Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Anak Wajib Menuntut Ilmu

Anak Wajib Menuntut Ilmu

Anak wajib menuntut ilmu bila dia sudah mampu berbicara, sekalipun belum lancar dan belum sempurna akalnya dan belum baligh. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Ibnu Majah: 1/269, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihut Targhib: 1/17)

Hadits ini menunjukkan umum, semua kaum muslimin wajib menuntut ilmu, yang belum baligh atau yang sudah, walaupun kewajibannya berbeda. Seperti halnya Rasulullah memerintah orang tua agar menyuruh anaknya shalat ketika berumur tujuh tahun, bahkan disuruh mencambuknya bila berumur sepuluh tahun jika ia enggan shalat.

Siapakah yang wajib mengajari mereka?

Anak yang masih kecil tentu pendidiknya adalah orang tuanya, atau yang mewakilinya seperti pengasuh dan yang lainnya. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu ketika beliau masih kecil sering tinggal di rumah Rasulullah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan beliau:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, berilah dia pemahaman agama dan berilah dia ilmu tentang tafsir.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani)

Riwayat yang lain, beliau Shallallahu’alaihi wasallam mendoakan Ibnu Abbas:

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

“Ya Allah, berilah dia ilmu al-Qur’an.” (HR. Bukhari: 1/145)

Doa beliau kepada keponakannya yang masih kecil ini memberi isyarat bahwa anak kecil wajib menuntut ilmu. Dan untuk meraih ilmu tidak cukup hanya dengan berdoa, sebagaimana Allah Ta’ala memberi ilmu kepada Rasulullah lantaran belajar. Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah surat tentang wajibnya menuntut ilmu, yaitu surat al-‘Alaq.

Bukti lain wajibnya anak kecil diajari agama, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajari Ibnu Abbas ilmu tauhid, padahal Ibnu Abbas masih kecil. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu berkata, “Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah, beliau bersabda, ‘Wahai bocah, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; peliharalah (hak) Allah niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya berada di hadapanmu (melindungimu). Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jika umat ini bersatu untuk memberi suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberi manfaat apapun kepadamu selain apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Seandainya mereka juga bersatu untuk mendatangkan madharat kepadamu dengan suatu madharat, niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan madharat kepadamu dengan sesuatu pun selain apa yang telah Allah tetapkan atas dirimu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran kertas telah kering. (Shahih. HR. at-Tirmidzi, al-Misykah: 5302 dan Zhilal al-Jannah: 316-318)

Anak kita belajar ilmu apa?

Jika kita kembali kepada penggunaan kalimat ilmu di dalam al Qur’an, hadits yang shahih atau keterangan ulama, maka al-Ilmu adalah al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Adapun urusan dunia, Rasulullah tidak menyebutnya “ilmu” tetapi menyebutnya perkara, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamulah (sahabat) yang lebih tahu dalam urusan keduniaanmu.” (HR. Muslim)

Tidak seperti keadaan umat Islam zaman sekarang. Pada umumnya anak kecil diajari menyanyi, bahasa Inggris dan ilmu duniawi lainnya, namun lupa dengan al-Quran. Seandainya hal ini benar, tentu Imam Syafi’i tidak menghafal al-Qur’an ketika berumur 7 tahun.

Imam al-Muzani berkata, Saya mendengar asy-Syafi’i berkata, “aku telah hafal al-Quran sedangkan saya masih berumur 7 tahun, dan saya menghafal kitab al-Muwaththa Imam Malik berumur 10 tahun.”

Sufyan Ibnu Uyainah apabila ada orang yang bertanya kepada beliau tentang masalah tafsir al-Quran, beliau menyuruh penanya supaya bertanya kepada asy-Syafi’i, dan beliau berkata, Tanya anak kecil itu (maksudnya asy-Syafi’i).

Sungguh amat indah hidup pendahulu kita lantaran ilmu akhirat yang mereka pelajari, sehingga mereka mendapat petunjuk. Mereka bahagia dengan orang tua dan masyarakatnya, tetapi kita sekarang hidup di zaman fitnah; dunia yang disembah, akhirat ditinggalkan, kebodohan merajalela, sehingga tenggelamlah ilmu agama. Ini pertanda dekatnya hari kiamat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Sesungguhnya di antara tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinahan secara terang-terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) 50 perempuan sama dengan seorang laki-laki.” (HR. Bukhari: 79)

Keterangan ini mengingatkan kita agar kita mendahulukan pengajaran anak kita dengan ilmu al-Qur’an dan hadits yang shahih. Mengajari anak kita bagaimana beribadah dan hidup menurut sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.

Bagaimana mengajarkan ilmu din (agama) kepada anak

Anak yang masih kecil tentu belum mampu membaca dan menulis dalil, tetapi bukan berarti anak tidak mampu memahami dalil. Apabila orang tua senantiasa memantau anaknya, misal; ketika anak kecil yang kebiasaannya makan dan minum dengan tangan kiri, maka orang tua, pengasuh atau pendidik segera membetulkan tangannya agar makan dengan tangan kanan, maka anak akan terbiasa makan dengan tangan kanan. Jika anak mampu berpikir, alangkah baiknya bila orang tua membacakan dalilnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Janganlah kamu makan dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)

Ketika anak bersin, segera pendidik menuntunnya agar ia membaca “alhamdulillah”, lalu orang tua menjawab, “yarhamukallah”, kemudian menuntun anaknya agar membaca lagi, “yahdikumullahu wa yushlih balakum, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Jika anak itu sudah bisa membaca, alangkah baiknya bila dibacakan haditsnya. Begitu pula anak ketika mau masuk dan keluar dari WC, hendaknya diajari doanya. Ketika anak sedang membentak orang tua, kita bacakan surat al-Isrā` ayat: 23 agar mereka tahu bahwa Allah melarang anak membentak orang tua.

In sya’a Allah jika semua tingkah laku anak kita hubungkan dengan ilmu al-Qur’an dan hadits yang shahih, masa depan mereka ketika sudah waktunya mampu membaca dan menulis dalil, akan lebih tanggap dan mudah mengingat, bahkan mudah mengamalkannya. Ini semua tergantung keilmuan pendidik dan keuletannya ketika menghadapi perilaku anak didiknya.
Kami yakin bila hal ini bisa kita terapkan di rumah, kita akan bahagia dengan kepandaian anak kita yang akan menjadi penyejuk hati dan nikmat yang besar buat orang tua yang beriman in sya’a Allah.

Ilmu awal dari semua urusan

Ilmu lawannya bodoh. Bodoh itu kegelapan, membuat gelisah, merusak dan membinasakan. Begitulah kita saksikan orang kafir tatkala mereka menolak agama Islam. Bukankah orang sesat akan gelisah dan hilang kepercayaan dirinya? Bahkan boleh jadi menghabisi nyawanya? Maka bagaimana dengan orang yang tidak tahu ilmu Islam, tentu bahayanya lebih besar.

Berbeda dengan orang yang berilmu din. Ia (ilmu) akan menerangi hati, menenangkan jiwa. Ilmu mengawali semua perbuatan. Orang yang cerdas adalah orang yang berpikir sebelum berbicara dan beramal. Anak hendaknya dilatih demikian. Agar tidak sia-sia waktu dan pekerjaan mereka, orang tua hendaknya senantiasa memantau perkataan dan perbuatan mereka. Jika mungkin, mereka ditanya, mengapa berkata demikian? Mengapa kamu berbuat demikian? Agar mereka tanggap bahwa apa yang mereka kerjakan didasari dengan ilmu. Jika mereka tidak mampu menjawab, pendidiklah yang menjawab agar ilmu tetap menjadi pemimpin mereka sebelum melangkah. Imam Bukhari Rahimahullah berkata, “Wajib berilmu sebelum berbicara dan beramal, (lalu membacakan ayat 19 dari QS. Muhammad). Allah memulainya dengan ilmu dan sesungguhnya orang yang berilmu itu pewarisnya para Nabi.” (Shahih Bukhari)

Keutamaan ilmu untuk anak

Jika anak semenjak kecil sudah dikenalkan ilmu al-Qur’an dan hadits, walaupun dengan cara menasihati, menegur, memerintah dan melarang, in sya’a Allah masa depan mereka akan menjadi anak yang shalih dan shalihah dengan izin Allah. Al-Quran dan Sunnah akan menjadi akhlaknya.
Aisyah pernah ditanya, “Bagaimana akhlak Rasulullah?” Aisyah Radhiallahu’anha menjawab, “Akhlak beliau adalah al-Quran.” (HR. Ahmad)

Dengan kembali kepada ilmu agama Islam segala sesuatu yang awalnya jelek menjadi baik, awalnya kufur menjadi iman, awalnya durhaka kepada orang tua menjadi taat kepada orang tua, in sya’a Allah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Shahih Bukhari: 2907)

Akhirnya, semoga Allah memberkahi hidup kita semua. Aamiin

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Renungan Dari Kemarau Panjang dan Kekeringan

Berdasarkan analisis BMKG, pada tahun 2019 ini, Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang cukup …

Tulis Komentar

WhatsApp chat