Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Bila Anak Berumur Tujuh Hari

Bila Anak Berumur Tujuh Hari

Islam adalah agama yang sempurna, yang membahas semua masalah hidup manusia. Bayi yang berumur tujuh hari pun dibahas dalam Islam. Orang tua yang mau mengawali mendidik anaknya semenjak lahir berdasarkan al-Quran dan as- Sunnah, insya Allah anaknya akan menjadi shalih dan shalihah.

Seperti halnya orang yang bercocok tanam, apabila benih sudah tumbuh, lalu dipupuk dan dijauhkan dari semua gangguan yang menghambat pertumbuhannya, insya Allah akan menghasilkan buah yang baik. Jadi, orang tua harus menuntut ilmu syariat Islam untuk mendidik anaknya agar kelak menjadi anak yang shalih dan shalihah.

YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH

Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak berumur tujuh hari? Jawabnya ada dalam hadits dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh dari hari kelahirannya, dicukur rambut kepalanya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud 2838, shahih)

Inilah amalan yang sesuai sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam saat bayi berumur tujuh hari. Sebuah amal ibadah yang hendaknya diilmui oleh orang tua ketika mendapat karunia anak.

1. AQIQAH

Aqiqah adalah penyembelihan kambing pada hari ketujuh setelah anak lahir. Jika anaknya laki-laki maka menyembelih dua kambing, dan jika anak perempuan maka menyembelih satu kambing. Hal ini sebagai tanda syukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ لَا يَضُرُّكُمْ أَذُكْرَانًا كُنَّ أَمْ إِنَاثًا

“(Aqiqah) bagi anak laki-laki adalah dua ekor kambing, dan bagi anak perempuan adalah seekor kambing, baik kambing betina maupun jantan.” (Shahih Abu Dawud 2835)

Menyembelih satu kambing pun boleh, apabila tidak mampu, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mengaqiqahi cucunya, Hasan dan Husain, masing-masing dengan satu ekor kambing.  Bahkan jika tidak mampu, tidak mengadakan aqiqah pun tidak berdosa.  Atau boleh juga mengaqiqahinya kelak jika sudah mampu.

Dan aqiqah ini tidak harus orang tua yang menanggungnya, tetapi selain orang tua pun boleh, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang mengaqiqahi Hasan dan Husain.

Adapun kebiasaan orang Jawa yang apabila punya anak maka orang tua mengadakan selamatan, maka sebaiknya diganti aqiqah saja, agar sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Daging aqiqah boleh dibagikan mentah atau dimasak terlebih dahulu, dan yang lebih utama dibagikan kepada kerabat dekat dan tetangga. Jika mengundang, sebaiknya tidak mengundang kawan yang jauh tempat tinggalnya agar tidak mengganggu waktu dan pekerjaannya.

2. MEMBERI NAMA

Sudah menjadi fitrah manusia, jika sang bayi lahir, orang tua ingin memberi nama anak dengan nama yang baik. Nama memang sangat berarti, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa nama adalah lambang kepribadian anak. Oleh karena itu, orang tua ketika memilih nama yang baik untuk anaknya hendaknya bukan hanya yang enak didengar, tetapi juga yang baik artinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda di atas mimbar:

غِفَارُ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا وَأَسْلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ وَعُصَيَّةُ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Sebuah suku bernama Ghifar, semoga ‘ghafarallaahu lahaa’ (Allah mengampuninya); Aslam, semoga ‘saalamahallaahu’ (Allah menyelamatkannya); dan Ushayyah, mereka benar-benar ‘ashatillaaha wa rasuulah” (durhaka kepada Allah dan rasul-Nya).” (HR. al-Bukhari 3251)

Memberi nama hendaknya tidak dari nama-nama Allah, tidak meniru nama orang kafir dan pelaku maksiat, boleh memberi nama seperti nama para utusan Allah, nama para sahabat beliau, atau nama ulama sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

“Mereka itu memberi nama dengan nama nabi-nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka .” (HR. Muslim 5721)

Orang tua boleh memberi julukan kepada anaknya, seperti diawali dengan kata Abu untuk anak laki-laki, atau Ummu untuk anak perempuan, tetapi jangan dijuluki Abu al-Qasim karena julukan ini khusus untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pada suatu hari, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil seorang anak kecil, “Wahai Abu Umair, apa yang diperbuat oleh burung kecil ini?” Beliau juga pernah menjumpai anak perempuan yang masih kecil, lalu memanggilnya, “Wahai Ummu Kholid, bagus sekali baju ini!”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata bahwa Abu al-Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَمُّوا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي

“Berilah nama dengan namaku, dan jangan kalian beri julukan dengan julukanku (yakni Abu al-Qasim).” (HR. al-Bukhari 5720)

Memberi nama boleh pada saat anak baru lahir, atau mempersiapkan nama sebelum anak lahir. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ وَلَدٌ سَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أبِي إبْرَاهِيمَ

“Malam tadi aku dikaruniai anak, lalu aku beri nama dengan nama ayahku (ayah kerasulan), yakni Ibrahim. (HR. Muslim 7/76)

3. MENCUKUR RAMBUT

Hadits di atas menjelaskan bahwa bila anak sudah berumur tujuh hari, sebaiknya rambutnya dicukur habis, karena inilah anjuran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun kebiasaan sebagian orang yang menyisakan rambut depannya atau hanya mencukur samping kanan dan kiri serta belakang, maka hukumnya haram.

Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang al-Qaza’, yaitu mencukur rambut anak dan menyisakan sebagian rambutnya. (HR. Muslim 6/168)

Bagaimana dengan rambut yang dicukur? Diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitabnya al-Muwaththo’, Imam Baihaqi dan Imam Ahmad dan ahli hadits lainnya, bahwa ketika Fatimah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam melahirkan Hasan radhiyallahu anhu, beliau shallallahu alaihi wasallam menyuruh Fatimah radhiyallahu anha:

اِحْلِقِيْ شَعْرَهُ ، وَتَصَدَّقِيِ بِوَزْنِهِ مِنَ الْوَرَقِ عَلَى الْأَوْفَاضِ أَوْ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ

“Cukurlah rambutnya, dan bersedekahlah seberat timbangannya berupa perak kepada sahabat suffah, atau berikan kepada orang miskin.” (Imam al-Albani berkata bahwa sanadnya hasan, dan diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani di dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabiir hadits hasan (Silsilah adh-Dha’iifah 11/173)

Tetapi sebagian ulama melemahkan hadits ini, karena ada beberapa perawi hadits yang lemah. Wallahu a’lam.

4. KHITAN

Orang tua wajib mengkhitan putranya dan disunnahkan untuk anak putrinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

“(Sunnah) fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis dan memotong kuku.” (HR. al-Bukhari 5823)

Ada yang berpendapat bahwa anak perempuan hendaknya dikhitan, berdasarkan keumuman hadits di atas. Sedangkan hadits-hadits yang secara khusus menjelaskan disyariatkannya khitan untuk anak perempuan, semuanya dhaif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dasar dan pegangan. Oleh karena itulah ulama menjelaskan bahwa khitan untuk anak laki-laki hukumnya wajib, sedangkan untuk anak perempuan hukumnya sunnah, dan masih banyak pula pendapat yang lain. (Fiqhu Tarbiyatil Abnaa’ 1/61)

Mengkhitan anak sebaiknya ketika masih kecil, karena anak kecil belum punya rasa malu, kita tidak dilarang melihat auratnya, dan bisa memperingan rasa sakitnya. Berbeda ketika dia sudah besar, yang biasanya anak akan merasa malu, takut, dan rasa sakitnya tentu lebih berat. Wallahu a’lam.

Semoga dengan mengawali mengikuti sunnah Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam ini, kita diberkahi oleh Allah, anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah, amin. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Tulis Komentar