TIDAK ADA KURMA, AIR PUTIH SAJA!

Berbuka puasa adalah ibadah, diantara sunnahnya adalah berbuka dengan perbukaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengatakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab,  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr, dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air.” (HR. Abu Dawud: 2356)

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menerangkan urutan dalam berbuka. Pertama dengan ruthab yaitu kurma basah. Inilah santapan berbuka puasa yang paling utama. Jika tidak ada maka dengan tamr yaitu kurma kering. Dan jika tidak ada keduanya maka berbukalah dengan air putih biasa.

Demikianlah agama kita, sangat mudah dan tak sedikitpun memberatkan. Sederhana saja, tidak perlu menyiapkan hidangan tertentu, tidak perlu beli ini dan itu, maka dari sana siapapun kita niscaya mampu melakukan sunnah nabi ini.

Anda yang punya kelapangan rezeki, belilah kurma. Jika tidak mampu maka cukuplah dengan air putih saja. Tidak perlu memberatkan diri, tidak perlu juga bersedih melihat perbukaan orang lain. Karena yakinlah bahwa semua yang sesuai sunnah itu pasti lebih baik.

Tidak perlu juga mencari pengganti kurma berupa makanan yang manis. Ucapan; “Berbukalah dengan yang manis-manis,” bukan hadits Nabi. Itu hanya iklan televisi. Oleh sebab itu, memang yang terbaik adalah apa yang disebutkan dalam hadits Nabi tadi. Ingat, segala sesuatu yang sesuai dengan sunnah pasti lebih baik.

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Mengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !