Beranda / Hikmah Hidup / Nabi Dihina, Apa Yang Mesti Kita Lakukan?

Nabi Dihina, Apa Yang Mesti Kita Lakukan?

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengerjakan perintah-perintah Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Takwa adalah perintah dan wasiat Allah kepada semua umat baik terdahulu maupun belakangan, Allah berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. (QS. An-Nisa’: 131)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebuah kewajiban. Tidak sempurna iman seorang sampai ia menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih ia cintai dari keluarga, anak, istri, orang tua, bahkan dirinya sendiri. Dari Abdullah bin Hisyam radhiyallahu anhu, ia menuturkan:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْآنَ يَا عُمَرُ

Kami sedang bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tengah memegang tangan Umar bin al-Khaththab. Lalu Umar berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai engkau menjadikanku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar berkata: “Sungguh sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sekarang wahai Umar.” (HR. Bukhari: 6632)

Hal ini sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. (QS. Al-Ahzab: 6)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah jalan keselamatan dunia dan akhirat. Sebaliknya, tidak mendahulukannya dari yang lain adalah awal mula kehancuran. Allah mengancam akan menimpakan kehancuran kepada siapa saja yang lebih mendahulukan selain Allah dan Rasul-Nya dalam kecintaan. Allah berfirman:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Beberapa waktu belakangan ini, kita umat Islam diguncangkan dan dibuat marah oleh apa yang diperbuat oleh orang-orang kafir Eropa sana, yang telah menghina dan merendahkan kemulian Nabi kita.

Wajar emosi kita tersulut, semangat pembelaan terhadap Nabi muncul karena itu adalah fitrah kita sebagai seorang muslim dan mukmin. Orang tua kita saja kalau dihina oleh orang maka kita akan marah, lantas bagaimana dengan manusia yang lebih kita cintai melebihi kecintaan kita kepada orang tua, keluarga dan bahkan diri kita sendiri.

Akan tetapi, kita adalah seorang muslim mukmin yang hidup dibawah bimbingan wahyu ilahi. Dengan berpengan kedapa Al-Qur’an dan hadits Nabi kita akan terhindar dari salah jalan, sebagaimana sabda Nabi:

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Muaththa’ no. 3338)

Oleh karena itu, ada beberapa bimbingan syariat yang perlu kita perhatikan dalam menghadapi masalah seperti ini.

Pertama, membuat marah dan memudharatkan kaum muslimin adalah watak dan tabiat asli orang-orang kafir. Sehingga kita tidak perlu kaget terhadap apa yang mereka lakukan di hari ini. Jauh-jauh hari Allah sudah mengingatkan, Allah berfirman:

 وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqarah: 120)

Dan menghina dan merendahkan para Nabi juga merupakan tabiat dan sifat asli mereka. Orang-orang ahli kitab secara umum memang adalah orang-orang yang melampaui batas, zalim, dan tidak beradab. Jangankan Nabi, Allah saja mereka hina. Allah berfirman tentang sifat mereka itu:

لَّقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. (QS. Ali Imran: 181)

Dan jangankan menghina para nabi dan rasul, lebih dari itu telaah mereka lakukan, yaitu membunuh para nabi dan rasul. Sebagaimana firman Allah:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imran: 112)

Dari dahulu orang-orang kafir selalu menghina nabi, tidak hanya Nabi kita Muhammad akan tetapi semua para Nabi. Mereka terlepas dari cari maki dan penghinaan orang-orang kafir. Allah berfirman:

  كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”. (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Oleh sebab itulah, kita pahami tabiat dasar mereka ini agar kita tidak terlalu kaget dengan apa yang mereka perbuat. Dan agar kita senantisa waspada dari makar mereka.

 Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…. 

Kedua, marah dalam keadaan begini adalah wajar, fitrah bahkan dianjurkan dan wajib. Akan tetapi, satu hal yang harus kita ingat yaitu jangan sampai kemarahan kita dan semangat pembelaan terhadap Nabi membuat kita melampaui batas dan menerjang larangan syariat, sehingga justru membuat agama kita hina.

Marahlah sesuai dengan kadar yang diperbolehkan jangan melampai batas karena melampaui batas itu justru merupakan sebab kehancuran diri kita sendiri. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوُّ

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Ibnu Majah: 3029)

Jangan sampai kebencian kita terhadap mereka membuat kita zalim. Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (QS. Al-Maidah: 8)

Merusak, menghancurkan atau membunuh orang-orang yang tidak dibenarkan oleh syariat untuk dibunuh dengan dalih membela kehormatan nabi ini bukan ajaran agama kita dan Nabi sendiri melarang akan hal ini.

Dalam peperangan saja, yang semua dipenuhi dengan kemarahan syariat tetap memberikan koridornya. Makanya setiap kali Rasulullah melepas pasukan perang, beliau selalu berpesan:

نْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلَا طِفْلًا وَلَا صَغِيرًا وَلَا امْرَأَةً

“Berangkatlah dengan (menyebut) nama Allah, di atas agama Rasulullah, dan janganlah membunuh orang tua, anak kecil, dan wanita.  (HR. Abu Dawud: 2614)

Hidup seorang muslim tidak boleh keluar dari tuntunan syariat. Makanya dahulu jika kita baca kembali sejarah kehidupan Nabi dan para sahabat, saat Nabi dihina oleh orang-orang kafir atau munafik para sahabat juaga marah, bahkan kemarahan mereka melebihi kemarahan kita. Sebab kecintaan mereka kepada Nabi jauh lebih besar daripada kecintaan kita. Akan tetapi, mereka tidak langsung begitu saja bertindak tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Nabi.

Ketika, orang-orang munafik mencela dan menghina nabi sebagaimana Allah gambarkan dalam al-Qur’an:

  يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ

Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. (QS. Al-Munafiqun: 8)

Para sahabat marah besar dan bahkan sebagian dari mereka telah bertekad hendak membunuh orang itu, akan tetapi mereka datang dan meminta izin kepada nabi terlebih dahulu. Dan waktu itu nabi tidak mengizinkan, sehingga mereka tidak melakukannya.

Oleh karena itu, kemarahan kita hendaknya tetap dibimbing oleh wahyu. Bertanyalah kepada para ulama dan ahli ilmu tentang apa yang semestinya kita perbuat. Jangan gegabah, melakukan hal-hal tanpa ilmu yang akhirnya membuat Islam justru terhina.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah

Ketiga, mari kembali kita membaca sirah nabi dan menghidupkan ajarannya.

Salah satu cara yang perlu kita lakukan disaat kondisi seperti ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Nabi, yaitu kembali membaca dan menghidupkan sunnahnya. Mari kita mengenal lebih dekat sosok yang kita cintai ini dengan membaca sirah beliau. Jangan sampai kita mengaku-ngaku mencintai nabi tetapi kita tidak kenal dengan beliau.

Kemudian, mengikuti sunnah (tuntutan) beliau dalam segala aspek kehidupan, begitulah cara sesungguhnya untuk mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam. Menghidupkan sunnah-sunnah beliau meski tidak banyak yang melakukannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.” (HR.Tirmidzi: 2678)

Ambillah semua yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Laksanakan perintahnya. Dan Segala yang dilarang maka tinggalkanlah. Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرِ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi, Jum’at 20 Rabiul Awal 1442 H/ 6 November 2020M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Syarhus Sunnah – #7 Takdir Allah

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah seputar takdir Allah Imam Al-Muzani rahimahullah mengatakan:  أَحَاطَ عِلْمُهُ …

Tulis Komentar

WhatsApp chat