
Mencintai Saudara Muslim Adalah Bukti Keimanan – Hadits Ke-13 Arbain Nawawi
Teks Hadits Dan Terjemahan
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah ﷺ, dari Nabi ﷺ bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]
Iman yang dinafikan dalam hadits adalah kesempurnaan iman. Artinya seorang muslim yang tidak memiliki kecintaan kepada saudaranya maka imannya belum sempurna
Saudara yang dimaksud adalah saudara seagama atau seiman. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. (QS. Al-Hujurat: 10)
Adapun orang-orang kafir atau munafik maka tidak termasuk dalam hadits ini.
Akidah Wala dan Bara’
Salah satu hal yang dapat mengantarkan seorang mukmin ke puncak kesempurnaan iman adalah wala’ dan bara’ karena Allah. Wala’ artinya mencintai sesuatu karena Allah dan Bara’ artinya membenci sesuatu karena Allah. Ketika seorang mampu menerapkan hal ini dalam dirinya maka ia akan sampai pada puncak kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ وَأَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَنْكَحَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ
“Barangsiapa memberi karena Allah, mencegah karena Allah, marah karena Allah dan menikah karena Allah berarti sempurnalah keimanannya.” (HR. Tirmidzi: 2521)
Ada 3 golongan berkaitan dengan wala dan bara’, yaitu
- Orang-orang yang wajib diberikan Wala’ secara penuh
Mereka adalah para nabi, para sahabat Nabi, Tabiin, Tabiut Tabiin, para ulama dan ahli ibadah. Wajib bagi setiap muslim mencintai mereka secara penuh. Allah berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebahagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)
Nabi ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang dan saling mengasihi seperti satu jasad, apabila satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh jasad akan ikut merasa demam.” (HR. Muslim: 6751)
- Orang-orang yang wajib diberikan Bara’ secara penuh
Mereka adalah Iblis, orang-orang kafir, munafik dan seterusnya dari orang-orang yang memusuhi Allah. Allah berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sungguh, telah ada teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah saja.'” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Allah juga berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
- Orang-orang yang wajib diberikan Wala’ dan Bara secara proposional
Mereka adalah orang-orang muslim yang terjatuh pada dosa besar (orang fasiq). Maka mereka dicintai dari sisi keimanannya dan dibenci dari sisi maksiatnya.
Hadits bab ini adalah perintah agar kita mencintai saudara kita sesama muslim semuanya. Baik golongan yang wajib diberikan kecintaan penuh maupun golongan yang diberikan kecintaan tidak penuh. Berbuat baik dan mencintai orang-orang muslim yang shalih mungkin tidak berat. Yang berat adalah mencintai saudara muslim yang jatuh pada maksiat. Disinilah praktek hadits ini lebih ditekankan lagi.
Oleh karena itu, ketika ada saudara sesama muslim jatuh kepada perbuatan dosa besar maka kita wajib membenci maksiatnya namun tetap harus mencintainya karena ia masih saudara kita seiman. Sebagaimana ketika kita berbuat dosa, tergelincir ke dalam lubang maksiat, kita ingin ada orang lain yang membantu kita untuk keluar dari lubang dosa tersebut maka demikian pula ketika ada saudara kita yang jatuh kepada maksiat, wajib bagi kita untuk menolongnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia menceritakan: “Dihadapkan kepada Nabi ﷺ seorang laki-laki peminum khamr, Nabi ﷺ bersabda: Pukullah dia! Abu Hurairah berkata: Diantara kami (para sahabat) ada yang memukul dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandal dan pakaiannya. Ketika laki-laki itu pergi, sebagian orang berkata: Akhzakallah (semoga Allah menghinakanmu). Maka Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تَقُولُوا هَكَذَا، لاَ تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ
Janganlah kalian mengatakan seperti ini, jangan membantu setan untuk menggelincirkannya. (HR. Bukhari:6777)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan lafazh:
لَا تَقُولُوا هَكَذَا، لَا تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ، وَلَكِنْ قُولُوا: رَحِمَكَ اللهُ
Janganlah kalian mengatakan seperti ini, jangan membantu setan untuk menggelincirkannya. Akan tetapi, katakanlah:rahimakallah (semoga Allah merahmati mu). (HR. Ahmad: 7985)
Dalam riwayat Abu Dawud dan Baihaqi dengan redaksi: “Maka mereka pun mencelanya, dengan mengatakan:
أَلَا تَسْتَحِي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصْنَعُ هَذَا
Tidakkah engkau merasa malu dengan Rasulullah ﷺ, engkau berbuat seperti ini?!
Kemudian laki-laki itu pun dilepaskan. Pada saat dia telah pergi, sebagian orang mendoakan keburukan dan mencelanya, ada yang mengatakan: Allahumma akhzihi (Ya Allah hinakanlah dia), Allahummal ‘anhu (Ya Allah laknatlah dia), maka Rasulullah ﷺ pun bersabda:
لَا تَقُولُوا هَكَذَا، ولَكِنْ قُولُوا: اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ , اللهُمَّ ارْحَمْهُ
Janganlah kalian mengucapkan seperti ini, akan tetapi ucapkanlah: Allahummaghfir lahu (Ya Allah,ampunilah dia), Allahummarhamhu (Ya Allah rahmatilah dia). (HR. Abu Dawud: 4478, Baihaqi: 17495, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Dari Abu Qilabah, dia menuturkan: lewat di hadapan Abu Darda’ seorang laki-laki yang tengah digiring untuk menerima hukum had yang menimpanya. Lalu sebagian orang pun mencercanya. Maka Abu Darda’ pun berkata:
لَا تَسُبُّوا أَخَاكُمْ ، وَاحْمَدُوا اللَّهَ الَّذِي عَافَاكُم ، قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ رَأَيْتُمُوهُ فِي قَلِيبٍ أَكُنْتُمْ مُسْتَخْرِجِيهِ ؟ ، قَالُوا: نَعَمْ قَالَ: فَلَا تَسُبُّوا أَخَاكُمْ، وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَلَى الَّذِي عَافَاكُمْ
Janganlah kalian mencela saudara kalian, pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian. Bagaimana pendapat kalian jika seandainya kalian melihatnya jatuh kedalam sebuah sumur apakah kalian akan berusaha mengeluarkannya? Mereka menjawab: Ya, tentu. Maka Abu Darda’ pun kembali mengatakan: Maka kalau demikian janganlah kalian mencela saudara kalian, pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian.
Lalu ada yang berkata kepada Abu Darda’: Apakah engkau membencinya? Maka ia menjawab:
إِنِّي لَا أُبْغِضُهُ، وَلَكِنْ أُبْغِضُ عَمَلَهُ ، فَإِذَا تَرَكَهُ كَانَ أَخِي
Sesungguhnya aku tidaklah membencinya, akan tetapi aku membenci perbuatannya. Apabila dia meninggalkan perbuatanny itu maka ia adalah saudaraku. (Az-Zuhd Abu Dawud: 232)
Bukti Cinta Kepada Saudara Sesama Muslim
Mencintai saudara sesama muslim harus memiliki bukti. Tidak sekedar ucapan dimulut. Diantara bukti cinta adalah:
- Menunaikan hak sesama muslim
Nabi ﷺ bersabda:
حَقُّ المسلِمِ على المسلِمِ ستٌ : إذا لقيتَهُ فَسلِّمْ علَيهِ ، وإذا دَعاكَ فأجِبْهُ ، وإذا استنصَحَكَ فانصَحْ لهُ ، وإذا عَطسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ ، وإذا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وإذا ماتَ فاتْبَعْهُ
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Beliau ditanya: “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya, Jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, Jika ia meminta nasihat kepadamu, maka berilah ia nasihat, Jika ia bersin lalu memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), maka doakanlah ia (dengan Yarhamukallah), Jika ia sakit, maka jenguklah ia, dan Jika ia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya (hingga ke pemakaman). (HR. Bukhari: 1240, Muslim: 2162)
- Bahagia saat mereka bahagia sedih saat mereka bersedih
Hadits yang sedang kita bahas sangat jelas menunjukkan akan hal ini. Praktek dari pra salaf pun sangat banyak.
Ketika Aisyah dilanda musibah besar berupa tuduhan keji atas dirinya ia tidak henti menangis. Saat itulah seorang wanita anshar datang tanda banyak ucap dia datang hanya untuk menagis bersama Aisyah. Aisyah berkata:
فَبَيْنَمَا هُمَا [أَبَوَايَ] جَالِسَانِ عِنْدِي، وَأَنَا أَبْكِي، إذْ اسْتَأْذَنَتْ عَلَيَّ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ، فَأَذِنْتُ لَهَا، فَدَخَلَتْ فَبَكَتْ مَعِي
Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di sisiku dan aku terus menangis, tiba-tiba seorang wanita dari kalangan Anshar meminta izin untuk masuk. Aku pun mengizinkannya, lalu ia masuk dan ikut menangis bersamaku (HR. Bukhari: 2661 dan Muslim: 2770)
Meskipun wanita Anshar tersebut tidak mengucapkan kata-kata mutiara penghibur, namun kehadiran fisik, empati yang tulus, serta air mata yang ia tumpahkan bersama Aisyah memberikan ketenangan dan penghiburan tersendiri bagi Aisyah
Demikian juga saat saudara kita bahagia maka ikutlah berbahagia bersamanya. Ketika Ka’ab bin Malik dan 2 sahabatnya diterimah taubahnya oleh Allah setelah 50 hari diboikot (didiamkan) oleh semua orang sebagai hukuman atas ketidakuktannya mereka di perang Tabuk maka para sahabat yang lainnya ikut bergembira. Dia bercerita:
“Maka ketika aku sedang duduk dalam kondisi seperti yang Allah sebutkan—di mana jiwaku merasa sempit dan bumi ini terasa sempit bagiku dengan segala keluasannya—tiba-tiba aku mendengar suara seorang penyeru yang berada di atas gunung Sal’u dengan suaranya yang paling tinggi: ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!’
Ka’ab berkata: ‘Maka aku langsung bersujud (syukur) dan aku tahu bahwa jalan keluar telah tiba. Rasulullah ﷺ mengumumkan diterimanya taubat kami oleh Allah ketika selesai shalat Subuh. Orang-orang pun pergi untuk memberikan kabar gembira kepada kami, dan para pemberi kabar gembira juga pergi menuju kedua sahabatku.
Seseorang memacu kudanya untuk mendatangi ku, dan seorang pelari dari (Bani) Aslam berlari kencang menaiki gunung (untuk menyampaikan berita), di mana suara (teriakan dari atas gunung) ternyata lebih cepat daripada kuda.
Maka ketika orang yang suaranya aku dengar datang untuk memberiku kabar gembira, aku melepaskan kedua pakaianku lalu aku berikan keduanya kepadanya sebagai hadiah atas kabar gembira yang ia bawa. Demi Allah, pada hari itu aku tidak memiliki pakaian selain keduanya. Aku pun meminjam dua helai pakaian lalu mengenakannya, kemudian aku berangkat menuju Rasulullah ﷺ.
Orang-orang menyambutku secara bergelombang untuk mengucapkan selamat atas diterimanya taubat, mereka berkata: ‘Selamat atas diterimanya taubat Allah kepadamu.’
Ka’ab berkata: ‘Hingga aku masuk ke dalam masjid, ternyata Rasulullah ﷺ sedang duduk dan orang-orang berada di sekeliling beliau. Lalu Talhah bin Ubaidillah berdiri menyongsongku dengan berlari kecil hingga ia menyalamiku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang berdiri menyambutku selain dia, dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Talhah itu.’ (HR. Bukhari: 4156)
Oleh karenanya, semua sifat yang bertolak belakang dengan hal ini dilarang. Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling hasad, saling memperdaya, saling membenci, saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang di atas pembelian yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim: 2564)
- Melapangkan kesempitan mereka
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesusahan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim: 2699)
Maka bukanlah sifat seorang mukmin, membiarkan, menghiraukan, tidak memperdulikan dan menutup mata saat ia tahu ada saudaranya sesama mukmin dalam kesusaan dan kesulitan. Soerang mukmin adalah orang yang sangat peduli terhadap kesusahan saudaranya baik dalam urusan besar maupun urusan kecil.
Zubaid bin Al-Harits Al-Yami rahimahullah, masih seorang tabi’in. Disebutkan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Shifatus Shafwah:
كَانَ زُبَيْدٌ إِذَا كَانَتِ اللَّيْلَةُ مُطِيْرَةً ، أَخَذَ شُعْلَةً مِنَ النَّارِ، فَطَافَ بِهَا عَلَى عَجَائِزِ الحَيِّ فَقَالَ : أُوْكِف عَلَيْكُمْ بَيْتٌ؟ أَتُرِيْدُوْنَ نَاراً؟ فَإِذَا أَصْبَحَ طَافَ عَلَى عَجَائِزِ الحَيِّ فَقَالَ: أَلَكُمْ فِي السُّوْقِ حَاجَةٌ؟ أَتُرِيْدُوْنَ شَيْئاً؟
Dahulu Zubaid apabila malam turun hujan maka ia mengambil obor api kemudian berkeliling ke orang-orang kampung yang lemah (fakir) seraya berkata: “Apakah rumah kalian ada yang bocor? Apakah kalian membutuhkan api?” Ketika pagi hari ia kembali berkeliling kepada mereka seraya berkata: “Apakah kalian memiliki kebutuhan dari pasar? Apakah kalian menginginkan sesuatu?” (Shifatu Ash-Shawah: 560)
- Mendoakan kebaikan untuknya
Abu Darda’ radhiyallahuanhu mengatakan: Sungguh aku selalu memohonkan ampunan dalam sujudku untuk tujuh puluh saudara-saudaraku. Aku sebut nama-nama mereka dan juga nama-nama bapak mereka. (Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad)
Nabi ﷺ pernah bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ
“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa diketahui olehnya adalah doa yang mustajabah.” (HR. Muslim)
Bahkan kepada pelaku maksiat sekalipun sebagaimana dalam hadits tentang peminum khamar sebelumnya.
- Menasehati dan memaafkan kesalahan
Dari Harun bin Abdillah Al-Hammal, ia menuturkan:
جاءني أحمَدُ بنُ حَنبَلٍ باللَّيل ِفدقَّ عليَّ البابَ، فقلْتُ: مَن هذا؟ فقال: أنا أحمَدُ، فبادَرْتُ أن خرَجْتُ إليه، فمسَّاني ومسَّيتُه، قلْتُ: حاجةً يا أبا عبدِ اللهِ؟ قال: نعَم، شغَلْتَ اليومَ قلبي، قلْتُ: بماذا يا أبا عبدِ اللهِ؟ قال: جُزْتُ عليك اليومَ وأنت قاعِدٌ تُحدِّثُ النَّاسَ في الفَيءِ، والنَّاسُ في الشَّمسِ بأيديهم الأقلامُ والدَّفاتِرُ، لا تفعَلْ مرَّةً أخرى، إذا قعَدْتَ فاقعُدْ معَ النَّاسِ!
Imam Ahmad bin Hanbal mendatangiku pada malam hari lalu mengetuk pintu rumahku. Aku bertanya: Siapakah ini? Beliau menjawab: “Aku Ahmad.” Aku pun segera keluar menemuinya, beliau mengucapkan selamat malam kepadaku dan aku membalasnya. Lalu aku berkata: Apakah ada keperluan wahai Abu Abdillah? Beliau menjawab: “Ya, hari ini engkau telah membuat pikiran sibuk.” Aku bertanya: “Karena apakah kiranya wahai Abu Abdillah?” Beliau berkata: “Siang tadi aku melewatimu, engkau tengah duduk di bawah naungan menyampaikan hadits kepada orang-orang, sementara mereka duduk di bawah terik matahari, padahal di tangan mereka terdapat pena dan buku catatan. Lain kali, janganlah engkau melakukan hal ini. Duduklah dalam keadaan yang sama dengan orang-orang.” (Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi: 14/22, dinukil dari Dorar.net)
Ketika saudara kita berbuat kesalahan maka maafkanlah. Itulah bukti keimanan kepada Allah sekaligus bukti cinta kepada sesama. Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya (seperti) langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (133) yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 133-134)
Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya. Allah berfirman:
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”.
Semoga bermanfaat
Zahir Al-Minangkabawi
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom




