Memetik Hikmah dari Perjalanan Hidup Keluarga Khalilullah – Khutbah Idul Adha 1447 H

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللّهُ أَكْبَرُ كُلَّمَا صَلَّى مَصْلٍّ وَكَبَّرَ وَاللّهُ أَكْبَرُ ، اللّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمْدُ لله كَثِيرًا وَسُبْحَان الله بُكْرَة وَأَصِيْلا ، اللهم لَك الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَك الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِك الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْك يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أنت الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ رَبٌّ رَحِيمٌ عَفُوٌّ كَرِيمٌ، يَغْفِرُ الذُّنُوبَ، وَيَسْتُرُ الْعُيُوبَ. يُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، وَيُضَاعِفُ الْحَسَنَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ؛ النَّبِيُّ الْأَمِينُ، وَالنَّاصِحُ الْمُبِينُ. رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةٌ عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘id rahimakumullah…..

Di hari Id yang penuh dengan kebahagian ini, saat mentari pagi terbit diiringi lantunan takbir di seluruh penjuru negeri, tidak ada wasiat yang lebih utama, daripada wasiat takwa. Marilah kembali kita berusaha, meningkatkan kualitas iman dan takwa, dengan mengerjakan perintah-perintah Allah ta’ala dan meninggalkan semua larangan-Nya. Karena takwa inilah yang akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘Id rahimakumullah,

Rangkaian ibadah Haji dan Qurban, tidak akan pernah terpisahkan dari sejarah kehidupan sebuah keluarga teladan—keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam. Perjalanan hidup mereka bukanlah sekadar nostalgia kisah masa lalu, melainkan goresan sejarah bertabur mutiara yang menjadi kurikulum kehidupan bagi setiap rumah tangga orang yang beriman. Siapa saja yang membaca dan merenunginya, akan memahami arti pengorbanan yang sesungguhnya.

Di kesempatan yang baik ini, kita akan mengambil hikmah dan keteladanan dari setiap anggota keluarga Nabi Ibrahim: Sang Ayah, Sang Anak, dan Sang Ibu.

Pertama: Teladan Sang Ayah (Nabi Ibrahim) – Bukti Kemurnian Cinta kepada Allah

Setiap ayah, pasti memiliki harapan besar untuk mendapatkan keturunan yang saleh. Demikian pula yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Berpuluh tahun beliau menanti kehadiran buah hati, senantiasa berdo’a:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa harapan itu baru terwujud saat beliau berada di usia 86 tahun (Al-Bidayah wa An-Nihayah: 1/192).

Penantian yang sangat panjang. Namun, setelah anak yang dinanti itu hadir dan mulai beranjak remaja, ujian terberat datang. Beliau diperintahkan bukan untuk menyerahkan anaknya kepada orang lain, melainkan untuk menyembelihnya, bukan oleh orang lain (panitia kurban) tapi dengan tangannya sendiri.

Karenanya,  Ibadah qurban yang kita lakukan hari ini adalah refleksi dari ketundukan tersebut. Allah tidak menginginkan daging dan darah hewan, melainkan keikhlasan hati kita dalam menempatkan cinta kepada-Nya di atas segalanya, termasuk di atas kecintaan kepada harta dan keluarga. Allah berfirman:

لَن يَنَالَ ٱاللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱالتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kedua: Teladan Sang Anak (Nabi Ismail) – Simbol Kepatuhan dan Ketundukan

Keberhasilan pendidikan tauhid dalam keluarga Ibrahim terlihat nyata pada respons sang anak, Ismail. Ketika sang Ayah menyampaikan perintah yang menguji jiwa tersebut, terjadilah dialog indah yang diabadikan Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. As-Shaffat: 102)

Ismail adalah potret anak muda yang siap membuang egonya demi ketaatan. Dalam konteks kekinian, menyembelih hewan qurban adalah simbol bahwa kita siap menyembelih ego, keangkuhan, dan rasa kepemilikan. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa qurban adalah simbol menyembelih nafsu duniawi demi ketundukan kepada Allah.

Ketiga: Teladan Sang Ibu (Ibunda Hajar) – Bukti Berbaik Sangka Kepada Allah

Ujian keluarga ini tidak hanya pada perintah penyembelihan. Jauh sebelum itu, Ibrahim diperintahkan meninggalkan istrinya (Hajar) dan bayinya (Ismail), di sebuah lembah tandus tak berpenghuni, tanpa tumbuhan dan tanpa air.

Saat Ibrahim melangkah pergi, Hajar mengejarnya dan bertanya berulang kali:

يَا إِبْرَاهِيْمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ؟

“Wahai Ibrahim, apakah engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah ini, tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada perbekalan sedikit pun?”

Tanpa menoleh, Ibrahim tetap berjalan. Akhirnya terucaplah sebuah kalimat dari sang ibu yang menjadi pondasi husnuzhan (berbaik sangka) yang luar biasa:

آاللهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَتْ: إِذَنْ لَا يُضَيِّعَنَا

“Apakah Allah yang memerintahkanmu dengan hal ini?” Ibrahim menjawab: “Ya.” Maka Hajar pun berkata: “Jika demikian, pasti Allah tidak akan membiarkan kami terlantar.” (HR. Bukhari: 3184)

Ketangguhan seorang ibu yang berbaik sangka kepada ketetapan Allah menjadi penopang kekuatan keluarga ini dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘Id rahimakumullah,

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah ukiran sejarah yang penuh hikmah dan pelajaran berharga. Kita dapat kita dapat melihat jelas bahwa keikhlasan, kesabaran, kepatuhan, dan husnuzhan kepada Allah selalu berbuah manis. Tatkala pisau tajam telah diayunkan, ketaatan telah dibuktikan, Allah menggantinya:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Shaffat: 107)

Ibrahim Allah angkat menjadi Khalil-Nya. Kisah keluarganya Allah abadikan dalam Al-Qur’an serta syariat haji dan qurban. Anak keturunan mereka menjadi para Nabi. Lembah kosong yang tak berpenghuni, tidak memiliki apa-apa, sekarang menjadi kota paling mulia yang takkan pernah sepi selamanya, akan selalu dipenuhi dengan makanan serta buah-buahan.

Ka’bah menjadi bangunan yang akan senantiasa dirindukan. Syariat Sa’i antara Shafa dan Marwa akan menjadi pengingat bagaimana Hajar mondar mandir berulang kali untuk mencari air. Zam-zam menjadi air paling berharga di dunia dan tidak akan pernah kering selamanya. Syariat kurban, akan mengenang kesabaran mereka menghadapi ujian kehidupan. Bahkan, nama keluarga ini abadi di bibir setiap muslim, dilantunkan setiap hari dalam tasyahud shalat kita:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk mampu membumikan nilai-nilai dari keluarga Nabi Ibrahim ke dalam rumah tangga kita. Menjadikan kita pribadi-pribadi yang tegar di atas keikhlasan, mendidik anak-anak kita dalam ketaatan, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla. Sehingga di dunia kita mendapat pertolongan, dan kelak di akhirat kita dikumpulkan bersama keluarga kita di dalam surga-Nya.

Jama’ah kaum muslimin dan muslimat, sidang ‘Id rahimakumullah,

Kisah keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam menyadarkan kita pada satu hakikat yang sangat mendalam: Bahwa sejatinya, setiap dari kita adalah Ibrahim. Dan setiap Ibrahim pasti memiliki ‘Ismail’ dalam hidupnya.

‘Ismail’ kita mungkin bukan dalam bentuk seorang anak. ‘Ismail’ kita mungkin adalah harta benda yang selama ini kita kumpulkan, jabatan yang kita banggakan, popularitas yang kita kejar, ego yang kita pelihara, atau apa saja yang paling kita cintai di dunia ini—yang seringkali membuat kita lalai dan menghalangi kita dari ketaatan kepada Allah.

Di hari raya Idul Adha ini, Allah tidak sedang meminta kita mengorbankan nyawa orang yang kita sayangi. Allah hanya meminta kita menyembelih ‘Ismail’ yang ada di dalam hati kita. Menyembelih kecintaan berlebih pada dunia kita sebagai seorang ayah, menyembelih keluh kesah dan keputusasaan kita sebagai seorang ibu, serta menyembelih keangkuhan dan pembangkangan kita sebagai seorang anak.

Mari kita jadikan momentum Idul Adha ini sebagai titik balik untuk membangun kembali rumah tangga kita. Menjadikan keluarga kita seperti keluarga Ibrahim; di mana sang ayah memimpin dengan keteladanan dan tauhid, sang ibu menopang dengan ketangguhan dan husnuzhan kepada takdir Allah, serta anak-anak yang tumbuh dengan ketundukan dan bakti yang tanpa batas.

Semoga kelak, ketika kita berpulang menghadap Allah, kita bisa berkata sebagaimana Nabi Ibrahim berucap: “Ya Allah, telah kutinggalkan segala kecintaanku pada dunia, demi memenuhi panggilan cinta-Mu.”

Mari kita akhiri khutbah ini dengan memohon ampunan dan karunia dari Allah

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ ، اللهم اجعلنا من الصابرين اللهم اجعلنا من الحامدين اللهم اجعلنا من الشاكرين اللهم اجعلنا من الصالحين

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، وَصَلَّى اللهُ وسلَّم عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !