Bijak Menggunakan Media Sosial: Menjauhi Fitnah dan Hoaks – Khutbah Jumat

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد ليوم المعاد

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dahulu, seseorang apabila berbicara maka hanya dapat didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Namun hari ini satu kalimat yang ditulis melalui media sosial dapat dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Satu tombol “bagikan” dapat menjadi sebab tersebarnya ilmu yang bermanfaat, namun dapat pula menjadi sebab tersebarnya fitnah, kebencian, dan dosa yang terus mengalir.

Media sosial pada hakikatnya hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi ladang pahala atau ladang dosa adalah bagaimana kita menggunakannya. Karena itu, Islam telah mengajarkan satu prinsip agung yang sangat relevan dengan zaman digital, yaitu tabayyun, memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini turun pada masa Rasulullah ﷺ ketika informasi masih disampaikan secara lisan. Betapa lebih relevannya ayat ini pada zaman sekarang, ketika berita dapat menyebar ke seluruh dunia hanya dalam beberapa detik.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Salah satu penyakit besar di media sosial adalah keinginan menjadi orang pertama yang membagikan berita, meskipun belum jelas kebenarannya. Padahal seorang mukmin tidak diukur dari seberapa cepat ia menyampaikan berita, tetapi dari seberapa benar berita yang ia sampaikan dan manfaat yang ditimbulkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.”
(HR. Sahih Muslim no. 5)

Hadis yang singkat ini mengandung pelajaran yang sangat besar. Tidak semua informasi yang kita terima layak untuk diteruskan. Seorang Muslim harus memiliki sikap kritis dan bertanggung jawab.
Hari ini banyak berita yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan, memecah persaudaraan, menjatuhkan kehormatan seseorang, bahkan menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Ironisnya, sering kali berita itu disebarkan oleh orang-orang yang sebenarnya ingin berbuat baik, tetapi tidak melakukan tabayyun.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Lebih berbahaya lagi adalah fitnah. Fitnah bukan sekadar tuduhan palsu. Fitnah dapat menghancurkan nama baik seseorang, memutus persaudaraan, merusak rumah tangga, memecah belah masyarakat, bahkan menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan. Padahal Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap klik, setiap unggahan, setiap komentar, dan setiap pesan yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari: 6475, Muslim: 47)

Perhatikanlah, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan bahwa kita harus selalu berbicara. Beliau justru mengajarkan bahwa diam lebih baik daripada berkata yang membawa mudarat.

Jamaah sekalian,

Di era digital hari ini, “lisan” kita adalah jempol kita. Apa yang kita ketik di media sosial hakikatnya sama dengan apa yang kita ucapkan. Sedangkan, Allah mengingatkan kita untuk selalu menjaga setiap kata yang keluar:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini adalah pengingat bahwa setiap posting, komentar, dan pesan yang kita kirimkan tercatat oleh malaikat. Setiap unggahan akan menjadi saksi pada hari kiamat. Maka seorang Muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”:

“Apakah berita ini benar? Apakah sumbernya terpercaya?” Kalau jawabnya benar, lanjut pertanyaan berikutnya: “Apakah penyebarannya membawa manfaat? Apakah Allah ridha jika saya menyebarkannya?”

Jika masih ragu, maka meninggalkannya lebih dekat kepada keselamatan agama. Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu.”
(HR. Jami’ at-Tirmidhi no. 2518; dinilai sahih).

Kita benar-benar harus berhati-hati terhadap setiap kata dan kalimat yang kita ucapkan karena dengan satu ucapan saja terkadang sudah cukup untuk mengantarkan seseorang ke neraka. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kata yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kata itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari: 6478)

Maka, mari kita jadikan media sosial sebagai jalan menuju pahala, bukan menuju dosa. Sarana mencari ilmu, menyebarkan ilmu, nasihat, ayat Al-Qur’an, hadis, motivasi kebaikan, serta kabar yang membawa harapan bagi sesama. Bukan malah menjadi jalan ke neraka. Na’udzubillah mindzalika.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di era digital ini, setiap Muslim memiliki “mimbar” melalui telepon genggamnya. Dahulu hanya khatib yang didengar banyak orang. Kini setiap orang dapat menjadi penyebar informasi kepada ratusan bahkan ribuan orang.

Karena itu, hendaknya kita menggunakan nikmat tersebut untuk mengajak kepada kebaikan, mempererat persaudaraan, menyebarkan ilmu yang benar, dan menghindari fitnah serta hoaks.
Jangan sampai amal ibadah yang kita kumpulkan bertahun-tahun berkurang karena tidak bijak dalam menggunakan media sosial.Semoga Allah menjaga lisan, hati, dan jari-jari kita dari segala bentuk kebohongan, fitnah, ghibah, dan penyebaran berita yang tidak benar.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Zahir Al-Minangkabawi

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button