Syarhus Sunnah – #23 Akidah Ulama Salaf

Pada bagian ini Imam Al-Muzani memaparkan tentang akidah Ahlussunnah seputar akidah ulama salaf

Imam Al-Muzani  mengatakan

 هَذِهِ مَقَالَاتٌ وَأَفْعَالٌ اِجْتَمَعَ عَلَيْهَا المَاضُوْنَ الْأَوَّلُونَ مِنْ أَئِمَّةِ الْهُدَى، وَبِتَوْفِيقِ اللهِ اعْتَصَمَ بِهَا التَّابِعُوْنَ قُدْوَةً وَرِضًى، وَجَانَبُوا التَّكَلُّفَ فِيمَا كُفُوا ، فَسُدِّدُوا بِعَوْنِ اللهِ وَوُفِّقُوْا ، لَمْ يَرْغَبُوا عَنِ الِاتِّبَاع فَيُقَصِّرُوا ، وَلَمْ يُجَاوِزُوهُ تَزَيُّدًا فَيَعْتَدُوا ، فَنَحْنُ بِاللهِ وَاثِقُونَ وَعَلَيْهِ مُتَوَكِّلُوْنَ وَإِلَيْهِ فِي اتِّبَاعِ آثَارِهِمْ رَاغِبُوْنَ

Ini adalah ucapan  dan perbuatan yang telah disepakati oleh para imam terdahulu (para sahabat) dan dengan taufik Allah  para Tabi’in berpegang teguh dengannya dalam rangka meneladani (para sahabat) dan mereka ridha. Mereka menjauhi sikap takalluf (memberatkan diri) terhadap sesuatu yang para sahabat telah mencukupkan diri dalam hal itu, sehingga mereka dengan pertolongan Allah  dikokohkan serta diberi taufik. Mereka tidak membenci ittiba’ (mengikuti tuntunan nabi) yang mengakibatkan mereka meremehkan, mereka juga tidak melampaui batas yang membuat mereka menjadi melanggar ketentuan. Hanya kepada Allah kami percaya dan bertawakal. Dan hanya kepada-Nyalah kami berharap dapat mengikuti langkah mereka (para sahabat dan Tabi’in).

Pelajaran Berharga dan Penjelasan

Dari ucapan Imam Al-Muzani ini ada beberapa faidah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik, yaitu:

Pelajaran Pertama: Para Sahabat dan Tabi’in berada di atas akidah yang benar dan mereka bersepakat di dalamnya.

Perselisihan dan penyimpangan dalam akidah tidak terjadi pada generasi sahabat Rasulullah n. Sebab mereka adalah pri-badi yang benar-benar patuh dan menerima apa saja yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tanpa mempertentangkannya dengan akal atau perasaan mereka. Imam Ibnul Qayyim v mengatakan:

وَقَدْ تَنَازَعَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِنْ مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ – وَهُمْ سَادَاتُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَأَكْمَلُ الْأُمَّةِ إِيْمَانًا – وَلَكِنْ بِحَمْدِ اللَّهِ لَمْ يَتَنَازَعْ فَي مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ مَسَائِلِ الْأَسْمَاءِ وَ الصِّفَاةِ وَالْأَفعَالِ

“Para sahabat memang telah berselisih dalam banyak masalah hu-kum (mu’amalah) -sedang mereka adalah pemuka orang mukmin dan umat yang paling sempurna keimanannya- akan tetapi, de-ngan memuji Allah mereka tidak berselisih dalam satu permasalah-an pun dari permasalahan nama, sifat dan perbuatan Allah (masa-lah akidah).”[1]

Ibnu Abbas a yang menyaksikan dan merupakan bagian dari mereka, pernah mengatakan:

 مَا رَأَيْتُ قَوْمًا خَيْرًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، مَا سَأَلُوهُ إِلا عَنْ ثَلاثَ عَشْرَةَ مَسْأَلَةً حَتَّى قُبِضَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُنَّ فِي الْقُرْآنِ…. مَا كَانُوا يَسْأَلُونَ إِلا عَمَّا يَنْفَعُهُمْ

“Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih baik daripada para sahabat Rasulullah n. Mereka tidak bertanya kecuali tiga belas permasalahan hingga Rasulullah n meninggal dunia, dan semua-nya ada di dalam al-Qur’an…..Mereka tidak bertanya melainkan tentang sesuatu yang bermanfaat buat mereka.”[2]

Al-Imam al-Lalika’i v dalam kitabnya mengatakan:

فَلَمْ تَزَلِ الكَلِمَةُ مُجْتَمَعَةً وَالجَمَاعَةُ مُتَوَافِرَةً عَلَى عَهْدِ الصَّحَابَةِ الأَوَّلِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ حَتَّى نَبَغَتْ نَابِغَةٌ بِصَوْتٍ غَيْرِ مَعْرُوْفٍ، وَكَلَامٍ غَيْرِ مَأْلُوْفٍ فِي  أَوَّلِ إِمَارَةِ المَرْوَانِيَّةِ تُنَازِعُ فِي القَدَرِ وَتَتَكَلَّمَ فِيْهِ

“Kalimat (akidah) masih senantiasa satu dan Jama’ah banyak di masa para sahabat yang pertama dan orang-orang setelah me-reka  dari shalafush shalih, hingga muncul seorang tokoh dengan pendapat yang asing dan ucapan yang tidak dikenal pada awal pemerintahan Marwaniyah, yang memperdebatkan masalah takdir serta membicarakannya.”[3]

Maka barulah setelah itu berturut-turut muncul kelompok-kelompok menyimpang yang sangat banyak. Benarlah sabda Rasulullah n:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.”[4]

Oleh sebab itu, penting bagi kita yang hidup di hari ini untuk kembali mempelajari cara beragama para sahabat Rasulullah n agar kita tahu bagaimana agama Islam ini yang sesungguhnya.

Pelajaran Kedua: Agama islam adalah agama ittiba’ (mengikuti) bukan ibtida’ (mengada-ada sesuatu yang baru).

Dalam kehidupan beragama, perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba tidak lepas dari dua macam yaitu ibadah atau bu-kan ibadah. Kedua hal ini harus dipahami dengan benar, karena berbeda kaidah dan konsep. Dalam masalah ibadah maka kon-sepnya adalah harus Ittiba’ mengikuti, tidak boleh membuat se-suatu yang baru diluar dari apa yang telah diajarkan oleh Rasu-lullah n, tidak boleh mengamalkan sesuatu yang merupakan ibadah kecuali setelah betul dan valid dalilnya. Konsep ini di-bangun di atas banyak dalil, di antaranya firman Allah:

 وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kamu kepa-da Allah sesungguhnya Allah Maha keras hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr: 7)

Demikian pula dengan sabda Rasulullah n:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perin-tahkan, maka amalan tersebut tertolak.”[5]

Pelajaran Ketiga: Wajib mengikuti akidah dan manhaj (metode) beragamanya para sahabat dan Tabi’in.

Allah berfirman:

  وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)

Pelajaran Keempat: Islam merupakan agama yang wasath (pertengahan), tidak takalluf atau ghuluw (memberatkan diri dan melampaui batas) dan tidak pula taqshir (meremehkan).

Allah w telah menyebutkan bahwa Islam itu adalah agama yang wasath yaitu pertengahan antara ghuluw (berlebih-lebihan) dan taqshir atau tafrith (meremehkan), Allah berfirman:

 وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu, umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu. (QS. Al-Baqarah: 143)

Semua syari’at baik i’tiqad (keyakinan), ibadah maupun mu-‘amalah dibangun di atas konsep ini. Dalam masalah keyakinan, misal keyakinan terhadap Isa bin Maryam maka Islam menyatakan

وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Bahwa ‘Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya.[6]

Hal ini untuk membantah orang-orang Nasrani dan Yahudi. Sekaligus menunjukkan sifat pertengahannya agama Islam dari keduanya. Kata ‘abduhu (hamba-Nya) sebagai bantahan kepada Nashrani bersifat ghuluw sehingga menuhankan Nabi Isa p. Sedangkan kata rasuluhu (Rasul-Nya) sebagai bantahan kepada Yahudi yang meremehkan sehingga mereka mengatakan Isa adalah anak pelacur.

Dalam masalah ibadah seperti shalat misalnya, dari Aisyah radhiallahu anha, ia menuturkan:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي امْرَأَةٌ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ فَقُلْتُ امْرَأَةٌ لَا تَنَامُ تُصَلِّي قَالَ عَلَيْكُمْ مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللهحَتَّى تَمَلُّوا وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“Suatu ketika Rasulullah n masuk ke dalam rumahku, yang saat itu saya bersama dengan seorang wanita. Maka beliau pun bertanya: ‘Siapa wanita ini? ‘ Saya menjawab, ‘Ia adalah seorang wanita yang tidak pernah tidur karena selalu menunaikan shalat sepanjang malam.’ Maka beliau bersabda: ‘Beribadahlah kalian sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Dia tidak akan pernah bosan hingga kalian sendiri yang bosan. Dan amalan agama yang paling dicintai olehNya adalah yang dikerjakan dengan kontinyu oleh pelakunya.’” (HR. Muslim: 785)

Dalam masalah sedekah juga demikian. Ketika Allah menyebutkan tentang Ibadurrahman yaitu hamba pilihan-Nya, maka salah satu sifat mereka adalah :

 وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqon: 67)

Bahkan dalam hal cinta dan benci pun syari’at mengajarkan untuk bersikap pertengahan Ali bin Abi Thalib mengatakan:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.”[7]

Barang siapa yang dalam beragama tidak mau bersikap pertengahan maka dia akan celaka. Sebab sifat ghuluw (berle-bihan) dan taqshir (meremehkan) adalah dua makar setan. Imam Al-Auza’i mengatakan:

مَا مِنْ أَمْرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ ، إِلَّا عَارَضَهُ الشَّيْطَانُ بِخَصْلَتَيْنِ ، لَا يُبَالِي أَيَّهُمَا أَصَابَ: الغُلُوِّ وَالتَّقْصِيْرِ

Tidak ada satu pun perintah Allah kecuali akan dihalangi oleh setan dengan dua sifat, ia tidak peduli mana diantara keduanya yang berhasil yaitu ghuluw dan taqshir (meremehkan).[8]

Oleh sebab itu, wajib berhati-hati dari dua makar setan ini. Bersikap pertengahanlah dalam beragama dan supaya kita bisa terjaga dari sifat ghuluw dan taqshir maka mendekatlah kepada ilmu dan ulama, kemudian berdo’alah kepada Allah agar Allah melin-dungi kita dari dua sifat yang berbahaya ini.

Pelajaran Kelima: Berdo’a kepada Allah w agar diberi taufik untuk dapat mengikuti langkah para sahabat dan Tabi’in.

Di antara do’a yang layak kita panjatkan disertai dengan penghayatan adalah sebuah do’a yang selalu kita baca sepanjang hari; pagi, siang, petang, dan malam. Bagi seorang muslim mini-malnya tujuh belas kali ia haturkan do’a ini, di dalam setiap raka-’at dalam shalatnya. Yaitu do’a dalam surat al-Fatihah:

 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. al-Fatihah: 6)

Apa maksud dari jalan yang lurus itu dan jalan siapakah jalan itu? Ternyata jawabnya ada pada ayat berikutnya. Jalan yang lurus itu adalah:

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (QS. al-Fatihah: 7)

“Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat,” mereka adalah para Nabi dan Rasul, orang-orang yang jujur, syuhada’ dan orang-orang shalih, jalan hidup sahabat Nabi, jalan merekalah yang kita pinta sebagaimana hal ini dijelaskan oleh firman Allah yang lain yaitu:

 وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa’: 69)

Ada pun “Orang yang Engkau murkai, mereka adalah kaum Yahudi. Sedang “Orang yang tersesat adalah kaum Nasrani. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sabda-nya:

اليَهُوْدُ مَغْضُوْبٌ عَلَيْهِمْ، وَالنَّصَارَى ضُلَّالٌ

“Yahudi adalah umat yang dimurkai dan Nasrani adalah umat yang tersesat.”[9]

Itu artinya setiap hari kita meminta agar dapat menempuh jalannya para Nabi dan Rasul, para shiddiq, syuhada’, dan orang-orang shalih, sahabat Nabi, para Tabi’in serta orang-orang shalih yang mengikuti mereka.

Baca juga Artikel

Syarhus Sunnah Imam Al-Muzani

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Bergabunglah di grup whatsapp maribaraja atau dapatkan broadcast artikel dakwah setiap harinya. Daftarkan whatsapp anda  di admin berikut KLIK

____________________________________

[1]        I’lamul Muwaqi’in: 1/49, Muqaddimah Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah: 18

[2]        Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi: 2053

[3]        Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah: 1/16

[4]        HR. Abu Dawud: 4609

[5]        HR. Muslim: 1718

[6]        HR. Bukhari: 3435

[7]        HR. Tirmidzi: 1997

[8]        Al-I’tidal fi At-Tadayyun: 24

[9]        HR. Tirmidzi: 2954, Shahih al-Jami’: 8202

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah dan lulus pada tahun 1438H. Sekarang sebagai staff pengajar di Lembaga Pendidikan Takhassus Al-Barkah (LPTA) dan Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button
WhatsApp Yuk Gabung !