Beranda / Ilmu Syar'i / Akidah / DAMPAK DOSA KITA (Art.Salayok99)

DAMPAK DOSA KITA (Art.Salayok99)

Lagi-lagi dampak dari dosa dan maksiat. Menyebabkan kerusakan di muka bumi, baik di udara, air, pertanian, buah-buahan maupun tempat tinggal.
Banyak kerusakan yang terjadi pada tanaman disebabkan oleh dosa-dosa manusia. Lihat gandum atau padi dihari ini. Banyak hama dan penyakitnya serta tak sedikit juga yang akhirnya gagal panen. Padahal dahulu ia tumbuh subur dan berkah. Imam Ahmad menyebutkan sebuah riwayat dalam Musnadnya:
وُجِدَتْ فِيْ خَزَائِن بَنِي أُمَيّةَ حِنْطَةٌ، الحَبَّةُ بِقَدْرِ نَوَاةِ التَمْرِ، وَهِيَ فِي صُرّةٍ مَكْتُوْبٍ عَلَيْهَا: هَذَا كَانَ يَنْبُتُ فِي زَمَنِ العَدْلِ
“Terdapat sebutir biji gandum yang besarnya seperti biji kurma di dalam gudang penyimpanan Bani Umayyah. Biji tersebut terdapat dalam kantung yang di atasnya tertulis; ‘Inilah yang pernah tumbuh pada zaman keadilan.'” (Al-Musnad: 2/296)
Kenapa bisa demikian? Karena bumi dipenuhi dengan keadilan dan keataan kepada Allah.
Setelah itu, semakin kebelakang, semerbak dosa dan maksiat kian menyebar, sehingga bumi kehilangan berkah. Banyak bencana: tanaman tidak berbuah, hujan tak kunjung turun, sungai mengering, tanah kering kerontang, dst.
Semua pengaruh dosa, dan tidak akan hilang sampai manusia itu kembali dan benar-benar bertaubat dari dosa mereka. Allah berfirman:
{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الروم : 41]
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41)
Seandainya bumi dipenuhi dengan ketaatan dan keadilan maka Allah akan mengeluarkan keberkahan dari langit dan bumi. Itulah yang akan terjadi di akhir zaman nanti, saat bumi ini kembali dihuni oleh orang-orang shalih dan dipimpin oleh seorang yang shalih juga.
ثُمَّ يُقَالُ لِلْأَرْضِ أَنْبِتِي ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنْ الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنْ الْإِبِلِ لَتَكْفِي الْفِئَامَ مِنْ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنْ الْبَقَرِ لَتَكْفِي الْقَبِيلَةَ مِنْ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنْ الْغَنَمِ لَتَكْفِي الْفَخِذَ مِنْ النَّاسِ
“Kemudian dikatakan kepada bumi, ‘Keluarkanlah tumbuhan-tumbuhanmu dan kembalikanlah keberkahanmu.’ Pada hari itu, sekelompok manusia makan buah delima dan dapat berlindung dengan kulitnya. Allah memberikan keberkahan pada susu, sehingga seekor anak unta dapat mencukupi untuk dimakan orang banyak, seekor anak sapi dapat mencukupi untuk dimakan satu kabilah, dan seekor anak kambing dapat mencukupi untuk dimakan sekelompok manusia.” (HR. Muslim: 2937)
Dari sekian banyak yang kita rasakan saat ini, masih bagian kecil dari pengaruh dosa-dosa kita. Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan:
“Seperti inilah keadaan kita. Apa yang kita rasakan hanya sebagian kecil saja dari perbuatan kita. Sekiranya kita merasakan seluruh akibat perbuatan kita, niscaya tidak ada seekor binatang melata pun yang dibiarkan hidup di muka bumi ini.” (Ad-Da’ wad Dawa’: 159-160 cet. Dar Alam al-Fawaid)
Oleh sebab itu, mari kita segera kembali kepada-Nya. Bertaubat dari segala bentuk maksiat. Agar bumi yang kita huni dan yang akan kita warisi buat anak cucu kita ini kembali membaik. (zhr)

Tentang Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan bahasa Arab 2 tahun dan pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H/2017M.

Check Also

Ikhlas Akan Memudahkan Seorang Hijrah Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Hijrah tak semudah diucapkan, karena meninggalkan kebiasaan buruk memang tak semudah membalik kedua telapak tangan. …

Tulis Komentar