Beranda / Hikmah Hidup / Salafus Shalih di Ramadhan – Menjaga Puasa Agar Tidak Menjadi Sia-sia

Salafus Shalih di Ramadhan – Menjaga Puasa Agar Tidak Menjadi Sia-sia

Menjaga puasa adalah sesuatu yang tidak kalah wajibnya dengan melakukan puasa itu sendiri. Percuma seorang berpuasa tetapi tidak diterima oleh Allah dan tidak bernilai ibadah. Ia hanya mendapatkan rasa lapar, haus dan letih saja. Akan tetapi, kenyataannya ternyata banyak orang Islam yang seperti ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.”[1]

Mengapa bisa demikan, apa sebabnya? Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”[2]

Oleh sebab itu, Salafus Shalih sangat memahami hal ini. Karenanya, mereka mengatakan bahwa puasa tidak semata menahan haus dan lapar tetapi juga menahan ucapan, penglihatan, pendengaran dari hal-hal yang haram. Seorang saha-bat yang mulia, Jabir bin Abdillah pernah mengatakan:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَالآثَمِ ، وَدَعْ أَذَي الخَادِمِ ، وَ لْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صِيَامِكَ وَفِطْرِكَ سَوَاءً

“Jika kamu berpuasa maka puasakanlah juga pen-dengaran, penglihatan dan perkataanmu dari kedustaan dan segala dosa. Hindarkanlah dari menyakiti pelayanmu. Jadikanlah dirimu penuh kewibawaan dan ketenangan di hari puasamu. Janganlah kau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbuka (tidak puasa)mu.”[3]

Memang demikianlah seharusnya, ketika kita tengah berpuasa pada hakikatnya kita tidak hanya menghalangi diri dari makan dan minum saja. Banyak hal yang mesti kita jauhi, sesuatu yang di bulan biasa haram dan terlarang maka di bulan Ramadhan jauh lebih haram.

Ramadhan adalah kesempatan untuk mem-perbaiki diri. Dengan berpuasa kita berusaha menjadi lebih baik. Oleh sebab itu perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala ada orang lain yang menghina dan mencoba menghidupkan api kemarahan kita, cukuplah dengan mengatakan aku sedang ber-puasa. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila seorang dari kalian tengah berpuasa maka janganlah ia mengucapkan ucapan yang keji dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila ada seorang yang menghina dan mengutuknya maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku sedang ber-puasa. Aku sedang berpuasa’”[4]

Karena itulah, untuk menjaga ibadah puasa, Salafush Shalih biasanya tidak banyak bergaul dengan orang-orang. Mereka lebih memilih berdiam diri di masjid atau di rumah mereka agar lebih fokus beribadah dan dapat menjaga kebersihan puasa mereka. Disebutkan oleh Imam Abu Nu’aim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ وَأَصْحَابُهُ : كَانُوا إِذَا صَامُوْا قَعَدُوْا فِي المَسْجِدِ ، وَقَالُوْا : نُطَهِّرُ صِيَامَنَا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia dan para sahabatnya apabila berpuasa mereka duduk (berdiam) di masjid seraya berkata: Mari kita membersihkan puasa kita.[5]

Disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah:

كَانَ طَلْقٌ إِذَا كَانَ يَومَ صَوْمِهِ دَخَلَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَّا لِصَلَاةٍ

Thalq apabila di hari-hari puasanya selalu masuk (ke rumahnya) dan tidak keluar kecuali untuk mengerjakan shalat (berjama’ah).[6]

Oleh karenanya, ini satu hal yang patut kita teladani. Jaga puasa kita, sibukkan diri dengan keta’atan. Kurangi interaksi yang kurang bermanfaat. Di zaman kita ini, mungkin kita bisa menambahkan dengan wajibnya kita mengu-rangi interaksi dengan gadget dan media sosial. Banyak orang yang berdiam diri di masjid atau di rumah akan tetapi sibuk dengan gadget dan medsosnya. Padahal media sosial itu, di samping manfaat yang tidak kita pungkiri juga menyertakan mafsadat dan keburukan yang banyak pula sebagaimana yang telah kita ketahui bersama. Karenanya, berkaca dari bagaimana Salafus Shalih menjalani bulan Ramadhan maka sepatutnya kita bijak dalam hal ini. Jika tidak bisa mening-galkannya secara keseluruhan maka setidaknya mengurangi dan membatasi diri agar puasa kita betul-betul bersih.

Baca juga Artikel

Ramadhan Mubarak

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

__________________________________

[1]     HR. Ibnu Majah: 1690

[2]     HR. Bukhari: 1903

[3]     Shahih Muslim: 1116

[4]     HR. Bukhari: 1894, Muslim: 1151

[5]  Hilyah Al-Auliya’: 1/382, Aqwal wa Qashash As-Salaf fi Ash-Shiyam oleh Dr. Ahmad Mushtafa Mutawalli hal. 13

[6]     Dinukil dari artikel Islamway.net dengan judul: Ahwalu As-Salaf fi Ramadhan

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Check Also

Salafus Shalih di Ramadhan – Kedermawanan Di Bulan Ramadhan

Kedermawanan adalah sifat mulia. Sungguh sangat dianjurkan untuk menjadi pribadi yang lebih dermawan, bersedekah menyisihkan …

Tulis Komentar

WhatsApp chat