Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / BAB 4 : BUAH DARI TAUHID – Silsilah Akidah

BAB 4 : BUAH DARI TAUHID – Silsilah Akidah

Buah dari tauhid akan dirasakan di dunia dan akhirat. Bahkan semua kebaikan adalah buah dari tauhid sebagaimana semua keburukan adalah buah dari kesyirikan. Di antara buah tauhid adalah:

1. Memperoleh keamanan dan hidayah

Keamanan dan hidayah adalah dua nikmat yang sangat besar. Keamanan sebagaimana kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah salah satu kunci kebahagiaan hidup, beliau ﷺ bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kamu yang di paginya dalam keadaan aman, sehat tubuhnya dan cukup makanan pokoknya untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan semua kenikmatan dunia untuknya.” (HR. Tirmidzi: 2346, ash-Shahihah: 2318)

Nikmat keamanan lebih berharga daripada nikmat makan dan minum. Karenanya Nabi Ibrahim alaihissalam mendahulukannya dalam do’a yang beliau panjatkan. Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Adapun nikmat hidayah jauh lebih penting dan berharga. Cukup satu saja dalil yang menunjukkan akan hal itu, yaitu perintah Allah kepada kita agar kita meminta hidayah kepada-Nya dalam setiap rakaat dalam shalat dengan ucapan:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6)

Dua nikmat ini (keamanan dan hidayah), hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang menauhidkan Allah. Sebagai buah dari tauhid untuk mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)

2. Masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab

Cara manusia masuk ke surga ada tiga macam: Pertama, tanpa hisab tanpa adzab. Kedua, dengan hisab tapi tanpa adzab. Ketiga, dengan hisab dan dengan adzab

Yang paling tinggi dari derajat itu semua adalah yang pertama, dimana seorang langsung masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Dan hal ini hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang sempurna tauhidnya. Dari Ibnu Abbas, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ مَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِيْ سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِيْ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذَا مُوْسَى وَقَوْمُهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيْمٌ، فَقِيْلَ لِيْ: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ، ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ، فَخَاضَ النَّاسُ فِيْ أُوْلَئِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِيْ صَحِبُوْا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِيْنَ وُلِدُوْا فِيْ الإِسْلاَمِ فَلَمْ يُشْرِكُوْا بِاللهِ شَيْئًا، وَذَكَرُوْا أَشْيَاءَ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ فَأَخْبَرُوْهُ، فَقَالَ: هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ فَقَامَ عُكَاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِىْ مِنْهُمْ، فَقَالَ: أَنْتَ مِنْهُمْ ، ثُمَّ قَالَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِيْ مِنْهُمْ، فَقَالَ : سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ

“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa lebih dahulu.” Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang- orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu? Ada di antara mereka yang berkata: “Barangkali mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: “Barangkali mereka itu orang-orang yang dilakhirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula. Kemudian Rasulullah keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur dan tidak berobat dengan cara kay, dan mereka hanya bertawakkal kepada tuhan mereka.” Kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata: Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “Ya, engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka. Rasul menjawab: “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Diharamkan (dihalangi) dari neraka

Seorang yang bertauhid akan diharamkan (dihalangi) dari neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka seorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, mengharapkan dengan ucapannya itu wajah Allah. (HR. Bukhari: 425, Muslim: 33)

Bentuk pengharaman Allah tersebut ada dua macam:

Pertama, pengharaman masuk. Maksudnya yaitu Allah akan menghalangi seseorang yang bertauhid agar tidak masuk neraka, meskipun dosanya selain syirik membumbung setinggi langit. Kalau Allah berkehendak maka Ia akan mengampuni dosa-dosa tersebut lalu memasukkan hambanya itu ke dalam surga tanpa harus masuk dulu ke dalam neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا ، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلَ مَدِّ الْبَصَرِ ، ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا ؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ ؟ فَيَقُولُ : لَا يَا رَبِّ ! فَيَقُولُ : أَفَلَكَ عُذْرٌ ؟ قَالَ : لَا يَا رَبِّ ! فَيَقُولُ : بَلَى ؛ إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً ، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ ، فَتُخْرَجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، فَيَقُولُ : احْضُرْ وَزْنَكَ ، فَيَقُولُ : يَا رَبِّ ! مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ ؟ فَيَقُولُ : إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ ، قَالَ : فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ ؛ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

Sesungguhnya Allah akan memilih seorang dari ummatku dihadapan sekian banyak makhluk nanti di hari kiamat. Kemudian dibukakan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan dosa. Setiap catatan sejauh mata memandang. Kembali Allah berkata:“Apakah ada yang engkau ingkari dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?” Orang itu mengatakan: “Tidah wahai Rabbku.” Allah bertanya: “Apakah engkau mempunyai udzur?” Ia menjawab:“Tidak ada wahai Rabbku.” Kemudian Allah berkata: “Ya, sungguh engkau memiliki kebaikan disisi kami, dan engkau tidak akan dizalimi pada hari ini.” Kemudian dikeluarkan sebuah kartu kecil yang bertuliskan : Asyhadu an la ilaha illah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Kemudian Allah berkata: “Hadirkanlah timbanganmu.” Maka orang itu pun berkata: “Wahai Rabbku apalah artinya satu kartu ini dengan sekian banyak catatan dosa ini.” Allah berkata: “Sungguh engkau tidak akan dizalimi.” Kemudian catatan-catatan dosa diletakkan di daun timbangan dan kartu diletakkan di daun timbangan yang lain. Ternyata cacatan dosa itu ringan sedangkan kartu berat. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan nama Allah. (HR. Tirmidzi: 2639, Ibnu Majah: 4300, Ash-Shahihah: 135)

Kedua, pengharaman kekekalan. Maksudnya seorang yang bertauhid meski masuk ke dalam neraka untuk menerima balasan dari dosa-dosa yang telah ia kerjakan, kelak akan dikeluarkan oleh Allah dari sana lalu dimasukkan ke dalam surga. Dia dihalangi oleh Allah agar tidak kekal di dalam neraka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dan di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kebaikan. (HR. Bukhari: 44, Muslim: 193)

Pelajaran Penting:
1. Ahlu tauhid akan mendapatkan keamanan dan pentunjuk di dunia dan akhirat.
2. Tauhid yang sempurna menyebabkan seorang masuk surga tanpa hisap dan tanpa adzab
3. Tauhid mengharamkan seseorang dari neraka

 

Penulis: Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

Bah dari tauhid
Ayo belanja kitab arab di maribaraja store
Belanja sambil beramal. Dengan belanja di maribaraja store maka anda akan ikut andil dalam kegiatan dakwah dan pendidikan islam. Karena keuntungan dari penjualan 100% akan digunakan untuk operasional dakwah dan pendidikan di Maribaraja.com

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA), Radio Rodja, Cileungsi.

Check Also

Makna Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah) adalah salah satu perbuatan yang dilaknat oleh Allah. Rasulullah …

Tulis Komentar

WhatsApp chat