
Satu Tahun Berlalu, Selangkah Lebih Dekat Menuju Alam Kubur – Khutbah Jumat
KHUTBAH PERTAMA
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَّى ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Tanpa terasa, kita telah berdiri di awal tahun baru 1448 Hijiriyah. Secara matematis duniawi, tahun bertambah. Namun dalam kacamata hakikat, bertambahnya tahun adalah berkurangnya jatah umur kita di dunia, sekaligus bertambah dekatnya jarak kita dengan liang lahad.
Coba kita perhatikan sekeliling kita. Anak-anak yang dahulu baru kita timang, kini telah pandai berlari dan mulai menuntut ilmu. Para pemuda yang dahulu gagah, kini mulai menua. Uban telah satu per satu menyapa, dan fisik yang dahulu kuat untuk menyelesaikan banyak pekerjaan dan urusan, kini mulai terasa batas letihnya. Itu semua adalah sunnatullah, sebuah pesan tak bersuara bahwa kita sedang berjalan menuju garis akhir.
Umur umat Nabi Muhammad ﷺ sangatlah singkat jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu yang mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Beliau bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit sekali yang lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albani).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Bagaimana seharusnya kita bersikap melihat waktu yang terus menggerus usia ini? Mari kita berkaca pada teladan para pendahulu kita yang shalih (Salafus Shalih). Bagi mereka, semakin bertambah usia, semakin rendah hati mereka di hadapan dunia, dan semakin rakus mereka terhadap akhirat.
Mereka sangat memahami isyarat Al-Qur’an, khususnya ketika seseorang telah menginjak usia kematangan:
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ…
“…Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai…'” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat ini dengan tegasan yang sangat indah: “Dalam ayat ini ada petunjuk bagi siapa saja yang telah sampai pada umur 40 tahun untuk segera memperbaharui taubatnya kepada Allah serta kokoh di atasnya.”
Keteladanan ini tergambar jelas dalam rutinitas orang-orang shalih di Madinah pada masa Imam Malik. Beliau menceritakan bahwa para ahli ilmu dan orang shalih di sana, yang kesehariannya sibuk mengajar, berkerja, berbaur dengan masyarakat, dan memikirkan kemaslahatan umat, perlahan-lahan mengubah prioritas hidup mereka. Ketika usia menyentuh angka 40, mereka mulai mengurangi hiruk-pikuk keramaian yang tidak perlu, menundukkan ego, dan memfokuskan sisa hidup untuk menghadapi Hari Kiamat. (lihat: Tafsir Al-Qurthuby: 17/390, Tafsir QS. Fathir: 37)
Bahkan, Abdullah bin Dawud Al-Khuraiby menggambarkan kesungguhan mereka dengan kalimat kiasan yang menohok: “Di antara mereka apabila telah sampai umur 40 tahun, maka ia melipat kasurnya.” (Mawa’izhu Ash-Shahabah: 111)
Artinya, waktu malam mereka bukan lagi untuk terlelap pulas, melainkan untuk berdiri merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Perhatikanlah analogi luar biasa dari salah satu sahabat Nabi yang sangat mulia, Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu. Di usia senjanya, ibadahnya bukan mengendur, justru semakin menghebat. Saat orang-orang terdekatnya merasa iba dan memintanya untuk tidak terlalu keras memaksakan diri, beliau memberikan jawaban yang sepatutnya menjadi pengingat bagi kita semua hari ini:
إِنَّ الخَيْلَ إِذَا أُرْسِلَتْ فَقَارَبَتْ رَأْسَ مَجْرَاهَا ، أَخْرَجَتْ جَمِيْعَ مَا عِنْدَهُ ، وَالَّذِي بَقِيَ مِنْ أَجَلِي أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“Sesungguhnya seekor kuda pacu, ketika ia dilepaskan dan semakin mendekati garis akhir (finish), maka ia akan mengerahkan seluruh sisa tenaga dan upaya yang ada padanya. Sedangkan, yang tersisa dari ajalku jauh lebih sedikit dari jarak tersebut.” (Tarikh Al-Islam: 145, Tarikh Dimasq: 534)
Begitulah seharusnya sikap seorang mukmin sejati. Garis akhir kita adalah alam kubur. Semakin dekat ke sana, harusnya lari kita menuju ridha Allah semakin kencang, bukan malah melambat dan terlena dengan pujian, capaian akademis, atau gemerlapnya dunia.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد
Jamaah kaum muslimin, sidang Jumat rahimakumullah,
Pada khutbah kedua ini, mari kita renungkan akhir hayat seorang pahlawan Islam, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah manusia yang paling banyak meriwayatkan hadits. Jutaan umat Islam, dari zaman Nabi hingga hari ini, mengamalkan sunnah berkat ilmu yang beliau sampaikan. Bayangkan betapa luas samudra pahala jariyah yang mengalir kepadanya.
Namun, apa yang terjadi ketika beliau berada di ambang kematiannya? Beliau menangis.
Ketika ditanya mengapa beliau menangis, apakah karena berat meninggalkan dunia? Jawaban beliau sungguh meruntuhkan kesombongan kita:
أَمَّا إِنِّي لَا أَبْكِي عَلَى دُنْيَاكُمْ هَذِهِ ، وَلَكِنِّي أَبْكِي عَلَى بُعْدِ سَفَرِيْ ، وَقِلَّةِ زَادِي، وَإِنِّي أَصْبَحْتُ فِي صُعُوْدِ مَهْبِطٍ عَلَى جَنَّةٍ وَنَارٍ ، لَا أْدِرِي أَيُّهُمَا يُؤْخَذُ بِي
“Aku tidak menangisi dunia kalian ini. Akan tetapi aku menangisi begitu jauhnya perjalananku (menuju akhirat) namun betapa sedikitnya perbekalanku. Sesungguhnya aku sedang mendaki sebuah jalan terjal yang ujungnya berujung pada surga atau neraka, sedang aku tidak tahu di ujung manakah aku akan dijatuhkan.” (Hilyah al-Auliya’: 1/383)
Hadirin yang dirahmati Allah…
Jika seorang sahabat sekelas Abu Hurairah, dengan lautan amal dan ilmunya, masih menangis merasa bekalnya terlalu sedikit, lalu bagaimana dengan kita? Kita yang amalnya sedikit, ilmunya pas-pasan, namun sering kali lalai dan merasa aman seakan-akan surga sudah di tangan?
Pergantian tahun ini bukanlah momen untuk bersorak sorai. Ini adalah alarm peringatan. Semua gelar yang kita kejar, jabatan yang kita emban, dan harta yang kita kumpulkan, semuanya akan kita tinggalkan di atas tanah. Yang ikut turun menemani kita ke bawah tanah hanyalah iman dan amal shalih.
Mari kita tundukkan hati, memohon ampunan kepada Allah, dan menata kembali sisa waktu kita yang entah tinggal berapa hari lagi ini.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينَا وَعَلَىٰ وَالِدَينَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّتِنَا ۖ إِنَّا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الخَاتِمَةِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سُوْءِهَا
ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن
Lihat:
Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Zahir Al-Minangkabawi
Instagram @maribarajacom




