Beranda / Ushul Tsalatsah / Ushul Tsalatsah – Tingkatan Agama

Ushul Tsalatsah – Tingkatan Agama

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memaparkan tentang tingkatan dari agama Islam.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan:

وهو ثلاث مراتب؛ الإسلام والإيمان والإحسان

Dan agama (ad-din) memiliki tiga tingkatan yaitu Islam, Iman dan Ihsan. 

❀•◎•❀

Tingkatan Agama

Penulis menjelaskan bahwa agama Islam memiliki tiga tingkatan yang mana sebagian lebih tinggi dari sebagian yang lain, yaitu Islam, Iman dan Ihsan.

Dalil dari tingkatan agama ini adalah hadits yang dikenal dengan hadits Jibril. Dimana Jibril datang kepada Nabi dan disaksikan oleh para sahabat bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan, lalu di akhir hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

هذا حبريل أتاكم يعلمكم دينكم

Ini adalah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kalian agama kalian. (HR. Muslim: 8)

Berkumpul Beda, Berpisah Sama

Di sisi para ulama ada sebuah kaidah berkaitan dengan dua kata yang terkadang bermakna sama dan terkadang berbeda, mereka mengistilahkan dengan:

إذا اجتمعا افترقا وإذا افترقا اجتمعا

Apabila dua kata itu berkumpul maka keduanya berbeda dan apabila berpisah maka keduanya berkumpul.

Maksudnya adalah apabila ada dua kata disebutkan dalam satu konteks kalimat maka makna keduanya berbeda. Akan tetapi jika disebutkan berbeda, hanya satu saja dari keduanya maka maknanya sama yang satu itu mencakup makna yang lain juga.

Diantara kata-kata yang masuk dalam kaidah ini adalah Iman dan Islam, Fakir dan Muskin, Birr dan Taqwa, dll.

Jadi, jika ada kata Iman dan Islam disebutkan dalam bersamaan dalam satu konteks kalimat maka maknanya berbeda. Seperti halnya dalam hadits Jibril dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang Islam beliau menjawab dengan menyebutkan amalan-amalan yang zhahir, dan ketika ditanya tentang Iman beliau menjawab dengan amalan-amalan yang bersifat batin.

Adapun apabila berpisah, hanya disebutkan Islam saja misalnya maka mencakup makna iman juga. Demikian pula jika disebutkan iman saja maka juga mencakup makna Islam.

Islam dan Iman

Islam adalah derajat agama yang paling rendah. Karenanya orang-orang munafik disebut muslim karena mereka bersyahadat, shalat, puasa dan zakat, haji, dst dari amalan-amalan yang bersifat zhahir. Akan tetapi mereka tidak disebut mukmin karena hakikatnya mereka tidak beriman kepada Allah, hati mereka sebenarnya menyimpan kekufuran.

Iman lebih tinggi, setiap orang yang beriman maka sudah pasti dia muslim. Akan tetapi setiap orang yang muslim belum tentu dia mukmin. Hal ini sebagaimana firman Allah:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Hujurat: 14)

Makna Iman

Iman menurut Ahlus sunnah wal jama’ah adalah iqrar (penetapan) dalam hati, diucapkan oleh lisan dan diamalkan oleh anggota badan.

Iman seseorang pun bertingkat-tingkat sebagaimana Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Iman juga dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan amal shalih dan berkurang karena dosa dan maksiat. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)

Ihsan Tingkat Agama Tertinggi

Al-Ihsan adalah lawan dari al-Isa’ah. Al-Ihsan yaitu seorang mencurahkan kebaikan dan menahan diri dari mengganggu dan menyakiti.

Al-Ihsan tebagi menjadi dua; al-ihsan terhadap sesama dan al-ihsan kepada Allah.

1. Al-Ihsan kepada sesama makhluk
Al-Ihsan kepada sesama terbagi menjadi dua:

Pertama, ihsan wajib, yaitu mewujudkan hak-hak mereka yang wajib dalam bentuk yang paling baik dan sempurna, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturrahim, adil dan jujur ketika bermu’amalah. Masuk juga dalam bagian yang ini yaitu berbuat baik kepada binatang dan tumbuhan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik atas segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka hendaklah menyembelih dengan cara yang baik dan hendaklah salah seorang dsri kalian menajamkan pisaunya serta membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Muslim: 1955)

Kedua, mustahab yaitu kadar yang lebih dari sekadar kewajiban. Seorang bisa berbuat baik kepada sesama hamba Allah baik dengan harta, kedudukan, ilmu dan tenaganya. Dan yang paling mulia dari jenis ihsan adalah berbuat baik kepada orang yang telah berlaku buruk dan jahat kepada kita. Allah berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fushshilat: 34-35)

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia menuturkan:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ بِهَا لِلَّهِ

“Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama hal itu bukan merupakan dosa. Jika hal itu merupakan dosa, maka beliau adalah manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah beliau membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya di dalam sesuatu sama sekali. Kecuali jika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman terhadap perkara itu karena Allah.” (HR. Bukhari: 6126, Muslim: 2327)

Demikian juga ketika beliau ditolak dan diusir dari Thaif dengan dilempari batu sampai mengalir darah dari tubuhnya yang mulia. Namun beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” (baca: HR. Bukhari: 3477, Muslim: 1792)

2. Al-Ihsan kepada Allah. Yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Ihsan itu adalah:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, apabila engkau tak mampu maka Ia melihatmu.” (HR. Muslim: 8)

Derajat yang pertama dan yang paling tingga yaitu seolah melihat-Nya. Ini adalah ibadah seorang yang rindu dan penuh dengan cinta. Sedangkan derajat di bawahnya yaitu menyadari bahwa Allah Maha Melihat gerak gerik hambanya. Ini adalah ibadah orang yang takut dan lari.

Al-Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari tingkatan agama. Karena orang yang berada pada tingkatan ini memang adalah orang-orang yang ikhlash. Para ulama mengatakan:

إِذَا تَحَقَّقَ الإِحْسَانَ تَحَقَّقَ الإِيْمَانُ وَالإِسْلَامُ، كُلُّ مُحْسِنٍ مُؤْمِنٌ مُسْلِمٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مُسْلِمٍ مُؤْمِنًا مُحْسِنًا

“Apabila terwujud ihsan maka pasti terwujud iman dan Islam. Setiap muhsin adalah mukmin muslim. Sedangkan tidak setiap muslim itu adalah mukmin dan muhsin.” (Hushulul Ma’mul: 140)

Selesai disusun di Jatimurni, Kamis 21 Shafar 1442 H/ 8 Oktober 2020 M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Inabah

Pada bagian ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memaparkan beberapa dalil dari Al-Qur’an mengenai Inabah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat