
Takdirmu Sudah Tertulis
Beriman kepada takdir merupakan bagian dari rukun iman yang enam. Dalam hadits ketika Malaikat Jibril bertanya mengenai apa itu iman Rasulullah ﷺ menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir serta engkau beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim: 8)
Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Demikianlah, hikmah pengulangan lafaz Tu’mina (kamu beriman) pada saat penyebutan takdir seolah sebuah isyarat kepada banyaknya terjadi perselisihan dalam masalah ini, sehingga dengan pengulangan penyebutan Tu’mina agar lebih perhatian dengan perkara takdir.”[1]
Seorang yang tidak beriman terhadap Takdir Allah maka ia belum dapat dikatakan sebagai seorang mukmin. Dan Allah tidak akan menerima amal ibadahnya, sekali pun ia shalat sepanjang waktu atau bersedekah dengan emas sebesar gunung sampai ia beriman kepada takdir Allah. Hal itu bisa dilihat pada kisah Sababul Irad dari hadits yang disebutkan oleh Imam Muslim diatas.
- Defenisi Takdir
Takdir secara bahasa maknanya adalah penentuan. Sebagaimana firman Allah:
فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ
Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (QS. Al-Mursalat: 23)
Sedangkan secara istilah adalah: Keterkaitan ilmu Allah terhadap segala kejadian serta iradah-Nya terhadap hal itu pada waktu azali sebelum adanya kejadian tersebut. Tidak ada satupun kejadian kecuali Allah telah menentukannya.[2]
- Takdir Allah Bersumber Dari Ilmu, Keadilan Dan Kasih Sayang Allah
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An-Nisa: 40)
Allah disifati dengan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya tidak ada yang menandingi, ia mengalahkan semua kasih sayang yang pernah ada. Dari Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Telah datang kepada Nabi ﷺ sekelompok tawanan perang. Di antara mereka ada seorang wanita yang sedang mencari bayinya. Ketika ia menemukan seorang bayi di antara para tawanan, ia pun mengambilnya, menempelkannya ke perutnya, lalu menyusuinya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami: ‘Apakah kalian melihat wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api (neraka)?’ Kami menjawab: ‘Tidak, demi Allah, selama ia mampu untuk tidak melakukannya.’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Sungguh, Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.’” (HR. Bukhari: 5999)
Maka semua ketetapan Allah terhadap hambanya berangkat dari hal ini. Contoh dalam masalah rezeki. Ada yang Allah lapangkan rezekinya ada pula yang Allah beri kecukupan. Hal ini berangkat dari keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya) dan kasih sayang Allah. Karena memang ada orang yang bisa lulus dari ujian kelapangan harta ada pula yang tidak. Allah berfirman:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan:
“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya”[3]
- Maratibul Qadar
Beriman kepada Takdir mencangkup empat tingkatan:
- Pertama, ilmu.
Yaitu beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara umum maupun secara terperinci, azali dan abadi, Allah mengetahui perjalanan dan keadaan seorang hamba jauh sebelum hamba tersebut diciptakan. Allah berfirman:
رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا
“Wahai Tuhan kami, Engkau telah meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu.” (QS. Ghafir: 7)
- Kedua, penulisan.
Yaitu mengimani bahwa Allah telah mencatat semua yang Ia ilmui itu di dalam Lauhul Mahfuz. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ القَلَمَ، فَقَالَ: اكْتُبْ. قَالَ: وَمَا أَكْتُبُ يَا رَبِّ؟ قَالَ: اكْتُبِ القَدَرَ، قَالَ: فَجَرَى القَلَمُ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الأَبَدِ.
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman: Tulislah! Pena itu berkata: Apa yang harus aku tulis, wahai Tuhanku? Allah berfirman: Tulislah takdir. Maka pena itu pun menulis pada saat itu juga segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga selama-lamanya.” (HR. Abu Dawud: 4700, Tirmidzi: 3319, Ahmad: 22705)
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.
“Allah telah mencatat seluruh taqdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim: 2653)
- Ketiga, iradah dan masyi’ah (kehendak).
Mengimani bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Diantara dalilnya adalah:
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّه
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,” kecuali dengan menyebut: “Jika Allah berkehendak.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)
Semua yang dikehendaki Allah pasti terjadi, berbeda halnya dengan kehendak manusia. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:
مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ
Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meski aku tidak ingin dan apa yang aku inginkan jika engkau tidak berkehendak pasti tidak akan terjadi.[4]
- Keempat, penciptaan.
Yaitu mengimani bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatunya baik dzat, sifat ataupun pergerakannya. Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dialah memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)
- Apakah Takdir Bisa Berubah?
Penulisan (catatan) takdir ada dua macam yaitu: 1) Lauh Mahfuzh dan 2) Catatan di tangan Malaikat. Takdir yang tertulis di Lauh Mahfuzh tidak akan pernah berubah dengan apapun. Adapun takdir yang tertulis di tangan malaikat inilah yang bisa berubah oleh beberapa faktor seperti doa, menyambung silaturrahmi, dll. Allah berfirman:
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39)
Para ulama mengatakan:
“Dan di sini ada satu perkara yang terkadang diungkapkan sebagai ‘perubahan takdir’, yaitu perubahan terhadap takdir yang tertulis di dalam lembaran-lembaran (catatan) para Malaikat saja. Misalnya, di dalam catatan tersebut tertulis bahwa si fulan akan sakit, lalu ia berdoa dengan suatu doa, maka Allah menyembuhkannya sehingga ia tidak jadi sakit.
Atau tertulis di dalamnya bahwa umurnya 60 tahun, kemudian ia menyambung tali silaturahmi, maka umurnya bertambah menjadi 70 tahun.
Maka ini adalah perubahan terhadap apa yang ada di dalam catatan para Malaikat, dan hal itu mungkin (terjadi) serta tidak ada penghalang baginya.
Namun, ini bukanlah perubahan terhadap apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh, bukan pula perubahan terhadap Ilmu Allah. Karena Allah Ta’ala telah mengetahui (sejak awal) bahwa orang tersebut akan melakukan hal itu (berdoa/silaturahmi), sehingga ia disembuhkan atau ditambah umurnya. Dan kedua hal ini—yaitu apa yang di Lauh Mahfuzh dan apa yang di dalam Ilmu Allah—tidak ada perubahan pada keduanya, sebagaimana penjelasan sebelumnya.
Adapun perubahan terhadap apa yang tertulis di lembaran-lembaran yang ada di tangan para Malaikat, maka hal itu adalah tetap (ada dalilnya) dan tidak ada halangan (secara syariat). Hal ini ditunjukkan oleh hadis Salman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمْرِ إِلَّا البِرُّ
‘Tidak ada yang dapat menolak qadha (ketetapan) kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.’ (HR. Tirmidzi No. 2139 dan dihasankan oleh Al-Albani). Hadis ini juga terdapat dalam riwayat Ahmad (22386) dan Ibnu Majah (90) dari hadis Tsauban dengan redaksi:
لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ
‘Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa’ (Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).” [5]
Nabi ﷺ bersabda:
مَن سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi. (HR. Bukhari: 2067, Muslim: 2557)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a dengan sebuah do’a yang tidak ada dosa serta pemutus silahturahmi melainkan Allah akan memberikannya satu dari tiga pilihan; 1) bisa jadi disegerakan do’a tersebut, 2) bisa jadi Allah simpan untuk dirinya di akhirat nanti, 3) dan bisa jadi Allah menghindarkannya dari keburukan yang semisal.” (HR. Ahmad: 17/213)
[1] Fathu Al-Bari’ 1/118, Cetakan Al-Maktabah As-Salafiyah, Cetakan I
[2] Syarh al-Aqidah al-Wasitiyah al-Fauzan: 209
[3] Tafsir As-Sa’di, hal. 635
[4] Fathul Bari: 13/457
[5] Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/264354
Semoga bermanfaat
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom





Yuk Gabung !