Beranda / Keluarga dan Pendidikan Anak / Tatkala Anak Kita Mulai Bisa Bicara

Tatkala Anak Kita Mulai Bisa Bicara

Anak adalah rahmat Ilahi buat orang tua dan penyejuk hati mereka. Berapa banyak orang tua dibuat senang oleh Allah Azza wajalla dengan lahirnya anak. Sekalipun anak itu menangis, buang air besar dan kecil, tetap saja orang tua menyenanginya, karena dia masih kecil. Dan orang tua lebih senang lagi jika anak itu mulai bisa bicara dengan satu atau dua kata, walaupun mereka belum mampu membaca huruf dengan tepat. Hal itu karena berbicara adalah nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala. (Lihat QS. al-Balad: 8-10)

Betapa sedihnya kedua orang tua jika anaknya bisu, sekalipun tampan dan cantik rupa. Sebab lisan penyampai isi hati nurani, dengan lisan orang bisa berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an dan hadits, bisa berdakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, dan urusan kebaikan lainnya.

Bersyukurlah Tatkala Anak Bisa Bicara

Orang tua hendaknya mensyukuri semua nikmat Allah Subhanahu wata’ala, karena semua nikmat hanya dari-Nya. Adapun makhluk hanya menerima nikmat. Maka di antara rahmat Allah yang diberikan kepada anak kita, anak kita mampu berbicara. Ini nikmat yang tidak bisa ditukar dengan nikmat lain.

Seandainya anak itu bisu, lalu ada orang yang bisa mengobati sehingga menjadi bisa bicara dengan biaya miliaran rupiah, tentu banyak orang tua akan mengeluarkan uang sebesar itu demi kebaikan anaknya. Ini menunjukkan nikmat bicara lebih mulia daripada uang, karena uang bisa diutang, dicuri dan dihibahkan, sedangkan nikmat bicara tidak bisa.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Ayat ini (yakni QS. al-Balad: 8-10) menjelaskan tiga nikmat paling besar yang Allah karuniakan kepada manusia;

(Pertama) bukankah Allah yang menjadikan manusia memiliki dua mata? Maksudnya, dengan kedua mata manusia bisa melihat, lalu disimpan oleh hatinya. Jika dia melihat yang haram, dia berdosa, jika ia melihat yang diridhai oleh Allah, dia meraih keuntungan yang banyak. Jika dia melihat yang mubah, dia tidak dipuji pun tidak pula dicela, melainkan bila mengakibatkan murka Allah.

Nikmat selanjutnya (kedua) ialah lisan, sehingga dia bisa bicara dan dua bibir untuk membetulkan bicaranya. Ini juga nikmat yang cukup besar. Dengan nikmat ini manusia bisa mengungkapkan isi hatinya. Seandainya tidak ada nikmat ini, dengan apa ia mengungkapkan isi hatinya? Mana mungkin dia bisa mengetahui isi hati orang lain? Mungkin dengan isyarat, tetapi sulit dan melelahkan. Inilah nikmat lisan yang harus kita syukuri.

(Ketiga), nikmat Allah Azza wajalla yang telah menjelaskan mana yang baik dan mana yang jelek, sehingga manusia bisa membedakan dan memilihnya.” (Tafsir Juz ‘Amma Ibnu ‘Utsaimin: 1/28)

Cara Mensyukuri Anak Ketika Mulai Bicara

Bersyukur tidak cukup dengan membaca “Alhamdulillah”, karena bersyukur juga harus dilakukan dengan hati, dengan meyakini semua nikmat hanya dari Allah Ta’ala, kemudian bersyukur dengan anggota badan, yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Adapun cara kita mensyukuri tatkala anak kita mulai bisa berbicara di antaranya:

• Dengan mengajari dua kalimat syahadat semampunya, mengajari anak agar menyebut nama-nama Allah dan nama para utusan-Nya, mengajari berdzikir dan berdoa sehari-hari, dilatih membaca istighfar ketika jatuh kepada perbuatan dosa atau ketika melihat orang melakukan perbuatan dosa, dilatih membaca tasbih atau takbir ketika melihat yang menakjubkan. Demikian pula melarang anak menyanyi, mencaci orang tua atau kawannya, berbohong dan menipu, ataupun marah dan mengolok-olok kawannya.

• Dilatih membaca al-Qur’an. Walaupun masih kecil dan baru bisa bicara, hendaknya anak dilatih membaca ayat al-Qur’an, sekalipun belum terampil makhrajnya. Karena membiasakan anak membaca al-Qur’an akan mudah ingat, dan mungkin dengan kesepian dirinya ia membaca al-Qur’an sendiri. Hal ini sering terjadi. Bahkan orang tua terhibur pula dengan lucunya anak kecil ketika membaca al-Qur’an dan menghafalnya.

Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma berkata, “Barangsiapa membaca al-Qur’an sebelum baligh, tergolong anak kecil yang diberi hikmah.” (Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li ath-Thifli, hal. 356)

• Dilatih membaca hamdalah. Orang tua bisa melatih anaknya agar terampil berbicara, dengan membiasakan agar membaca hamdalah pada saat mendapatkan kebaikan, seperti ketika dia bersin, dan menjawab ketika ada yang bersin dengan membaca “yarhamukallahu”, dan membalasnya dengan doa “yahdiikumullah wa yushlihu baalakum” tatkala ada orang yang mendoakannya saat dia bersin. Karena ini tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ لِلهِ, وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ يَرْحَمُكَ اللهُ, فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللهُ, فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللهُ, وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Apabila seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan alhamdulillah, dan hendaknya saudaranya mengucapkan untuknya yarhamukallahu. Apabila ia mengucapkan kepadanya yarhamukallahu, hendaklah ia (yang bersin) mengucapkan yahdiikumullah wa yushlihu balaakum (Artinya: mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari: 6224)

• Mengajari anak menyampaikan dan menjawab salam. Sekalipun anak masih kecil, agar anak lancar berbicara maka orang tua bisa melatihnya dengan mengajari ucapan salam dan menjawabnya ketika berjumpa dengan siapa pun dari kalangan kaum muslimin. Bukankah  orang tua bergembira jika si kecil masuk dan keluar rumah mengucapkan salam, demikian juga ketika bertemu dengan orang? Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

وَيُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ

“Dan yang lebih kecil mengucapkan salam (lebih dahulu) kepada yang lebih dewasa.” (HR. at-Tirmidzi: 2921, ash-Shahihah no. 1145)

Cara mengajarkannya sebagaimana yang telah Rasulullah praktikkan, bahwa Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendatangi kami ketika masih anak-anak. Maka beliau memberi salam kepada kami.” (Shahih Ibnu Majah: 3700)

• Jangan lupa nasihati anak. Hal itu dimungkinkan anak akan terpancing untuk bertanya; mengapa dia diperintah dan mengapa dia dilarang? Karena itulah Luqman al-Hakim menasihati anaknya, sebagaimana diterangkan dalam QS. Luqman ayat 13.

• Sesekali ajaklah bercanda. Hal itu dimungkinkan anak akan tertawa, berbicara dan berhenti dari menangis, terutama ketika dia dalam keadaan sedih dan terkena musibah, seperti mainannya rusak atau hilang.

Anas bin Malik Radhiallahu’anhu berkisah, “Suatu kali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mendatangi kami, sementara kami mempunyai adik kecil yang biasa dipanggil Abu Umair. Burung kecil miliknya yang biasa ia ajak bermain mati. Lalu Nabi menemuinya sedang bersedih, beliau bertanya, ‘Apa yang sedang terjadi dengannya?’ Orang-orang menjawab, ‘Burung kecilnya mati.’ Beliau lantas bersabda, ‘Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh Nughair (burung kecilmu)?’” (HR. Abu Dawud: 4318, 4971 dishahihkan oleh al-Albani)

• Ajak pula ke majelis ilmu. Dimungkinkan anak yang sudah tahu sedikit tentang ilmu agama, ketika dalam majelis ilmu ada pertanyaan, mungkin ia bisa menjawab dengan membisikkan kepada orang tuanya.

Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara pepohonan ada sebuah pohon yang daunnya tidak gugur. Itu seperti perumpamaan seorang mukmin. Katakan padaku, pohon apa itu?” Ibnu Umar berkata, “Orang-orang mengira pohon padang pasir, sementara aku mengiranya pohon kurma.” Nabi bersabda, “Ia pohon kurma.” Tetapi aku malu mengatakannya. Ibnu Umar berkata, “Aku beritahu ayahku (Umar bin Khattab), apa yang aku sangka, lalu Umar berkata, ‘Sungguh, jika kau mengatakannya itu lebih aku sukai daripada aku memiliki ini dan itu!’” (HR. Muslim: 5027)

• Anak diajak diskusi sederhana. Orang tua atau pendidik jika ingin melatih anaknya bisa lancar berbicara, bisa dengan cara diajak diskusi semampunya. Hal ini melatih keberanian anak agar mau bicara. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah mengajak bicara Ibnu Abbas yang masih kecil dengan kalimat tauhid. (Hadits Shahih, lihat al-Misykah: 5302, Zhilal al-Jannah, hal. 316-318)

Dalam kesempatan lain Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma berkata, “Aku menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pada waktu beliau shalat malam. Aku shalat di belakangnya, lalu beliau memindahku berada di samping kanannya. Ketika beliau memulai shalat, aku mundur. Tatkala Rasulullah selesai shalat, beliau menanyaiku, ‘Aku sejajarkan dirimu denganku, mengapa engkau mundur?’ Aku jawab, ‘Tidak layak seorang pun shalat sejajar denganmu, wahai Nabi, sedangkan engkau utusan Allah.’ Beliau heran dengan jawaban itu, lalu beliau mendoakanku agar mendapat tambahan pemahaman dan ilmu.’” (Al-Mustadrak li ash-Shahihaini, al-Hakim: 14/382)

Umar Radhiallahu’anhu juga mengajak dialog anak kecil, bahkan ia mengajak mereka bermusyawarah. (Lihat Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li ath-Thifli, hal. 121)

• Tegur ketika anak salah. Tidak semua pekerjaan anak benar, bahkan mungkin banyak kelirunya daripada benarnya. Tatkala anak melakukan kesalahan, segeralah orang tua atau pendidik menegurnya dengan lembut atau meluruskannya. Dengan tindakan ini kemungkinan besar anak akan berbicara, atau bertanya. Ini juga akan melatih dan mendorong anak agar berbicara.

Umar bin Abu Salamah Radhiallahu’anhu berkata, “Pada waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, tanganku ber‘seliweran’ di nampan saat makan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Nak, bacalah Bismilillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makan apa yang ada di hadapanmu.’ Maka seperti itulah gaya makanku setelah kejadian itu.” (HR. Bukhari: 18/102)

Dalam kejadian yang lain al-Hasan bin Ali Radhiallahu’anhuma mengambil sebutir kurma dari kurma zakat, (lalu ia masukkan) ke dalam mulutnya. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kikh..! Kikh…! (Keluarkan !) Tidak tahukah kamu, bahwa kita dilarang memakan harta sedekah (zakat)?” (HR. Bukhari: 1491)

Imam an-Nawawi berkata, bahwa anak kecil diperlakukan seperti orang tua, apabila dia salah, tidak boleh dibiarkan akan tetapi hendaknya orang tua atau walinya yang menasihati mereka. (Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi: 4/33)

• Bila perlu mintai pendapatnya. Agar anak bisa bicara, orang tua bisa dengan meminta pendapat si anak, karena tidak semua anak berani berbicara. Sahal bin Sa’d as-Sa’idi Radhiallahu’anhu berkata, “Disuguhkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebuah minuman, lalu beliau meminumnya. Sementara di samping kanan beliau ada seorang anak kecil, sedangkan di sebelah kiri beliau ada para orang tua. Maka beliau berkata kepada anak kecil itu, ‘Apakah kamu mengizinkanku untuk memberi minuman ini kepada mereka?’ Anak kecil itu berkata, ‘Demi Allah, tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan mendahulukan seorang pun daripadaku selain Anda.’ Maka beliau pun memberikan kepadanya.” (HR. Bukhari: 2271)

Semoga anak kita menjadi anak yang shalih dan shalihah, tidak berbicara melainkan yang baik dan bermanfaat untuk dirinya dan seluruh umat. Wallahu a’lam bish showab…

Tentang Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc adalah mudir Ma'had Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Beliau juga merupakan penasihat sekaligus penulis di Majalah Al-Furqon dan Al-Mawaddah

Check Also

Memahami “Maksud” Mendidik Anak

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua? Anak adalah buah hati orang tua, namun di balik …

Tulis Komentar

WhatsApp chat