Ketika Kematian Telah Mati – Khutbah Jumat

إِنَّ الْـحَمْدَ الِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱاللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱاللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا ٱالَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ اٱلـحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَخَيْرَ ٱالهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي ٱالنَّارِ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, beriman dengan hari akhir adalah bagian dari rukun Iman yang enam, Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang apa itu iman, bersabda:

 أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir serta engkau beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim: 8)

Kenapa disebut Yaumul Akhir (hari akhir)? Karena ia adalah kehidupan terakhir, tidak ada lagi kehidupan setelahnya, kehidupan yang abadi selamanya

Berbicara tentang kehidupan akhirat mungkin terasa membosankan bagi sebagian orang.  Bahkan, karena rutinitas harian, tuntutan pekerjaan, tekanan ekonomi yang besar, masalah keluarga dan semua urusan kehidupan dunia,  menjadikan pembahasan tentang hari akhir terasa seperti beban pikiran tambahan. Sehingga banyak yang tidak suka.

Kehidupan akhirat adalah sesuatu yang tidak terlihat (gaib) dan terasa masih sangat jauh di masa depan. Sementara otak kita lebih mudah berfokus pada sesuatu yang dekat dan terlihat. Karena itulah sebagian kita, lebih betah mendengar podcas tentang: “Bagaimana mendapatkan 1 miliar pertama” dengan durasi 120 menit ketimbang mendengarkan khutbah Jum’at 20 menit tentang kehidupan akhirat.

Tapi ketahuilah para hadirin, hari ini memang dunia adalah nyata dan akhirat hanya cerita. Tapi, nanti pada detik pertama setelah ruh berpisah dengan jasad kita ini -dan itu pasti- yang terjadi sebaliknya; akhiratlah yang menjadi nyata dan semua dunia kita ini akan menjadi cerita. Allah berfirman:

إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ

“Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti akan datang” (QS. Al-An’am: 134)

Maksudnya, segala hal yang telah Allah janjikan kepada kita tentang hari akhir—baik berupa kematian, alam kubur, hari kiamat, kebangkitan, pengumpulan manusia, perhitungan amal, shirat, serta surga dan neraka—pasti akan datang, pasti terjadi dan benar-benar menjadi nyata tanpa ada keraguan sedikit pun.

Ketika hari itu telah tiba, akan terjadi banyak penyesalan. Dan orang yang paling menyesal adalah orang yang hari ini tidak menaruh peduli untuk hari itu; merasa bosan dan beban dengan pembahasan hari akhirat, lalai dari amal shalih, tidak mau belajar agama, sibuk dengan dunia dan melupakan akhirat. Allah berfirman tentang orang kafir saat menghadapi kematian:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100)

Di hari itu, mereka dilupakan oleh Allah, mereka tidak akan dipedulikan, sebagai balasan terhadap perbuatan mereka yang melupakan dan tidak peduli dengan hari akhir. Allah berfirman:

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّاصِرِينَ

Dan dikatakan (kepada mereka), “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu dahulu melupakan pertemuan dengan harimu ini, dan tempat kembalimu ialah neraka dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (QS. Al-Jatsiyah: 34)

Mereka tertunduk hina, dengan penyesalan yang semakin membesar. Allah berfirman:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُؤُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. As-Sajadah: 12)

Ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka, maka semakin besar penyesalan mereka. Allah berfirman:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih. (QS. Fathir: 37)

Dan penyesalan itu, akan sampai pada puncaknya dan tidak akan hilang saat kematian telah mati. Benar, Anda tidak salah dengar; “Kematian akan mati.” Rasulullah ﷺ bersabda:

يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، ثُمَّ يُنَادِي: يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا الْمَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، فَيُذْبَحُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ، خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ، خُلُودٌ فَلَا مَوْتَ. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ.

“Kematian akan didatangkan dalam wujud seekor domba jantan berwarna putih kehitam-hitaman (amlah). Lalu seorang penyeru memanggil: ‘Wahai penghuni surga!’ Maka mereka mendongakkan kepala dan melihat. Penyeru itu bertanya: ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya, ini adalah kematian,’ dan mereka semua memang telah mengalaminya. Kemudian penyeru itu memanggil lagi: ‘Wahai penghuni neraka!’ Maka mereka mendongakkan kepala dan melihat. Penyeru itu bertanya: ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya, ini adalah kematian,’ dan mereka semua telah mengalaminya. Lalu domba itu disembelih. Setelah itu penyeru berkata: ‘Wahai penghuni surga, kekekalan bagi kalian dan tidak ada lagi kematian! Wahai penghuni neraka, kekekalan bagi kalian dan tidak ada lagi kematian!’ Kemudian beliau (Nabi ﷺ) membaca ayat: {Dan berilah mereka peringatan tentang Hari Penyesalan, (yaitu) ketika perkara telah diputuskan, sedang mereka dalam lalai dan mereka tidak beriman} (QS. Maryam: 39).” (QS. Bukhari: 4730, Muslim: 2849)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Hari ini kita telah melalui kehidupan dunia cukup panjang. Ada yang sudah hidup 20 tahun, 30 tahun, 40, 50, 60, 70 tahun bahkan ada yang lebih. Bayak peristiwa yang telah kita rasakan dan kita lalui. Tapi tahukah Anda, berapa lamakah kehidupan dunia ini akan terasa bagi kita saat kita telah berada di hari akhir? Hanya satu hari atau setengah hari bahkan ada yang merasakannya hanya sesaat saja. Allah berfirman:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ * قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

Dia (Allah) bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal sehari atau sebagian hari” (QS. Al-Mu’minun: 112–113)

Allah berfirman:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (QS. An-Nazi’at: 46)

Bayangkan, ketika kita melihat matahari terbenam saat senja, lamakah waktunya? Tidak, hanya sesaat saja. Begitulah kehidupan dunia akan terasa oleh manusia di akhirat nanti.

Maka sungguh sangat tidak cerdas, jika kita habiskan umur kita ini hanya untuk mencari kebahagian hidup dunia yang itu adalah kehidupan satu hari bahkan satu jam saja sementara kita melupakan dan meremehkan kehidupan akhirat yang abadi, tidak ada akhirnya. Setinggi apa pun IQ kita dan sebanyak apa pun gelar pendidikan kita, jika kita tidak bersiap mengahadapi hari akhir maka kita adalah manusia yang paling bodoh.

Karena itulah ketika Nabi ﷺ  ditanya siapakah manusia yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا

“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang setelahnya.” (HR. Ibn Majah no. 4259, Ath-Thabrani, dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

Para hadirin yang dirahmati Allah, membaca ayat-ayat dan hadits-hadits tentang hari akhir, hendaknya menyadarkan kita bahwa “dunia ini tempat persinggahan sementara dan hanya sebentar saja.” Jangan lalaikan kehidupan akhirat yang abadi, justru inilah tujuan utama kita.

Selama umur masih ada, tidak ada kata terlambat. Mari sekarang kita bertekad untuk memperbaiki diri, menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi, lebih dekat kepada Allah, menambah ilmu dan amal shalih. Kita tidak ingin menjadi orang-orang yang menyesal. Karena, menyesal di setelah mati tiada berguna hanya menambah luka sukma. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari penyesalan itu. Amin


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com
Zahir Al-Minangkabawi

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud, Arab Saudi (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button