Beranda / Artikel Salayok / Kecintaan Pada Ilmu Agama Adalah Barometer Baik Atau Buruknya Kita

Kecintaan Pada Ilmu Agama Adalah Barometer Baik Atau Buruknya Kita

Salah satu barometer untuk melihat baik atau buruk seorang adalah dengan melihat sejauh mana kemauan dan perhatiannya dalam menuntut ilmu agama. Tapi ingat, sebelum menilai orang lain tentu diri kita lebih berhak untuk dinilai. Baik atau buruknya diri kita terletak pada bagaimana kita berinteraksi dengan ilmu agama. Seberapa besar kecintaan kita pada ilmu agama maka sebesar itu pulalah kebaikan yang ada pada diri kita.

Dari Mu’awiyah radhiallahu‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik niscaya Allah akan memahamkannya terhadap agamanya.” (HR. Bukhari: 17, Muslim: 1037)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika menjelaskan kandungan dari hadits yang mulia ini, mengatakan:

فمن رزق الفقه في الدين على هذا الوجه : فذلك هو الدليل والعلامة على أن الله أراد به خيرا ، ومن حرم ذلك ، وصار مع الجهلة والضالين عن السبيل ، المعرضين عن الفقه في الدين ، وعن تعلم ما أوجب الله عليه ، وعن البصيرة فيما حرم الله عليه : فذلك من الدلائل على أن الله لم يرد به خيرا…… وذلك علامة الهلاك والدمار ، وعلامة فساد القلب وانحرافه عن الهدى

Barangsiapa yang dianugerahi pemahaman terhadap agama sesuai dengan sisi ini maka itu adalah tanda dan alamat bahwa Allah menginginkan kebaikan untuk dirinya. Dan barangsiapa yang terhalangi dari hal itu sehingga ia bersama dengan orang-orang bodoh, tersesat dari jalan yang benar, dan berpaling dari memahami agama, mempelajari apa yang telah diwajibkan Allah atas dirinya, serta berpaling dari ilmu yang berkaitan dengan apa yang diharamkan Allah, maka ini adalah tanda bahwa Allah tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya…Dan itulah tanda kebinasaan, malapetaka, serta tanda rusaknya hati dan berpalingnya dari hidayah.” (Majmu Fatawa Ibn Baz: 9/129-130, disadur dari artikel Islamqa.info dengan judul Syarh Hadits Man Yurid Allah bihi Khairan)

Oleh sebab itu, jika kita dimudahkan dan diberi kemauan untuk perhatian serta merasa butuh dengan ilmu agama, ringan kaki kita untuk berjalan menuju majelis taklim, maka itu adalah tanda kebaikan dari Allah. Akan tetapi sebaliknya, jika kita merasa tidak butuh dengan ilmu agama karena mungkin mengira apa yang ada saat ini sudah cukup, sehingga malas untuk pergi ke majelis taklim, enggan membaca buku atau tulisan tentang agama, maka itu adalah tanda diri kita ini adalah diri yang buruk, Allah sudah tidak menginginkan kebaikan lagi dari kita, karena kita sendiri yang tidak mau. Segera bertaubat dan perbaiki diri atau tunggulah kebinasaan.

Baca juga Artikel:

Dengan Ilmu Agamalah Kita Bisa Melihat Hakikat Dunia

Kita Lebih Butuh Ilmu Agama Daripada Makan dan Minum

Ditulis di rumah mertua tercinta Jatimurni Bekasi, Jum’at 23 Rabi’ul Akhir 1441H/ 20 Desember 2019M

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja untuk dapatkan artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda di admin berikut KLIK

belajar ilmu agama

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Ushul Tsalatsah – Empat Kandungan Surat Al-‘Ashr

Pada pembahasan ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membicarakan empat kandungan surat Al-‘Ashr yang …

Tulis Komentar

WhatsApp chat
%d bloggers like this: