ بِشَطْرِ الكَلِمَة

“Semoga Allah merahmati seorang yang menolong agama Islam, meski hanya dengan sepatah kata.” (Ma’alim fi Thariqil Ishlah: 37)

Kalimat itu betul-betul membekas. Timbul keinginan dalam jiwa untuk dapat memberikan kontribusi kepada Islam, meski pun itu mungkin terlihat kecil dan tak bernilai.

Akhirnya, saya pun memberanikan diri untuk meminta waktu beberapa ustadz agar berkenan mengajari saya cara menulis sebuah artikel. Sebab saya memahami Ma’had ini dihuni oleh ustadz-ustadz penulis. Alhamdulillah mereka pun menyambut baik harapan itu. Dan mereka yang akan senantiasa saya kenang itu adalah:

Pertama; Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah ta’ala, ustadz sekaligus sosok yang telah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri. Sebenarnya sudah ada jam di kelas untuk belajar menulis dengan beliau melalui mata kuliah Bahas Ilmiyah, dua tahun lamanya. Akan tetapi pelajaran itu untuk artikel berbahasa Arab. Karenanya, saat pengabdian saya meminta waktu beliau untuk membimbing saya menyusun artikel berbahasa Indonesia.

Dan inilah yang sungguh luar biasa, beliau menyanggupi dan bersedia padahal kesibukan beliau sangat padat sekali. Saya masih ingat, pernah suatu ketika karena kegiatan beliau waktu itu sangat padat, beliau menghubungi saya lewat SMS karena qaddarullah waktu itu saya belum punya android, beliau minta dikirimkan ‘anashir (kerangka) tulisan saya agar dapat beliau periksa. Saya kirimkan dan beliau koreksi ‘anashir saya itu, sama sekali beliau tidak mengatakan saya sibuk tak punya waktu. Sehingga ini adalah salah satu kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan bersama beliau. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menempatkan beliau si surga-Nya kelak. Amiin.

Kedua; Ustadz Abu Faiz Shalahuddin hafizhahullah ta’ala yang pada saat itu sebagai penulis sekaligus Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah. Beliau begitu sabar menerima, membaca serta memberikan masukkan atas artikel-artikel yang saya tulis. Padahal, artikel-artikel tersebut kalau saya baca lagi sekarang merupakan artikel-artikel yang menambah pusing kepala saja karena bahasanya yang berantakan.

Ketiga; Ustadz Abu Usamah Azhar Rizki Panggayo hafizhahullah ta’ala yang pada saat itu sebagai penulis sekaligus editor Majalah Al-Mawaddah. Dari beliau saya banyak mendapat pelajaran penting mengenai pemilihan kata, penggunaan tanda baca, ejaan, tips mencari ide menulis, dll. Satu ucapan beliau yang masih saya kenang hingga hari ini “Saya sebenarnya malas ngajarin orang, tapi buat antum ya nggak papa, mana tahu suatu hari nanti antum jadi penulis besar, saya kan dapat pahalanya.” Dan saya mesih ingat bagaimana artikel pertama saya, dicoret habis-habisan oleh beliau karena banyak sekali koreksi kesalahannya.

Buat ketiga ustadz kami ini secara khusus, ditambah Ustadz Ahmad Sabiq, Lc dan Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi serta semua ustadz kami yang lain, kami haturkan do’a semoga Allah membalasi mereka dengan surga-Nya.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin menikmati proses menulis. Sudah ada beberapa tulisan saya yang dapat terbit di Mading Ma’had yang bernama MASSAL (Mading Santri Al-Furqon), Majalah Santri yaitu Alwaan, Majalah Al-Mawaddah. Demikian pula, saya telah mulai menulis artikel singkat untuk beberapa group WhatsApp yang pada saat itu saya beri nama dengan Artikel Salayok, masih bahasa Minangkabau yang artinya singkat, sekejap, pendek.

Semakin betambah hari, semakin berkumpul beberapa tulisan. Maka saya pun mulai berpikir untuk mengarsipkannya. Selama ini, saya hanya mengarsipkan di dalam bentuk tulisan tangan pada buku, tetapi kendalanya arsip-arsip itu sering hilang. Lalu saya berpindah ke komputer tetapi kendalanya aksesnya masih terbatas, hanya bisa di buka di komputer itu saja.

Kemudian Allah pun memberi taufik, terpikirlah menyimpan arsip tulisan dengan basis intenet sehingga dimana pun, kapan pun, dan menggunakan perangkat apa pun baik Hp, Pc, Tablet, dst selama ada sinyal internet maka saya bisa mengakses tulisan-tulisan saya tersebut. Lahirlah maribaraja dalam bentuk gratisan yaitu blogspot dengan URL maribaraja123.blogspot.com pada ahir bulan Juli 2017

Setelah berlalu setahun, seiring bertambahnya ilmu mengenai dunia blog maka pada akhir bulan Juli 2018 lahirlah Maribaraja.Com yang berbasis wordpress dan berbayar. Alhamduillah.

Disamping sebagai arsip pribadi, saya pun berniat untuk menyebar luaskan kembali semua tulisan-tulisan dari guru saya tercinta Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron melalui Maribaraja.Com. Setelah saya utarakan maksud ini kepada beliau, beliau pun mengizinkan. Oleh sebab itu, akhirnya Maribaraja.Com menjadi situs untuk arsip tulisan pribadi saya sekaligus untuk tulisan ustadz saya tercinta yaitu Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron.

Yayasan Maribaraja

Dakwah online yang dirintis sejak pertengahan tahun 2017 dengan karunia Allah telah mengalami perkembangan. Saya masih ingat di bulan Juli 2017 itu hanya ada 3 group WhatsApp saja yang Maribaraja.Com turut serta memberikan support artikel disana. Lalu dengan berjalannya waktu semakin bertambah pulalah group-group itu (April 2020 berjumlah: 1.351 group), Alhamdulillah.

Karena mengingat bahwa Indonesia adalah negara hukum, maka pada pertengahan tahun 2018 dibentuklah Yayasan Maribaraja dengan tujuan sebagai payung hukum dari dakwah yang telah berjalan dan sedang berkembang. Dan saya memang meniatkan dari awal bahwa Yayasan ini hanya sebatas wasilah (sarana) saja, bukan sebagai tujuan yang akhirnya menjatuhkan kita pada dakwah yang berbau Hizbiyyah. Saya berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Karena pertimbangan mashlahat yang lebih besar maka Yayasan Maribaraja sengaja diluaskan sehingga tidak hanya mencakup dakwah saja, akan tetapi mencakup tiga hal yaitu dakwah, pendidikan dan sosial. Dalam hal ini sosok yang layak juga saya sebutkan yaitu Bapak Arip Padilah, dengan beliaulah saya bermusyarawah untuk mendirikan Yayasan Maribaraja, semoga Allah menjaga beliau.

Itulah selayang pandang dari Maribaja.Com, mudah-mudah Allah senantiasa menjaga hati kita semua, untuk senantiasa ikhlas berdakwah hanya mencari wajah-Nya dan melindungi kita dari semua bentuk kejelekan dan godaan setan. Dan saya berharap kepada Allah semoga website ini bermanfaat untuk diri pribadi saya dan juga orang lain, baik semasa hidup maupun setelah saya meninggal dunia. Amin

Ditulis oleh Zahir Al-Minangkabawi

Sabtu, Maktabah Az-Zahiriy Jatimurni Bekasi, 21 Syawal 1441H/13 Juni 2020M

Baca juga Artikel:

Syair Kenangan Kami di Ma’had Al-Furqon Al-Islami

Profil Singkat Yayasan Maribaraja Bekasi Indonesia

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Berjuang Bersama Dalam Dakwah

Dakwah adalah bagian dari jihad, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa dakwah adalah jihad yang paling …

Tulis Komentar

WhatsApp chat