Salafus Shalih di Ramadhan – Tiga Hal Sepeninggal Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan akan berlalu dengan cepat tanpa terasa. Ada tiga hal yang dilakukan oleh Salafus Shalih sepeninggal bulan Ramadhan:

Pertama: Fokus memikirkan status amalan; diterima ataukah tidak.

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

كُونُوا لِقَبُولِ العَمَلِ أَشَدَّ اِهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِالعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوا اللهَ يَقُولُ :إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Jadilah kalian lebih perhatian terhadap dite-rimanya amalan melebihi beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendegar Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Maidah: 27).[1]

Bahkan Salafus Shalih berdo’a selama enam bulan lamanya setelah Ramadhan agar Allah menerima amal mereka di bulan Ramadhan. Ma’la bin al-Fadhl menuturkan:

“Mereka berdo’a kepada Allah selama enam bulan semoga Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan, lalu mereka berdo’a selama enam bulan berikutnya semoga amalan mereka di bulan itu diterima.”[2]

Kedua: Istiqamah dalam beribadah

Tidak ada kata pensiun dalam ibadah. Menjadi hamba Allah tidak terhenti dengan berakhir-nya bulan Ramadhan. Kita tetap wajib beribadah kepada-Nya sampai kapan pun. Hanya satu yang dapat menghentikan itu, yaitu kematian. Hasan Al-Bashri mengatakan:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِعَمَلِ المُؤْمِنِ أَجَلًا دُونَ المَوْتِ ، ثمّ قَرَأ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan atas amal seorang mukmin batas selain kematian. Kemudian dia membaca firman Allah: Sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian kepadamu. (QS. Al-Hijr: 99).[3]

Ibadah-ibadah yang telah dilakukan di bulan Ramadhan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dst, hendaknya terus dijaga jangan diputus, karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus menerus tanpa terputus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَال إِلَى اللهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling kontinu (terus menerus) meski hanya sedikit.”[4]

Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan tidak ada bedanya dengan Allah yang kita sembah di luar bulan Ramadhan. Pernah dikatakan kepada Bisyr al-Hafiy, bahwasanya ada kaum yang hanya beribadah pada bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Ketika Ramadhan berakhir mereka pun meninggalkan amal. Maka Bisyr mengatakan:

بِئْسَ القَوْم قَوْمٌ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَان

“Seburuk-buruknya kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja.”[5]

Maka karenanya, jangan sampai ketika bulan Ramadhan kita rajin beribadah namun ketika ia berlalu kita bermalas-malasan. Jangan sampai Qur’an yang sering kita baca di bulan Ramadhan yang lalu sekarang malah kita letakkan di lemari, disusun rapi kemudian kita katakan: “Sampai jumpa di Ramadhan berikutnya.” Ingatlah, orang shalih sesungguhnya adalah mereka yang ber-sungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun, sepanjang umur.

Ketiga: Utamakan cari pemaafan dari Allah

Sebagian orang, ketika berakhir bulan Rama-dhan dan datang idul fitri begitu bersemangat dan sibuk mencari pemaafan dari orang-orang. Dari orang tua, kakak, adik, sanak kerabat, sahabat, tetangga dan seterusnya. Namun, ia tidak pernah bersungguh-sungguh untuk mencari pemaafan dari Allah. Ini adalah sikap yang salah, seharusnya sebelum kita meminta maaf kepada manusia terlebih dahulu kita meminta maaf kepada Rabb mereka.

Di bulan Syawal nanti, satu ibadah yang se-layaknya dilakukan oleh seorang mukmin yang ingin mencari pemaafan dari Allah adalah puasa enam hari. Dari Abu Ayyub al-Anshari a, bahwasanya Rasulullah n pernah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemu-dian ia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seolah telah berpuasa setahun penuh.”[6]

Di samping itu, puasa enam hari ini sangat penting kedudukannya jika dilihat dan dikaitkan dengan ibadah yang telah kita lakukan sebelumnya di bulan Ramadhan. Sebab, di antara tanda diterimanya amalan ibadah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu ketika kita dimudahkan untuk mengikutkannya dengan amalan ibadah berikutnya.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali v mengatakan: “Sesungguhnya membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah salah satu tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan. Karena Allah apabila menerima amalan seorang hamba, maka Ia akan memberikan kemampuan kepadanya untuk beramal shalih lagi setelahnya, sebagaimana kata sebagian ulama: ‘Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya, dan barangsiapa melakukan suatu kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kebaikan yang lain maka itu adalah tanda diterimanya amal kebaikannya yang sebelumnya, sebagaimana seorang yang melakukan kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kejelekan maka itu adalah tanda ditolak dan tidak diterimanya kebaikan yang telah ia kerjakan sebelumnya.’”[7]

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk mempebanyak ibadah di bulan ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini dan mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya. Amiin

Baca juga Artikel

Ramadhan Mubarak

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

_________________________________

[1] Lathaif Al-Ma’arif: 375

[2] Lathaifu Al-Ma’arif: 376

[3]     Lathaif Al-Ma’arif: 498

[4]     HR. Muslim: 2818

[5]     Miftahul Afkar: 2/283

[6]     HR. Muslim: 1164

[7]     Lathaif Al-Ma’arif: 394

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
WhatsApp chat