Beranda / Kaba Urang Dulu / Abu Al-‘Aliyah – Nikmat Islam dan Sunnah

Abu Al-‘Aliyah – Nikmat Islam dan Sunnah

Di antara sekian banyak nikmat Allah yang tak terhitung, ada dua nikmat yang paling agung. Inilah yang dahulu pernah dikatakan oleh seorang imam dari generasi tabi’in yaitu Abu al-‘Aliyah rahimahullah:

فَقَدْ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيَّ بِنِعْمَتَيْنِ، لاَ أَدْرِي أَيُّهُمَا أَفَضْلُ: أَنْ هَدَانِي لِلإِسْلاَمِ، وَلَمْ يَجْعَلْنِي حَرُوْرِيّاً

Sungguh Allah telah memberiku dua nikmat, aku tak tahu mana dari keduanya yang lebih utama; Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk Islam dan tidak menjadikanku Haruri.” (Siyar A’lam an-Nubala’: 7/236)
__________________________

Haruri adalah nama lain dari kelompok yang menyimpang, menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan menjadi salah satu fitnah terbesar di zaman itu yaitu kaum Khawarij. Sehingga dua nikmat yang dimaksud oleh beliau itu adalah nikmat Islam dan nikmat berada diatas sunnah (ajarannya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa dua nikmat ini menjadi dua nikmat terbesar? Diantara alasannya yaitu:

1. Syarat diterimanya amalan

Diriwayatkan dari Fudhail bin Iyadh rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah berikut:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2)

“’Yang paling baik‘” adalah yang paling ikhlas dan shawab. Sebuah amalan tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas dan shawab. Ikhlas apabila untuk Allah semata dan shawab apabila sesuai sunnah (tuntunan Rasulullah).” (Jamiul Ulumi  wal Hikam: 19 cet. Darul Aqidah)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

فإن للعمل المتقبل شرطين: أحدهما أن يكون خالصا لله وحده، الآخر أن يكون صوابا موافقا للشريعة، فمتى كان خالصا ولم يكن صوابا لم يتقبل

Sesungguhnya untuk amalan yang diterima ada dua syarat; Pertama, ikhlas hanya untuk Allah semata. Kedua, amalannya harus shawab dan sesuai dengan tuntunan syariat. Apabila sebuah amalan itu ikhlash namun tidak shawab (mengikuti tuntunan) maka tidak akan diterima.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/231, Ilmu Ushul al-Bida’: 62)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, sebagian salafush shalih terdahulu berkata:

ما من فعلة وإن صغرت إلا ينشر لها ديوانان، لما؟ و كيف؟ أي: لما فعلت؟ وكيف فعلت؟

Tidak ada satu amalan pun meski pun kecil melainkan dipaparkan kepadanya dua diwan (pertanyaan) yaitu Untuk apa? dan Bagaimana? maksudnya untuk apa kamu melakukannya? dan bagaimana kamu melakukannya?” (Ilmu Ushul al-Bida’: 61)

Pertanyaan pertama untuk niat dari amalan tersebut apakah untuk Allah atau untuk bukan, jika untuk Allah berarti syarat pertama terpenuhi jika tidak maka tidak. Sedang pertanyaan kedua yaitu bagaimana tata cara engkau melakukannya, jika sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka syarat kedua terpenuhi, jika tidak maka tidak.

Kedua syarat yang disebutkan oleh para ulama tersebut dibangun di atas dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya:

Pertama adalah ikhlas, Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya.” (HR. Al-Bukhori no.1 dan Muslim no.1907)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku adalah Dzar yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya’.” (HR. Muslim: 2985)

Kedua adalah mutaba’ah yaitu mengikuti tuntunan atau tata cara ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)

Oleh sebab itu, jika amalan tidak memenuhi dua syarat ini maka ia tidak akan diterima Allah, ia tak ubahnya pasir kerikil yang dimasukkan ke dalam tas musafir. Justru memberatkan dan memudharatkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ketika beramal ibadah hendaknya kita memperhatikan dua syarat ini. Jangan pernah mau mengisi tas perbekalan kita dengan pasir batu.

2. Sebab bermanfaatnya banyak ibadah

Orang-orang Khawarij (Haruri) sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, adalah para ahli ibadah yang sangat zuhud terhadap dunia, secara kasat mata mereka banyak sekali ibadahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat:

لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ

Bacaan al-Qur’an kalian tidak ada apa-apanya dibanding bacaan mereka. Banyaknya shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding dengan shalat mereka dan puasa kalian juga tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka. (HR. Muslim: 1066)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ

Salah seorang dari kalian akan merendahkan shalatnya jika bersama dengan shalat mereka, puasanya dibandingkan puasa mereka. (Muttafaqun alaih)

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, adalah diantara sahabat yang pernah datang langsung ke tempat mereka, beliau mengatakan:

فَدَخَلْتُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ أَرَ أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنْهُمْ، أَيْدِيهِمْ كَأَنَّهَا ثِفَنُ الْإِبِلِ [أي غليظة]، وَوُجُوهُهُمْ مُعَلَّمَةٌ مِنْ آثَارِ السُّجُودِ

Lalu aku pun masuk ke tengah-tengah kaum yang aku tidak pernah melihat puncak kesungguhan dalam ibadah melebihi mereka, tangan-tangan mereka seperti lutut unta (kasar), dan wajah-wajah mereka berbekas karena bekas banyaknya sujud. (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Mushannaf)

Namun meski demikian banyaknya ibadah mereka semua itu tidak bermanfaat bagi mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Di akhir zaman nanti, akan mucul suatu kaum yang umur mereka masih muda belia dan akal mereka pun masih bodoh. Mereka mengatakan sesuatu yang baik (namun untuk tujuan keburukan). Mereka juga membaca Al Qur`an, namun tidak sampai melewati batas kerongkongan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya.” (HR. Bukhari: 5057, Muslim: 1066)

Mengapa bisa demikian? Karena mereka menyelisihi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Sebab bermanfaatnya akhlak pada sesama

Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, aku pernah bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’an pada masa jahiliyyah selalu bersilaturrahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu memberikan manfaat untuknya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, sebab dia belum mengucapkan, ‘Rabbku ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan’.” (HR. Muslim: 214)

Lihat hadits ini dan renungkan dengan seksama, Ibnu Jud’an itu adalah orang yang sangat baik dan bagus sekali akhlaknya, dia yang selalu menyambung silaturrahim, memberi makan orang-orang miskin. Tapi itu semua tidak bermanfaat kepadanya sedikitpun, kenapa? Karena dia tidak beriman kepada Allah, di bukan seorang muslim.

Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang meragukan kebaikannya. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang dirinya:

  إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ فِي رِجْلَيْهِ نَعْلَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib, pada kedua kakinya terdapat sepasang sandal dari api, sementara otaknya mendidih karena keduanya.” (HR. Ahmad: 2558)

Maka dari sini kita tahu bahwa beriman lebih penting daripada akhlak dan adab kepada orang lain. Dengan kata lain akhlak kepada Allah lebih utama daripada akhlak kepada makhluk. Lihat Ibnu Jud’an ini kurang apalagi kebaikan dan kemuliaan akhlaknya, akan tetapi itu sama sekali tidak dianggap karena dia tidak tahu tauhid. Karenanya, kebaikan orang-orang kafir tidak sedikitpun bermanfaat bagi mereka, sebab kekafiran mereka itulah yang telah menghapus semua kebaikan mereka. Allah berfirman:

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَّحْجُورًا، وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa.” Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqan: 22-23)

Oleh sebab itu, marilah kita berusaha mensyukuri dua nikmat besar ini. Mudah-mudahan Allah mewafatkan kita di atas keduanya. Amin.

Baca juga Artikel:

Sudah Benarkah Islamku?

Kritislah Beragama Karena Jalan Kesesatan Lebih Banyak

Ditulis di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Jum’at 23 Rabi’ul Akhir 1441H/ 20 Desember 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Syarhus Sunnah – Makna Judul dan Sebab Penulisan Kitab Syarhus Sunnah Al-Muzani

Makna Judul Kitab; Syarhus Sunnah Sebelum kita masuk ke makna dari judul kitab, baiknya kita …

Tulis Komentar

WhatsApp chat