
SAKINAH PROJECT – Part 2: Building the Foundation
Kaidah Penting: “Rumah tangga berkah dan bahagia bukan yang tidak punya masalah dan kesulitan namun yang mampu menghadapi dan menyelesaikannya sesuai tuntunan Syariat.”
Rumah tangga adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga. Sebagaimana filosofinya rumah yang harus memiliki pondasi yang kuat untuk bisa kokoh berdiri, apabila tidak maka rumah akan menjadi sumber musibah yang mengerikan, bisa saja ia roboh dan mencelakai penghuninya. Demikian juga dengan rumah tangga, jika ia berdiri diatas pondasi yang kuat maka sekalipun badai besar menghamtam maka ia akan tetap kokoh dan tidak akan mudah runtuh.
Masalah finansial, komunikasi, atau perbedaan karakter, dst adalah “badai” yang pasti datang. Semua rumah tangga pasti akan diterpa badai. Rumah tangga manusia-manusia terbaik saja dilanda gempa dan badai.
Rasulullah ﷺ pernah mendiamkan semua istrinya selama 29 hari karena mereka meminta tambahan nafkah padahal Nabi sedang tidak memiliki harta yang kemudian menjadi sebab turunnya firman Allah
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah agar kuberikan kepadamu mut’ah (pemberian/harta) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menginginkan (keridaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kebahagiaan) di kampung akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi perempuan-perempuan yang berbuat baik di antara kamu.” (QS. Al-Ahzab: 28-29) [1]
Ali bin Abi Thalib pernah keluar dari rumah kemudian tidur di masjid karena bertengkar dengan Fathimah. Diceritakan oleh Sahal bin Sa’ad:
Rasulullah ﷺ datang ke rumah Fatimah ‘alaihassalam, namun beliau tidak mendapati Ali di dalam rumah. Beliau lalu bertanya, “Di manakah putra pamanmu (suamimu)?” Fatimah menjawab, “Tadi ada sesuatu (sedikit perselisihan) antara aku dan dia, lalu dia marah kepadaku, kemudian dia pergi dan tidak tidur siang di tempatku.” Maka Rasulullah ﷺ menyuruh seseorang (seorang sahabat), “Coba lihat, di manakah dia?” Orang itu kemudian datang dan melapor, “Wahai Rasulullah, dia sedang tidur di masjid.” Maka Rasulullah ﷺ mendatangi Ali yang sedang berbaring. Kain rida’nya (pakaian bagian atas) telah jatuh dari sisi tubuhnya sehingga badannya terkena debu (tanah). Rasulullah ﷺ pun mulai membersihkan debu tersebut dari tubuhnya sambil bersabda: “Bangunlah wahai Abu Turab (Bapak Tanah), bangunlah wahai Abu Turab.” [2]
Pondasi-Pondasi Rumah Tangga Samawa
Berikut adalah beberapa kunci yang dapat memperkuat pondasi rumah tangga sehingga bisa menghasilkan keluarga yang Samawa (Sakinah, Mawaddah Warahmah):
- Imam (Tauhid) dan Amal Shalih
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini menunjukkan bahwa untuk menggapai kebahagiaan hidup termasuk diantaranya kehidupan rumah tangga adalah dengan beriman dan beramal shalih. Rumah tangga yang dibangun diatas iman dan takwa akan mendatangkan kebahagiaan, karenanya Nabi menjadikan kebaikan agama sebagai patokan dan timbangan utama dalam memilih pasangan sebelum menikah, beliau bersabda:
تُنكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لمالِهَا، ولِحَسَبِهَا، ولِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” [3]
Hadits ini juga berlaku untuk wanita, ia harus memilih laki-laki yang memiliki agama dan akhlak yang baik. Dalam hadits lain Nabi bersabda:
إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” [4]
Apabila rumah tangga dibangun di atas iman, takwa dan ibadah maka ujian yang menimpa apapun bentuknya akan bisa dihadapi. Jika ujian berbentuk musibah dihadapi dengan sabar, jika berbentuk nikmat dan anugerah maka dihadapi dengan syukur. Hal ini sebagaimana sabada Nabi:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” [5]
- Bersemangat Belajar Ilmu Agama
Bagaimana mungkin seorang bisa mendapatkan kehidupan rumah tangga yang bahagia sementara ia tidak tahu jalan untuk mendapatkannya. Ilmu agama adalah kunci untuk menggapai kebahagiaan hakiki. Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Semua kebaikan kuncinya adalah ilmu agama, sebagaimana semua keburukan kuncinya adalah kebodohan.”
Sufyan Ats-Tsauri pernah mengibaratkan bahwa orang yang menikah perumpamaannya seperti naik kapal di tengah lautan yang penuh badai dan ombak dahsyat. Jika nakhodanya tahu cara mengemudikan dan tahu alamat tujuannya, ia akan aman. Namun jika tidak, kapal tersebut berada dalam bahaya.
Suami harus semangat belajar agama, karena bagaimana dia bisa menjadi suami yang baik jika dia tidak belajar ilmu agama. Begitu juga istri, bagaimana dia bisa menjadi istri yang baik jika dia tidak belajar ilmu agama.
Maka tak heran kalau Rasulullah ﷺ sangat menekankan kaum muslimin untuk belajar ilmu agama:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم
”Menuntut ilmu agama itu wajib atas setiap muslim.” [6]
Maka wajib bagi suami dan istri untuk bersemangat belajar ilmu agama agar rumah tangga mereka samawa.
- Melaksanakan Kewajiban Dan Memenuhi Hak Pasangan
Masing-masing pasangan memiliki hak dan kewajiban. Seorang suami harus tahu dan melaksanakan kewajibannya serta menunaikan hak istrinya dan sebaliknya istri juga demikian.
Seorang suami memiliki tanggung jawab – bahkan ini paling utama – mendidik dan membimbing keluarga, sebagaimana Allah berfriman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)
Makna “menjaga keluarga” di ayat ini adalah mengajari dan mendidik mereka.
Demikian pula kewajiban suami yang lain yaitu memberi nafkah. Tidak boleh seorang suami menelantarkan keluarganya begitu saja, hal itu termasuk dosa besar. Suami harus bersemangat bekerja untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Nabi ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”
Seorang Istri juga memiliki kewajiban, seperti harus taat kepada suami selama bukan dalam hal maksiat. Rasulullah bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita menunaikan salat lima waktunya, berpuasa pada bulan (Ramadhan), menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’“[7]
Bahkan ketataan kepada suami di atas ketaatan kepada orang tua, ia merupakan hak terbesar setelah hak Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ؛ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” [8]
Di antara keawajiban istri adalah bersyukur dan berterimah kasih atas kebaikan-kebaikan suami. Rasulullah bersabda:
فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِن سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ العَشِيرَ
“Sesungguhnya kebanyakan dari kalian adalah kayu bakar neraka Jahannam.” Lalu seorang wanita bangkit dari tengah-tengah para wanita, yang kedua pipinya kehitam-hitaman, dan berkata: ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.'” [9]
Apabila masing-masing pihak melaksanakan kewajibannya maka rumah tangga akan bahagia
- Saling Membantu Dan Melengkapi
Sebuah nikmat besar ketika memiliki pasangan yang bisa membantu kita untuk taat kepada Allah. Karenanya ketika Rasulullah ditanya tentang harta yang paling baik, beliau bersabda:
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan istri yang beriman yang membantunya dalam urusan akhirat.” [10]
Keluarga akan Samawa apabila suami istri saling bahu membahu dan melengkapi. Abu Darda’ berkata:
إِذَا غَضِبْتُ فَرَضِّينِي، وَإِذَا غَضِبْتِ رَضَّيْتُكِ، فَإِذَا لَمْ نَكُنْ هَكَذَا، مَا أَسْرَعَ مَا نَفْتَرِقُ
“Jika aku marah, maka redakanlah kemarahanku, dan jika engkau marah, aku akan meredakan kemarahanmu. Jika kita tidak seperti ini, betapa cepatnya kita akan berpisah.” [11]
Dahulu, para istri ulama salaf ketika melepas suaminya bekerja selalu mengingatkan, “Hati-hati dari pekerjaan yang haram. Mendingan kita kelaparan daripada makan harta yang haram. Kita sabar menahan lapar tapi kita tidak akan kuat menahan panasnya api neraka.”
Begitu juga dengan istri, alangkah bahagianya seorang wanita yang bersuamikan laki-laki yang bisa membimbing dan membantunya dalam ketaatan. Keduanya harus saling membantu dalam ketaatan dan saling melengkapi, makanya dalam Islam, suami istri itu diperumpamakan seperti pakaian.
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Kenapa Allah perumpamakan dengan pakaian? Karena pakaian memiliki tiga fungsi:
- Pertama, melindungi dari panas dan dingin, dan yang lebih penting adalah melindungi dari api neraka.
- Kedua, menutupi kekurangan dan aib tubuh seperti panu atau bisul, maka kita harus menutupi aib dan kekurangan pasangan kita, bukan malah membongkarnya.
- Ketiga, sebagai keindahan. Seganteng apa pun seseorang, jika belum menikah, ia belum memiliki perhiasan terindah di dunia.
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) yang salehah.” [12]
- Sabar
Kehidupan rumah tangga tidak selamanya lurus dan mulus, disana ada liku-liku yang harus dilewati. Tidak selalu betabur bunga semerbak mewangi, disana juga ada duri-duri yang bisa membuat luka. Tidak ada rumah tangga yang sempurna, semua pasti memiliki kekurangan, karena suami dan istri keduanya adalah manusia. Rasulullah bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam berdosa dan sebaik-baik mereka yang berdosa adalah mereka yang mau bertaubat.” [13]
Oleh karena itu, sabar merupakan kunci penting dalam rumah tangga. Terutama bagi para suami yang merupakan kepala keluarga. Dulu sebagian ulama berkata:
الصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الأَوْلِيَاءُ
“Bersabar terhadap ucapan (lidah) wanita adalah salah satu ujian yang dihadapi oleh orang-orang yang saleh.” [14]
Mu’awiyah berkata:
إنهنَّ يَغْلِبْنَ الْكِرَامَ وَيَغْلِبُهُنَّ اللِّئَامُ
“Mereka (wanita) mengalahkan orang-orang yang mulia, dan mereka dikalahkan oleh orang-orang yang hina (suami-suami yang jahat).” [15]
- Akhlak yang baik
Rasulullah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” [16]
Rasulullah menjadikan standar baiknya seseorang adalah akhlak baiknya kepada keluarga. Hal ini dikarenakan akhlak kepada keluarga tidak bisa berpura-pura, pasti yang keluar adalah watak asli. Berbeda dengan akhlak kepada orang lain, bisa didramatisir karena pertemuan dengan mereka hanya sebentar.
- Do’a
Do’a adalah kunci semua kebaikan dunia dan akhirat. Meminta agar Allah memberikan Sawama kepada rumah tangga kita. Sebanyak apapun ilmu dan teori kehidupan rumah tangga yang kita pelajari, apabila tidak mendapat kemudahan dan taufik dari Allah maka rumah tangga tetap tidak akan bahagia. Karena itulah, di antara do’a Ibadurrahman adalah meminta kebaikan keluarga:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Furqan: 74)
________________________________________
[1] HR. Muslim: 1478, Ahmad: 14515
[2] HR. Bukhari: 6280, Muslim: 2409
[3] HR. Bukhari: 5090, Muslim: 1466
[4] HR. Tirmidzi: 1085
[5] HR. Muslim: 2999
[6] HR. Ibnu Majah: 224
[7] HR. Ahmad: 1661
[8] HR. Tirmidzi: 1159
[9] HR. Bukhari: 961, Muslim: 885
[10] Shahih Al-Jami’: 5355
[11] Ibnu Hibban dalam Raudhah Al-Uqala’: 72
[12] HR. Muslim: 1467
[13] HR. Tirmidzi: 2499
[14] Ihya Ulum Ad-Din: 2/38
[15] Jamharah Al-Amtsal oleh Al-Askari: 2/145
[16] HR. Tirmidzi: 1977
Semoga bermanfaat
Follow fanpage maribaraja KLIK
Instagram @maribarajacom





Yuk Gabung !