Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / BAB 8 : Tabarruk; Ngalap Berkah – Silsilah Akidah

BAB 8 : Tabarruk; Ngalap Berkah – Silsilah Akidah

Tabarruk adalah mencari keberkahan (ngalap berkah). Dan Allah subhanau wata’ala memerintahkan kita untuk mencari keberkahan dalam setiap keadaan kita. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS Ali ‘Imron : 73)

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga.” (QS. An Najm: 19-20)

Abi Waqid Al Laitsi menuturkan: “Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sepokok pohon bidara yang dikenal dengan Dzatu Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, di saat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata: “ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

اللهُ أَكْبَرُ إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian) demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa: “buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab: sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti (faham)” kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.”(HR. Tirmidzi)

===============================

Tabarruk yaitu mencari keberkahan (ngalap berkah). Sebenarnya kita diperintahkan oleh Allah untuk mencari keberkahan dalam setiap keadaan kita. Namun karena jauhnya manusia dari ilmu agama, maka banyak orang yang jatuh dalam kesalahan. Sehingga mereka mencari keberkahan pada hal-hal dan sesuatu yang tidak ada dalilnya.

Di negeri ini, ada saja ceritanya, yang ngalap berkah dengan pohon, batu keramat, keris sakti, dst, banyak. Air celupan batu Ponari (Ponari Sweat), dulu sempat mengalahkan pamor Pocari Sweat.

Ada juga yang ngalap berkah dengan tanah kuburan pak kiyainya. Sehingga kuburannya harus ditambahkan tanah terus karena habis diangkut peziarah. Bahkan, yang lebih dahsyat “Ngalap berkah dari tai’ nya kiay Slamet, ngalap berkah dengan tai kebo.” Karena, kiyai Slamet bukan orang, tapi kebo.

Allah yang menetapkan keberkahan

Keberkahan semuanya di tangan Allah. Itu artinya jika kita menginginkan keberkahan maka mintalah kepada pemiliknya, yaitu Allah. Allah berfirman:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali ‘Imran : 26)

Allah juga berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (QS. An-Nahl: 53)

Allah yang memberikan keberkahan kepada sebagian makhluk-Nya. Itu artinya, penetapan sesuatu mempunyai keberkahan adalah hak Allah. Dan kita tidak bisa mengetahuinya kecuali melalui wahyu. Dengan demikian, berarti penetapan sesuatu itu berkah harus dengan dalil. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS Ali ‘Imron : 73)

Macam-macam keberkahan

keberkahan yang diberikan oleh Allah kepada sebagian makhluknya terbagi menjadi dua yaitu keberkahan secara dzat dan keberkahan secara maknawi.

Di antara keberkahan secara dzat yaitu:

1. Air hujan, Allah berfirman menerangkan tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (QS. Qaaf : 9)

Baca juga:
Cobalah Hujan-hujanan, Air Hujan Itu Berkah Jangan Malah Mengerutu

2. Air zamzam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim no. 4520)

3. Kurma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ المُسْلِمِ … هِيَ النَّخْلَةُ

“Sesungguhnya ada sebuah pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim….yaitu pohon kurma” (HR Al-Bukhari No. 5444)

Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa yang dipagi hari (sebelum makan yang lain) memakan 7 butir kurma ‘ajwah maka pada hari itu tidak ada racun dan sihir yang memudorotkannya.” (HR Al-Bukhari no 5445 dan Muslim no 2047

4. Pohon Zaitun, Allah berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. (QS An-Nuur : 35)

5. Jasad para Nabi, Allah berfirman:

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ ، وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. As-Shaffaat: 112-113)

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ، وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada (QS Maryam : 30-31)

Di antara keberkahan maknawi:

1. Keberkahan Masjidil Haram, Madinah dan Masjidil Aqsha. Allah berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (QS Ali Imron : 96)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Isroo’ : 1)

Maka keberkahannya diraih bukan dengan mengambil pasir atau tanah dari tempat-tempat tersebut, akan tetapi dengan banyak beribadah di tempat-tempat tersebut.  Betapa banyak orang musyrik Quraisy tinggal di Makkah, orang Yahudi dan kaum munafiqin yang tinggal di kota Madinah, akan tetapi mereka tidak meraih keberkahan kota tersebut karena mereka tidak beribadah dengan ibadah yang benar.

Demikian pula halnya dengan ka’bah, maka keberkahannya bukan pada batunya. Bahkan Umar berkata kepada Hajar Aswad yang merupakan batu termulia di dunia setelah menciumnya:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhya aku tahu engkau adalah batu, tidak bisa memberi kemudorotan dan tidak juga kemanfaatan. Kalau bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu maka aku tidak akan menciummu” (HR Al-Bukhari No. 1597 dan Muslim No. 1270)

Jadi keberkahan pada hajar aswad adalah tatkala menciumnya bukan pada dzatnya, keberkahannya adalah maknawi yaitu keberkahan berittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Haram tabarruk kepada sesuatu yang tidak ada dalilnya

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ ، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga.” (QS. An Najm: 19-20)

Al-Laata ada dua bacaan yaitu:

1. Al-Laata (dengan tanpa mentasydid huruf ta’) adalah sebuah batu putih yang dipahat serta dibangunkan rumah padanya dengan sitar/kain yang menutupinya dan ada sadanah-nya (para juru kuncinya). Al-Laata diagungkan di kota Thoif oleh kabilah Ats-Tsaqiif.

2. Al-Laatta (dengan mentasydid huruf ta’) diambil dari nama seorang yang shalih yang kerjaannya membuat adonan makanan untuk dibagi-bagikan kepada jama’ah haji.

Al-‘Uzza, yaitu pohon yang dibangunkan rumah padanya serta diberikan sitar/kain, terletak di Nakhlah (antara ko(antara kota Madinah dan Mekah) dan diagungkan oleh kaum Quraisy.

Al-Manaat adalah berhala yang terletak di al-Musyallal di Qudaid (yang terletak anta Mekah dan Madinah) dan diagungkan oleh kabilah al-Khuza’ah, al-Aus, dan al-Khozroj.

Dari keterangan ini kita bisa mengambil pelajaran tentang haramnya Tabarruk kepada berhala-berhala dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk batu (seperti Manaat), ada yang berupa kuburan (sebagaimana berhala al-Laata jika dibaca dengan mentasydid huruf ta’), dan ada juga yang berupa pohon (seperti al-‘Uzza).

Pelajaran Penting:
1. Keberkahan ada di tangan Allah dan Dialah yang memberikan kepada makhluk yang Dia kehendaki.
2. Mencari keberkahan pada hal-hal yang tidak ada dalilnya maka itu adalah Tabarruk terlarang.
3. Haramnya Tabarruk kepada berhala-berhala dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk batu (seperti Manaat), ada yang berupa kuburan (sebagaimana berhala al-Laata jika dibaca dengan mentasydid huruf ta’), dan ada juga yang berupa pohon (seperti al-‘Uzza).
4. Akan ada sebagian dari umat ini yang akan terjerumus dalam perbuatan syirik umat terdahulu.

Selesai disusun di Kranggan, Senin, 28 Okt 2019

Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom

Baca juga:

Tabarruk; Ngalap Berkah

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Tiga Perkara Yang Wajib Diketahui Dan Diamalkan Oleh Muslim

Pada pembahasan ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ingin memaparkan tiga perkara yang wajib …

Tulis Komentar

WhatsApp chat