Tiga Faidah Hadits; Antara Setan dan Adzan – Khutbah Jum’at

Tema khutbah kali ini membahas faidah dari hadits antara setan dan adzan

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَيُّها المُسْلِمُونَ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فقد فاز المتقون قال الله: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…..

Mari kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengerjakan perintah-perintah Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…..

Di kesempatan yang baik ini kita akan membaca dan mengambil faidah berharga dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hadits tentang hubungan antara setan (jin) dan suara azan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata; Nabi ﷺ bersabda:

 إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ الْأَذَانَ فَإِذَا قُضِيَ الْأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا مَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِي كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Jika adzan untuk shalat dikumandangkan maka setan akan lari terkentut-kentut ke tempat yang dia tidak dapat mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah selesai, maka setan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi untuk mengganggu pikiran seseorang yang tengah shalat seraya berkata; Ingatlah ini dan itu, sesuatu yang semestinya tidak diingat sehingga seseorang membayangkannya hingga akhirnya orang itu tidak tahu berapa rakaat shalat yang sudah dia laksanakan. Oleh karena itu bila seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dari shalat yang sudah dikerjakannya, apakah tiga atau empat rakaat maka hendaklah dia melakukan sujud dua kali dalam posisi duduk”. (HR. Bukhari: 1231, Muslim: 389)

Dari hadits yang mulia ini tentu banyak faidah dan hukum-hukum yang dapat dipetik, namun di kesempatan ini kita hanya menyebutkan tiga saja.

Pertama, menghilangkan kekhusyukan shalat adalah misi utama setan.

Kekhusyukan adalah ruh dari shalat, karena itulah setan selalu berusaha untuk mengambilnya dari seorang yang shalat.  Dia akan menjadikan seorang shalat tanpa menghadirkan hati sibuk memikirkan perkara-perkara diluar shalat.

Jika kita merasa tidak bisa khusyu di dalam shalat maka itu tandanya kita tengah diganggu oleh setan. Setiap muslim yang shalat pasti diganggu oleh setan. Kewajiban kita adalah berusaha melawan kejahatan setan itu, jangan membiarkannya, salah satunya dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits.

Dari seorang sahabat bernama ‘Utsman bin Abu Al ‘Ash, ia datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّي

“Ya, Rasulullah! Aku sering diganggu setan dalam shalat, sehingga bacaanku menjadi kacau karenanya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Ya, yang demikian itu memang gangguan setan yang dinamakan Khanzab. Karena itu bila engkau merasakan ganggunya, maka segeralah mohon perlindungan kepada Allah dari godaannya, dan meludah tipis ke sebelah kirimu tiga kali!’ Utsman berkata: ‘Aku kemudian melakukan hal itu dan Allah pun menghilangkan ganguan setan itu dariku.’” (HR. Muslim: 2203)

Kedua, mencari tempat tinggal (rumah) yang masih dapat terdengar azan.

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa setan akan lari ke tempat yang tidak terdengar adzan dan menunggu sampai azan selesai dikumandangkan. Hal ini memberikan faidah berharga kepada kita bahwa tempat-tempat yang tidak dapat mendengar suara azan sama sekali adalah tempat pelarian setan. Karenanya jika kita ingin mencari tempat tinggal atau ingin membangun rumah maka carilah tempat yang masih bisa mendengar suara adzan dengan jelas. Karena suara azan yang berkumandang lima kali sehari semalam akan sangat membantu kita untuk mengusir setan- setan dari rumah kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Ketiga, adzan adalah salah satu cara untuk mengusir gangguan setan.

Mungkin ada diantara kita yang pernah diganggu oleh setan dari kalangan jin. Hal itu tidak menutup kemungkinan sebab Rasulullah ﷺ saja pernah diganggu oleh mereka, demikian pula dengan para sahabat.

Bentuk gangguan jin ini pun bermacam-macam, baik yang berupa sesuatu yang dilihat maupun melalui sesuatu yang didengar. Seperti contohnya ada suara yang memanggil, ada penampakan yang menakutkan, dst.

Jika kita dalam kondisi demikian, maka salah satu cara untuk menghilangkan gangguan tersebut adalah dengan adzan. Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada zaman tabi’in dahulu. Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Muslim, dari Suhail dia berkata;

أَرْسَلَنِي أَبِي إِلَى بَنِي حَارِثَةَ قَالَ وَمَعِي غُلَامٌ لَنَا أَوْ صَاحِبٌ لَنَا فَنَادَاهُ مُنَادٍ مِنْ حَائِطٍ بِاسْمِهِ قَالَ وَأَشْرَفَ الَّذِي مَعِي عَلَى الْحَائِطِ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِأَبِي فَقَالَ لَوْ شَعَرْتُ أَنَّكَ تَلْقَ هَذَا لَمْ أُرْسِلْكَ وَلَكِنْ إِذَا سَمِعْتَ صَوْتًا فَنَادِ بِالصَّلَاةِ فَإِنِّي سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ وَلَّى وَلَهُ حُصَاصٌ

Ayahku pernah mengutusku pergi ke perkampungan Bani Haritsah, maka aku pergi bersama budak kami -atau sahabat kami-, tiba-tiba (di perjalanan) ada seseorang memanggil namanya dari balik kebun. Sahabat kami ini pun segera memeriksa kebun, namun ia tidak melihat siapa pun. Aku pun mengabarkan hal itu kepada ayahku, maka dia berkata; ‘Kalau aku tahu kamu akan menemui hal ini, niscaya aku tidak akan mengutusmu. Akan tetapi apabila kamu mendengar suara seperti itu maka adzanlah seperti adzan untuk shalat, sebab aku pernah mendengar Abu Hurairah menceritakan dari Rasulullah, beliau bersabda: “Apabila seorang muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat, maka setan akan lari sambil terkentut-kentut.” (HR. Muslim: 389)

Oleh sebab itu, jika memang kita diganggu oleh setan dari kalangan jin maka cobalah kumandangkan adzan, sambil memohon perlindungan kepada Allah.

Semoga yang sedikit ini memberikan tambahan ilmu kepada kita semua. Kita berdo’a meminta kepada Allah, agar Allah menjauhkan kita, melindungi kita semua dari segala bentuk gangguan setan sehingga kita dapat selamat di dunia dan akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا نَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ يَحْضُرُونا

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !