Tujuan Belajar Adalah Menjadi Hamba Yang Bersyukur

Diantara sekian banyak tujuan mulia dalam belajar adalah untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur. Keberadaan sang Pencipta ditetapkan oleh dalil hissi, fitrah dan akal. Oleh karenanya, untuk mengetahui ada Tuhan tidak perlu menjadi ulama. Al-Ashma’i pernah bertanya kepada seorang badui: “Dengan apa engkau mengenal Tuhanmu?” Maka ia menjawab:

الْبَعْرَةُ تَدُلُّ عَلَى الْبَعِيْرِ، وَآثَارُ الْأَقْدَامِ عَلَى الْمَسِيْرِ، فَسَمَاءٌ ذَاتُ أَبْرَاجٍ وَأَرْضٌ ذَاتُ فِجَاجٍ أَلَا تَدُلُّ عَلَى اللَّطِيْفِ الْخَبِيْرِ؟

Kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan, maka langit yang penuh gugusan bintang dan bumi yang memiliki jalan-jalan yang luas, bukankah itu semua menunjukkan (adanya Dzat yang) Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?[1]

Namun untuk mengenal nama, sifat dan hak-Nya, dan bagaimana cara mengabdi dan berterima kasih kepada tuhan tersebut, dst, itulah yang kita perlu pelajari dengan cara membaca dan mempelajari Kitab yang Dia turunkan dan mengikuti para utusan-Nya.

Tauhid Rububiyah Melazimkan Tauhid Uluhiyah

Menetapkan adanya Tuhan (tauhid Rububiyah) melazimkan untuk mengabdi dan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Tuhan tersebut (tauhid Uluhiyah). Oleh sebab itulah, di dalam Al-Qur’an bayak ayat yang menunjukkan hubungan kelaziman ini. Di antaranya Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ، الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Ibnu Al-‘Utsaimin menjelaskan  bahwa dari ayat yang mulia ini kita bisa memahami bagaimana eratnya kaitan antara tauhid rububiyah dengan tauhid uluhiyah. Dengan kata lain tauhid Rububiyah melazimkan Uluhiyah Disini Allah menyebutkan beberapa dalil aqli yaitu:
1. Penciptaan manusia
2. Menjadikan bumi sebagai hamparan
3. Langit sebagai atap
4. Menurunkan hujan
5. Mengeluarkan tumbuh-tumbuhan

Semua ini adalah dalil akal yang menunjukkan bahwa dzat yang melakukan semua ini seharusnya yang berhak untuk disembah. Oleh karena itu, Allah berfirman

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah maha Esa). ” (QS. Al Baqarah: 22) (Lihat: Al-Qaulul Mufid: 2/208, I’anatul Mustafid: 2/216)

Oleh karena itulah Imam Ibnu Katsir menegaskan:

اَلْخَالِقُ لِهَذِهِ الْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ

“Pencipta dari segala sesuatu ini adalah (satu-satunya) yang berhak untuk disembah.” (Tafsir Ibn Katsir)

Artinya seseorang tidak cukup hanya mengakui Allah saja sebagai Pencipta alam semesta, tetapi hendaknya keyakinan dan pengakuannya bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan alam semesta menjadikannya hanya beribadah kepada Allah saja.

Syukur Adalah Ibadah Yang Agung

Bersyukur kepada Allah adalah ibadah yang sangat agung. Karena dari syukurlah akan lahir ibadah-ibadah lain seperti mentauhidkan Allah, shalat, berdoa, dll. Oleh karenanya, tujuan utama dari makar iblis adalah membuat manusia menjadi hamba yang tidak pandai bersyukur. Bahkan tujuan ini langsung ia nyatakan di hadapan Allah saat ia dilaknat dan diusir dari surga. Allah berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Ketika seorang tidak pandai besyukur maka ia tidak akan mengabdi kepada Allah padahal ia mengetahui bahwa Allah yang menciptakannya. Sehingga terjatuhlah ia kepada dosa yang paling besar. Nabi pernah ditanya:

أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“Dosa apakah yang paling besar? Beliau (Nabi ) bersabda: ‘Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakanmu’.” (HR. Bukhari: 4477, Muslim: 86)

Oleh sebab itu, sifat penduduk neraka adalah mereka yang diberi nikmat namun tidak menggunakannya untuk bersyukur kepada sang Pemberi. Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh, Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 179)

Manusia yang tidak pandai bersyukur lebih buruk dari binatang adalah kenyataan yang bisa dipahami dan disaksikan.

Ada seekor anjing di Tokyo, Jepang yang bernama Hachiko. Anjing yang menjadi lambang kesetiaan. Kisahnya dimulai pada tahun 1923 ketika Hachikō dipelihara oleh Hidesaburō Ueno, seorang profesor di University of Tokyo. Setiap hari, Hachikō mengantar tuannya ke Stasiun Shibuya Station pada pagi hari dan kembali menjemputnya pada sore hari.

Pada tahun 1925, Profesor Ueno meninggal dunia secara mendadak saat bekerja dan tidak pernah kembali ke stasiun. Namun, Hachikō tetap datang ke Stasiun Shibuya setiap hari pada waktu yang sama selama sekitar 9 tahun, menunggu tuannya pulang meskipun ia tidak pernah kembali.

Lihatlah, prilaku hewan itu yang mengalahkan mayoritas manusia yang tidak pandai berterima kasih (bersyukur)

Belajar untuk Bersyukur

Banyak tujuan dalam belajar. Namun jangan lupakan salah satu tujuan mendasar yaitu menjadi hamba yang bersyukur. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:

‏اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى النَّاسِ صَدُّهُمْ عَنِ العِلْمِ ، لِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ ؛ فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيْحَهُمْ خَبَطَهُمْ فِي الظَلَامِ كَيْفَ شَاءَ

“Ketahuilah, bahwa talbis Iblis yang pertama kepada umat manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu agama. Karena ilmu itu adalah cahaya. Sehingga apabila ia telah dapat memadamkan lampu-lampu mereka maka ia akan dengan mudah membanting mereka ke dalam kegelapan sekehendaknya.” (Talbisu Iblis: 309, Cet. Darul Kutub Ilmiah, Beirut)

Maka kalau kita kaitkan ucapan beliau ini dengan QS. Al-A’raf: 16-17 tentang misi Iblis menjadikan manusia tidak pandai bersyukur, jelaslah bahwa belajar itu tujuan utamanya membuat seorang pandai bersyukur. Karenanya, iblis akan berusaha menghalangi manusia dari belajar.

Bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada makhluk yang telah memberikan kebaikan. Allah mengaitkan perintah mengingatnya dengan perintah bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Bersyukur kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya dan paling utama adalah bertauhid dan meninggalkan syirik. Nabi ﷺ bersabda:

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا 

“Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka hanya beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. Bukhari: 2856, Muslim: 30)

Bersyukur kepada makhluk-Nya juga bagian dari bersyukur kepada Allah. Karena Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, seorang yang tidak beryukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud: 4811)

Dan lebih dari itu, kita pun diperintahkan untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa. Bahkan, jika seandainya kita tidak sanggup untuk membalasnya dengan sesuatu yang serupa maka balaslah dengan do’a. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka do’akanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. Abu Dawud: 1672)

Maka manusia yang paling utama mendapatkan terima kasih kita adalah: Rasulullah, Para sahabat dan para ulama, Orang tua, Guru-guru kita

Belajarlah dengan tujuan untuk memperbaiki akidah, ibadah dan akhlak kita. Akhlak kepada Allah, kepada Rasulullah, orang tua dan guru-guru kita, serta lingkungan (hewan dan tumbuhan). Belajar untuk menjadi manusia yang shalih dan mushlih.

[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/62615/%D8%A8%D9%85-%D8%B9%D8%B1%D9%81%D8%AA-%D8%B1%D8%A8%D9%83

Semoga bermanfaat

Zahir Al-Minangkabawi

Follow fanpage maribaraja KLIK

Instagram @maribarajacom

Zahir Al-Minangkabawi

Zahir al-Minangkabawi, berasal dari Minangkabau, kota Padang, Sumatera Barat. Pendiri dan pengasuh Maribaraja. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Padang, melanjutkan ke Takhasshus Ilmi persiapan Bahasa Arab 2 tahun kemudian pendidikan ilmu syar'i Ma'had Ali 4 tahun di Ponpes Al-Furqon Al-Islami Gresik, Jawa Timur, di bawah bimbingan al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc hafizhahullah. Kemudian melanjutkan ke Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Arab Saudi cabang Asia Tenggara (LIPIA Jakarta) Jurusan Syariah. Sekarang sebagai Mudir Tanfidz di KIAS Syathiby serta pengajar di Ma'had Imam Syathiby, Radio Rodja, Cileungsi Bogor, Jawa Barat.

Related Articles

Back to top button