Trending

Suro dan Shafar Bukan Bulan Sial – Khutbah Jum’at

Tathayyur

Khutbah kali ini membahas tentangtidak bolehnya kita menganggap Suro dan Shafar sebagai bulan sial

KHUTBAH PERTAMA

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ  أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله قال الله : ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Dahulu, orang-orang Arab Jahiliyyah memiliki suatu tradisi yaitu apabila hendak bepergian maka mereka menerbangkan seekor burung lalu melihat ke arah mana terbangnya burung tersebut. Apabila terbangnya ke arah kanan maka mereka akan melanjutkan rencana perjalanan. Tetapi jika terbangnya ke arah kiri atau ke belakang maka mereka akan mengurungkan rencananya, karena menurut keyakinan mereka itu adalah petanda kesialan. Akan terjadi sesuatu yang buruk jika mereka tetap melanjutkan perjalanan.

Ketika Islam datang tradisi ini disebut dengan Tathayyur yang diambil dari kata Thair yang bermakna burung dikarenakan beranggapan sial dengan melihat terbangnya burung. Kemudian istilah ini menjadi luas, tidak hanya berkaitan dengan burung. Tathayyur adalah beranggapan sial dengan sesuatu, baik dengan yang dilihat, atau didengar atau sesuatu yang ma’lum (sudah diketahui). [Lihat: Al-Qaulul Mufid: 1/559]

Beranggapan sial dengan sesuatu yang dilihat seperti melihat ular, kucing hitam, kupu-kupu hitam masuk rumah, menabrak kucing hingga mati, dll. Dengan sesuatu yang didengar seperti mendengar suara cicak, suara burung hantu, dll. Dengan sesuatu yang dikenal seperti beranganggapan sial angka 4,6,13,14, dst
Makna Thathayyur menjadi luas. Karenanya, di dalam Al-Qur’an ketika menyebutkan tentang umat-umat kafir terdahulu yang beranggapan sial dengan para Nabi maka Allah menggunakan kata Tathayyur. Allah berfirman tentang kaum Nabi Shalih:

قَالُوا۟ ٱطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ

Mereka berkata, “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (QS. An-Naml: 47)

Begitu juga Tathayyurnya Fir’aun dan kaumnya, Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ

Apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. (QS. Al-A’raf: 131)

Tathayyur adalah bagian dari kesyirikan yang harus dilenyapkan dari perasaan dan pikiran setiap kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (HR. Abu Dawud: 3411, Tirmidzi: 1539)

Dalam riwayat Imam Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ، قَالُوْا: فَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ تَقُوْلَ: اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلا خَيْرُكَ، وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ غَيْرُكَ

“Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah ini, maka ia telah berbuat syirik”, Para sahabat bertanya: “Lalu apa yang bisa menebusnya?” Rasulullah menjawab:”Hendaknya ia berdoa: “Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tiada sesembahan kecuali Engkau.”

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رب العالمين أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أما بعد

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah….

Hari ini adalah 25 Muharram 1443H. Setelah bulan ini adalah bulah Shafar. Terdapat satu keyakinan bathil yang diyakini oleh masyarakat jahiliyah dahulu di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan keyakinan ini marak juga di sebagian masyarakat di negeri kita sampai hari ini. Yaitu keyakinan bahwa bulan Muharram (Suro) dan Shafar adalah bulan sial, mendatangkan bala’, tidak baik untuk menikah, khitanan, membangun rumah dan lain sebagainya.

Keyakinan ini adalah Tathayyur yang diharamkan dalam agama kita. Bahkan berkaitan khusus dengan keyakinan pada bulan Shafar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara tegas bersabda:

لاَعَدْوَى وَلاَصَفَرَ وَلاَ هَامَةَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar, tidak ada (kesialan) pada burung hantu.” (HR. Bukhari: 5717, Muslim: 2220)

Barang siapa yang mengurungkan acara pernikahan, atau pembangunan rumah dikarena menganggap Muharram dan Shafar adalah bulan sial maka ia telah terjatuh pada kesyirikan.

Jama’ah kaum muslimin, sidang jum’at rahimakumullah……

Bulan Suro dan Shafar sama dengan bulan-bulan yang lain, didalamnya ada kebaikan dan ada keburukan yang telah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla. Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (QS. Al-Hadid: 22)

Oleh karena itu, jika kita merasa di dalam diri kita masih terdapat keyakinan-keyakinan serta perasaan-perasaan Tathayyur ini, maka kita harus berusaha dan segera menghilangkannya sebab itu adalah kesyirikan yang sangat berbahaya. Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk kesyirikan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلا خَيْرُكَ، وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ غَيْرُكَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Arsip Khutbah Maribaraja.Com

Selesai disusun di Komplek Pondok Jatimurni Bekasi

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

 

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp chat