Pelajaran Penting Dari Kisah Pertemuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Dengan Setan – Khutbah Jum’at

Tema khutbah kali ini membahas Pelajaran Penting Dari Kisah Pertemuan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Dengan Setan

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَّى ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah…..

Di kesempatan yang baik ini, kita akan mengambil pelajaran dari kisah seorang ulama Ahlussunnah yaitu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani[1] ketika ia berhadapan dengan setan yang berusaha menyesatkannya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bercerita:

اشْتَدّ عليّ الحرُّ فِي بَعْضِ الْأَسْفَارِ يَوْمًا ، حَتَّى كِدْتُ أَنْ أَمُوتَ عَطَشًا ، فظللتني سَحَابَةٌ سَوْدَاء ، وهبّ عَلَيَّ مِنْهَا هَوَاء ، حَتَّى دَارَ رِيقِي فِي فَمِي ، وَإِذَا بِصَوْتٍ يناديني مِنْهَا : يَا عَبْدَ الْقَادِرِ ، أَنَا رَبُّك ، فَقُلْتُ لَهُ : أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إلَهَ إلَّا هُوَ ؟ ! قَال : فَنَادَانِي ثَانِيًا ، فَقَال : يَا عَبْدَ الْقَادِرِ ! أَنَا رُّبِّك ! وَقَد أَحْلَلْت لَك مَا حرَّمت عَلَيْك ! قَال : فَقُلْتُ لَهُ : كَذَبْتَ ؛ بَلْ أَنْتَ الشَّيْطَان ! قَال : فتمزّقت تِلْكَ السّحَابَةُ ، وَسَمِعْت مِنْ وَرَائِي قَائِلًا : يَا عَبْدَ الْقَادِرِ ، نَجَوْت منّي بفقهك فِي دِينِك ، لَقَد فَتَنْتُ بِهَذِهِ الْحِيلَةِ قَبْلَك سَبْعِينَ رَجُلًا

“Suatu hari pada sebuah perjalananku, aku merasakan panas yang sangat menyengat. Sampai-sampai aku hampir mati kehausan. Kemudian ada awan hitam menaungiku. Angin dari awan itu bertiup menerpaku, hingga air liurku pun terasa berputar dalam mulutku. Tiba-tiba saja dari arah awan itu ada suara yang menyeru ; “Wahai Abdul Qodir, aku adalah rabbmu.”

Maka aku pun bertanya kepadanya ; “Engkaukah Allah yang tidak ada ilah yang haq selainNya?”

Kemudian ia kembali menyeruku untuk yang kedua kalinya: “Wahai Abdul Qodir, aku adalah rabbmu. Aku telah menghalalkan apa yang diharamkan bagimu.”

Maka aku pun berkata ; “Engkau dusta, bahkan engkau adalah setan”

Lantas kemudian awan itu pun buyar, dan aku mendengar seorang berkata dari arah belakangku: “Wahai Abdul Qodir engkau telah selamat dariku dengan pengetahuanmu terhadap agamamu. Padahal aku telah menyesatkan 70 orang dengan cara ini.”

Setelah kejadian itu ditanyakan kepada Syaikh Abdul Qodir: “Bagaimana engkau tahu bahwa dia adalah setan?”

Beliau menjawab: “Tatkala ia mengatakan ; “Aku telah menghalalkan bagimu.” Karena setelah wafatnya Rasulullah tidak ada lagi penghalalan serta pengharaman.” [Fiqhud Da’wah wa Tazkiyatun Nufus : 113-114]

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Dari kisah ini, pelajaran sangat penting yang bisa kita petik yaitu ilmu agamalah tameng penyelamat dari makar setan. Karena ilmu agama adalah cahaya yang menerangi sehingga seorang dapat melihat jalan yang benar sehingga tidak mudah disesatkan.

Iblis tahu akan hal ini, karena itulah langkah pertama Iblis untuk menggelincirkan anak cucu Adam adalah dengan menghalangi mereka dari belajar agama Allah. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:

‏اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى النَّاسِ صَدُّهُمْ عَنِ العِلْمِ ، لِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ ؛ فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيْحَهُمْ خَبَطَهُمْ فِي الظَلَامِ كَيْفَ شَاءَ

“Ketahuilah, bahwa talbis Iblis yang pertama kepada umat manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu agama. Karena ilmu itu adalah cahaya. Sehingga apabila ia telah dapat memadamkan lampu-lampu mereka maka ia akan dengan mudah membanting mereka ke dalam kegelapan sekehendaknya.” (Talbisu Iblis: 309, Cet. Darul Kutub Ilmiah, Beirut)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bisa tahu bahwa suara itu adalah setan, kerena ia memiliki ilmu agama, ia tahu setelah Rasulullah wafat tidak ada lagi perubahan syariat haram menjadi halal atau sebaliknya, karena agama telah sempurna dan tidak akan berubah lagi. Sesuatu yang diharamkan akan tetap haram hingga hari kiamat dan sesuatu yang halal akan tetap halal hingga hari kiamat.

Dari sini pulalah kita bisa memahami lebih dalam sabda Nabi :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah: 224)

Menuntut ilmu tanpa batas waktu dan usia. Setiap muslim dan muslimah selama hayat di kandung badan maka tetap wajib belajar agama. Karena dengan ilmu agamalah kita bisa selamat mengarungi kehidupan dunia dan terhindar dari makar setan.

Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita kesempatan, kesehatan dan kemauan sehingga kita tetap mau belajar agama dengan sungguh-sungguh. Menyediakan waktu untuk mendengarkan pengajian, membaca buku-buku, dan berdikusi dan bertanya dengan para pemilik ilmu sehingga dengan demikian bisa menyelamatkan kita dari segala keburukan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا نَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ يَحْضُرُونا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن

___________________________________________

[1] Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajhi pernah ditanya, mengenai Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, apakah ia seorang Ahlussunnah ataukah bukan, beliau menjawab:

نعم عبد القادر الجيلاني من الصالحين، ومن الحنابلة ولكن الناس عكفوا على قبره، وغلوا فيه ودعوه من دون الله، وهو لا يرضى بذلك، وهو من العلماء الأفاضل – من علماء الحنابلة وذكره شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله –

Ya, Abdul Qadir Al-Jailani termasuk orang-orang shalih, beliau termasuk ulama mazhab Hanbali. Tetapi manusia banyak yang beri’tikaf di kuburannya. Mereka mengkultuskannya, berdoa kepadanya. Padahal dia tidak pernah ridha dengan hal itu. Beliau termasuk ulama yang mulia, ulama mazhab Hanbali dan beliau disebutkan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. (Majles.alukah.net dengan judul: Abdul Qadir Al-Jailani Baina Ahlissunnah Was Shufiyyah)

Lihat:

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !